Maraknya Islamofobia Di Tengah Pandemic

oleh

Oleh : Nurhayati, S.E

Saat ini di berbagai negara telah di landa pandemic Covid-19. Semenjak kemunculan pandemi tersebut, telah muncul berbagai masalah. Seperti tingginya kasus kematian akibat Covid-19, susahnya perekonomian akibat kebijakan lockdown dan permasalahan lainnya. Diantara banyak permasalahan di tengah pandemic Covid-19 ini, rupanya umat Islam di berbagai negeri menjadi korban tindakan diskriminasi dan kebencian warga non muslim. Hal ini disebabkan oleh oknum-oknum yang memanfaatkan keadaan untuk menyebarkan Islamofobia.

Dikutip dari laman REPUBLIK.CO.ID (11/4/2020), Kelompok-kelompok sayap kanan telah mengambil keuntungan dari ketakutan orang-orang terhadap pandemi covid-19 (virus corona), melalui teori konspirasi dan disinformasi dengan menjelek-jelekkan kaum Muslim, dan menyebarkan propaganda Islamofobia. Di Inggris, polisi kontraterorisme telah menyelidiki puluhan kelompok sayap kanan yang dituduh memicu insiden anti-Muslim selama beberapa pekan terakhir. Sementara di Amerika Serikat, situs website sayap kanan telah menyebarkan propaganda anti-Muslim secara daring. Mereka menyebarkan teori konspirasi palsu bahwa gereja-gereja di negara itu akan dipaksa untuk tutup selama pandemi, sementara masjid akan tetap terbuka untuk beribadah.

Peristiwa tersebut rupanya tidak hanya terjadi di negara Barat, namun di Asia juga yaitu di India. Para ekstrimis menyalahkan seluruh populasi Muslim di negara itu. Ekstrimis mengklaim muslim sengaja menyebarkan virus melalui “Corona-Jihad”. Dilansir dari Kumparan.Com (12/4/2020), Kelompok Hindu sayap kanan radikal menjadikan Muslim sebagai kambing hitam penyebaran virus corona. Terutama karena salah satu klaster penyebaran corona terjadi di markas Jamaah Tablig yang melanggar aturan berkumpul. Tidak sampai disitu saja, rupanya Islamofobia di India juga di embuskan oleh politikus negara itu. Tokoh senior partai berkuasa, Partai Bharatiya Janata Party, Mukhtar Abbas Naqvi, mengatakan tindakan Jemaah Tabligh itu “kejahatan Taliban”.

Selanjutnya, untuk melancarkan rencananya, para kelompok sayap kanan di India dan AS bahkan kompak menggunakan tanda pagar #coronajihad  untuk mendiskreditkan umat Islam. Mereka menuding Muslim sengaja menyebar corona untuk membunuh. Menurut lembaga HAM, Equality Labs, tagar ini telah digunakan 300 ribu kali antara 29 Maret dan 2 April. Kumparan.Com (12/4/2020)

Alhasil, dari tersebarnya berbagai rumor tersebut telah memakan korban. Salah satunya di India yang di beritakan News 18 India, seorang pria Muslim di negara bagian Himachal Pradesh bunuh diri setelah dikucilkan didesanya karena dituduh membawa corona. Padahal pria Muslim tersebut negatif virus. Dari peristiwa ini, membuktikan bahwa Islamofobia masih marak diberbagai negara.

Itulah Islamofobia, yang merupakan penyakit akut masyarakat sekuler yang mengkampayekan antidiskriminasi dan kesetaraan. Namun, antidiskriminasi dan kesetaraan yang digaungkan hanya menjadi penutup kebusukan paham sesat dan kebencian mereka kepada Islam. Hal ini nampak jelas dari fakta munculnya berbagai kasus Islamopfobia yang dilakukan oleh kelompok yang terorganisir bahkan menjadi bahan kampanye para politisi.

Dalam suasana pandemi seperti ini, seharusnya semua bekerja sama untuk keselamatan kehidupan selanjutnya, bukan memanfaatkan keadaan untuk menyebar kebencian dan propaganda. Namun karena masih rusaknya masyarakat akibat bercokolnya paham sekuler dan bebasnya kapitalisme barat memperkuat serta menyebarluaskan Islamofobia di media sosial, maka wabah ini menjadi susah untuk di hadapi sehingga akan tercipta kegagalan system dalam membangun keharmonisan masyarakat.

Menghadapi fenomena ini, maka kita membutuhkan solusi tuntas agar kasus-kasus di atas tidak terulang lagi. Tidak cukup jika penyelesaiannya hanya sebuah seruan tagar tandingan #StopCOVIDIslamphobia untuk melawan Islamofobia di tengah wabah. Kita memerlukan aturan tegas yang terbukti bisa menyelesaikan problematika umat di muka bumi.

Ialah Islam Rahmatan Lil Alamin, agama yang diturunkan oleh Allah sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya dan menjadi landasan aturan dalam segala aspek kehidupan. Dengan menerapkan Islam secara Kaafah dalam Daulah , maka kedamaian dan keharmonisan akan tercipta ditengah masyarakat. Hal ini telah tercatat dalam sejarah Islam, yaitu saat Rasulullah menjadi kepala negara, penduduknya saat itu majemuk. Ada umat Islam, Nasrani, Yahudi dan lainnya. Rasulullah melarang umat Islam bersikap buruk dan mengambil paksa hak-hak non-muslim. Islam sangat sempurna dalam mengatur masyarakatnya yang heterogen.

Dalam daulah , semua orang berhak memperoleh perlakuan yang sama, tidak boleh ada diskriminasi. Negara harus menjaga dan melindungi keyakinan, kehormatan dan harta bendanya.

Rasulullah ﷺ bersabda : “Barangsiapa membunuh seorang mu’ahid (kafir yang mendapatkan jaminan keamanan) tanpa alasan yang haq, maka ia tidak akan mencium wangi surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekali pun” (HR. Ahmad)

Inilah Islam, agama yang sempurna dalam mengatur perbedaan dalam sebuah negara. Dengan penerapan Islam secara Kaafah, maka seluruh negeri akan terbebas dari segala problematika yang selama ini melanda.

Waallahu a’lam bisshowab.

Editor : Rj | Publizher : Iksan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart