Moderisasi Agama melalui Simbol-Simbol Islam

Sri Rahmawati
Sri Rahmawati
  •  
  •  
  •  

Oleh : Sri Rahmawati

(Aktivis Dakwah)


Yudian Wahyudi yang baru saja diangkat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial di kalangan publik yang menyarankan  sebaiknya Assalaamu’alaikum diganti dengan Salam Pancasila.

Wakil ketua umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon dan Mantan Sekretaris Kementrian BUMN, M Said Didu turut mengecam pernyataan Ketua BPIP. Mereka meminta BPIP dibubarkan “Lembaga ini memang layak dibubarkan, selain membuat kegaduhan nasional juga berpotensi menyelewengkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri”, kata Fadli.

“kata Ketua BPIP bahwa musuh besar Pancasila adalah agama, kata dia juga sebaiknya Assalaamu’alaikum diganti dengan salam Pancasila. Logika akal sehat dari 2 pernyataan tersebut, justru yang memusuhi agama adalah Pak Yudian/BPIP. Makin Jelas. #AssalamuAlaikumWrWbYudian”, cuit Said Didu.

Sebelumnya Yudian mengungkapkan usulan Salam Pancasila itu, karena dia melihat sejak reformasi kalimat salam, seperti selamat pagi digantikan dengan Assalamualaikum. “Kita sudah nyaman dengan selamat pagi karena itu salam nasional, tapi sejak reformasi diganti Assalamualaikum dimana-mana. Tidak peduli ada orang kristen, Hindu hajar saja dengan Assalamualaikum”, ungkapnya.

Tambahnya, salam ditempat umum harus menggunakan salam yang sudah disepakati secara nasional. “Ekstremnya sekarang kita salam setidaknya harus ada lima sesuai agama-agama. Ini masalah baru kalau begitu. Kini sudah ditemukan oleh Yudi Latif atau siapa dengan salam Pancasila, saya sependapat”, kata ketua badan pembinaan ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi dalam wawancara di detik.com beberapa waktu lalu.

Mengganti salam dalam Islam adalah langkah jahat untuk menghapus simbol –simbol Islam. Selain itu upaya BPIP mereduksi salam  sama saja hendak menjauhkan umat Islam dari Al-Qur’an  maupun sunnah Rasulullah. Akibat mengadopsi paham sekulerisme  kecenderung mempertentangkan agama dan pancasila  seolah menjadi hal yang wajar baginya sebab memang dasar prinsip sekulerisme  adalah pemisahan agama dari kehidupan.

Selain itu pernyataan semacam ini menegasikan  peran Rasulullah. Pasalnya mengucapkan salam termasuk bagian dari ibadah yang di contohkan tata caranya oleh baginda Nabi SAW sendiri. Dalam sebuah hadits  riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa beberapa sahabat  pernah memberi salam kepada Rasulullah dengan ucapan : ” Alaika as-salaam ya Rasulullah” sampai tiga kali mendengar itu, Rasulullah meluruskan salam mereka : ” Jangan kalian berkata seperti itu sesungguhnya  ‘alaika as-salaam itu adalah salam kepada orang mati”

Meskipun salam itu sama-sama  baik,  tetapi setiap redaksinya berbeda. Inilah salah satu keunikan ajaran Islam yang memiliki ” uswah hasanah” (suri tauladan dan lengkap) sampai hal yang sekecil-k ecilnya mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, umat islam memiliki panduan berperilaku yang dicontohkan oleh  Nabi Muhammad SAW.

Selama ini tradisi salam Islam sudah begitu membudaya di berbagai lingkungan masyarakat baik lingkungan kenegaraaan, pendidikan maupun masyarakat pun tidak ada masalah dengan menguatnya tradisi salam Islam di tengah-tengah masyarakat. Karenanya cukup aneh tiba-tiba muncul gagasan “Salam Pancasila”. Sebagai seorang muslim dan juga pakar studi Islam, sepatutnya kepala BPIP justru harus mempromosikan salam  Islam , sebab Islam adalah agama yang universal. Dimana Rasulullah diutus untuk seluruh manusia . Selain bernilai ibadah, salam Islam adalah identitas  kaum  muslimin  dimana pun berada. Bukan berusaha mengaburkannya.

Mengganti Assalamu’alaikum menjadi salam Pancasila merupakan bagian dari moderasi ajaran Islam dan merupakan solusi jalan tengah (wasathiah). Olehnya itu muncullah pembicaraan dan pembahasan dikalangan para Ulama,  pemikir dan politisi pemimpin partai yang mencoba menonjolkan citra Islam sebagai agama kompromi dan Toleransi serta mengatakan Islam sebagai agama yang tidak mengenal ekstrimisme tetapi agama yang moderat (moderasi ajaran Islam)

Berbicara  moderasi Islam  tidak terlepas dari pembahasan wasathiah yang berdalil atas hal itu (kompromi dan toleransi)  dengan ayat-ayat dan hadits-hadits  yang menunjukan  toleransi dan moderasi Islam. Dimana dalil yang paling utama adalah firman Allah : ” Dan demikianlah kami telah menjadikan kalian umatan wasathan agar kalian menjadi saksi atas manusia dan agar Rasulullah  menjadi saksi atas kalian”.(Al-baqarah : 143).

Oleh karena itu untuk menyebarluaskan ide tersebut maka diadakan konferensi-konferensi, seminar-seminar, dan dialog-dialog yang disiarkan melalui media audio-visual dan cetak. Itu semua didukung oleh negara-negara yang tidak mengakui Islam kecuali sebagai Agama theokrasi yang tidak memiliki peran dalam kehidupan kecuali berkaitan dengan ritual ibadah saja.

Moderasi Islam muncul pada era modern setelah runtuhnya negara di awal abab ke 20 yang dimaksudkan kemoderatan merupakan istilah impor dalam hal lafadz dan maknanya, semua sumbernya adalah barat, khususnya Ideologi kapitalis.

Ideologi itulah yang dibangun di atas dasar aqidah dengan solusi jalan tengah, yaitu solusi yang muncul dari konflik berdarah antara gereja dan para raja yang mengikutinya dari satu sisi. Dan antara pemikir pilsuf barat disisi lainnya. Pihak pertama melihat agama kristen sebagai agama yang mampu memberikan solusi terhadap semua urusan kehidupan, kemudian pihak kedua melihat bahwa agama tidak mampu untuk itu dikarenakan kedzaliman dan keterbelakangan. Maka mereka pun mengingkari kemampuannya dengan menggantinya dengan akal dalam pandangan mereka yang tidak mampu menetapkan sebuah sistem yang dapat mengatur semua urusan kehidupan.

Setelah pertarungan sengit antara kedua belah pihak keduanya sepakat dengan solusi jalan tengah yang mengakui bahwa agama hanya mengatur hubungan manusia dan penciptanya dan sama sekali menafikkan peran tuhan dalam kehidupan. Selain itu, mereka juga menjadikan ide pemisahan agama dari kehidupan sebagai konsekuensi aqidah bagi ideologinya yang terpancar dari ideologi kapitalis dimana mereka bangkit dan kemudian mengembangkan pemahamannya kepada bangsa-bangsa lain melalui penjajahan.

Dan alih-alih kaum muslimin mengkritisi gagasan wasathiah atau solusi jalan tangah itu dan menunjukkan kesalahan dan kepalsuannya, mereka malah mengambilnya dan mulai mengklaim bahwa hal itu ada dalam Islam bahkan menurut mereka Islam didasarkan pada hal tersebut dimana Islam berada antara spritualisme dan materialisme, antara realisme dan idealisme maupun antara sikap berlebih-lebihan dan sikap lalai.

Ini merupakan upaya membelokkan arus umat ke arah yang sesuai dengan barat serta berkaitan dengan kelangsungan penjajahan pemikiran karena kaum muslimin sepanjang sejarah tidak mengenal wasathiah kecuali setelah mereka hilang, kalah dan terkoyak-koyak dalam bilahan Sycest-Picot dan diterapkan sistem kufur atas mereka.

Jelas bagi kita bahwa tidak ada wasathiah dan solusi jalan tengah dalam Islam serta apapun itu. Maka sebagai kaum muslimin dengan penuh semangat dan tekad serta semua kekuatan yang dimiliki wajib menolak gagasan barat tentang ekstrimisme, moderasi dan wasathiah serta semua pemikiran yang melecehkan aqidah dan agama. Dan juga wajib menolak dengan kuat campur tangan barat dalam urusan agama.

Kaum muslimin harus menyadari bahwa Islam sebagai diin sempurna hanya akan terwujud ketika ia di jadikan sebagai ideologi (aturan kehidupan), bukan sekedar agama yang mengatur aspek spiritual saja. Umat wajib bergerak untuk melakukan sebuah perubahan mendasar dan sempurna. Sesungguhnya hanya dengan menegakkan Islam sebagai sistem kehidupan bernegara maka In syaa Allah Islam akan senantiasa terjaga kemuriniannya.

                                                                                                                                                                                                                                                           و الله أعلم بالصواب

Editor : Rj | Puyblizher : Iksan

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co