Sikap Tanggap Pemerintah dalam penanganan Covid – 19

oleh
Asma Sulistiawati
Asma Sulistiawati

Oleh Asma Sulistiawati


Virus covid – 19 yang semakin merebak membuat kekhawatiran pun kian memuncak. Negara yang harus memiliki keamanan dan memiliki solusi terbaik disaat krisis wabah saati ni. Haruslah bertindak lebih sigap Karena Negara dengan orang-orang yang dimiliki, mempunyai peran melalui tugas dan fungsinya masing-masing untuk membuat keamanan dan keselamatan yang baik untuk rakyatnya.


Seperti penjabaran Bapak Presiden Joko Widodo kembali menegaskan pemerintah bersama berbagai pihak terus bekerja keras menanggulangi pandemi virus korona (covid-19). Presiden juga menegaskan keselamatan rakyat menjadi prioritas utama dalam penanganan covid-19. Hal itu disampaikan Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman dalam pernyataan pers di Jakarta, Minggu (22/3). MEDIA INDONESIA (22 Maret 2020)

Namun asumsi yang di katakan tersebut hanyalah suatu mimpi belaka. Manakala kita cermati secara mendalam seluruh tindak tanduk pemerintah cenderung hanya melakukan penanganan biasa dalam menghadapi wabah ini.

Buktinya angka pasien yang positif terinfeksi virus corona atau Covid-19 di Tanah Air semakin bertambah. Hingga Jumat, (27/3/2020) pemerintah menyatakan ada 1.046 pasien positif Covid-19 di Indonesia.

Jadi wajarlah apabila lembaga think thank Australia, Lowy Institute, menyoroti cara pemerintahan Presiden Jokowi dalam menangani pandemi virus corona di Indonesia. Lembaga tersebut menganggap pemerintah Indonesia tidak siap dan kurang transparan dalam mengendalikan Covid-19 yang mulai merebak sejak awal Maret.CNNIndonesia (18 Maret 2020)

Pemerintah yang tidak melakukan lockdown dikarenakan mempertimbangkan berbagai akses ekonomi. Alhasil dari sikap lambat inilah yang menyebabkan pasien yang positif terus bertambah. Padahal jika saja dari awal pemerintah indonesia langsung memilih mengunci (lockdown). Pastilah tidak sebanyak ini masyarakat yang terinfeksi.

Tapi sayangnya, Indonesia hanya memilih model social distancing  dan kebijakan diam diri di rumah. Hal ini untuk meminimalisir masyarakat yang takut akan panic buying. Ini menunjukkan bahwa pemerintah lebih memikirkan untung rugi bisnis dibandingkan total perlindungan terhadap rakyat, sehingga apapun yang terjadi dianggap tidak urgen untuk segera diatasi selama bisnis untuk meraup banyak keuntungan bisa berjalan dengan baik.

Ketika materi yang menjadi tujuan utamanya, maka nyawa dan perlindungan hidup warga negara tidak begitu penting, dibanding upaya penyelamatan bisnis yang kadang telah berjalan separuh jalan, demi menyelamatkan “ekonomi negeri”. Inilah yang terjadi didalam negara yang menganut paham negara korporatokrasi.

Hal ini juga menunjukan jika sistem sekuler-kapitalis telah membentuk individu-individuegois yang hanya memikirkan kepentingan diri dan golongannya saja.

Pemerintah seharusnya melirik bagaimana Islam mengatasi wabah penyakit menular.Karena Islam memiliki seperangkat solusi dalam mengatasi wabah pandemi. Islam selalu menunjukan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap.

Dalam Islam, kesehatan dan keamanan disejajarkan dengan kebutuhan pangan. Ini menunjukan bahwa kesehatan dan keamanan statusnyasama sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Untuk mengatasi pandemi, tak mungkin bisa melepaskan diri dari performa kesehatan itu sendiri.

Umat Islam terdahulu mengembangkan ikhtiar baru mengatasi Pandemi, yakni vaksinasi.Cikal bakal vaksinasi itu dari dokter-dokter muslim zaman Khilafah Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis di jaman Abbasiyah. Sebagai muslim kita harus waspada dan optimis sekaligus. Karena setiap penyakit, Allah pasti juga menurunkan obatnya.

Wallahu ‘alamBisshawab


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart