Isu Terorisme ‘Memphobiakan’ Islam

oleh

Oleh : Sulastri

(Pemerhati Ummat)


TELISIK.ID- empat warga Kabupaten Muna ditangkap Densus 88 Mabes Polri, senin(13/4/2020). Keempatnya diduga terlibat dalam jaringan teroris terkait kelompok anarko vandalisme yang sebelumnya diamankan di Tangerang

Terduga diamankan dibeberapa tempat berbeda yaitu, Di jalan Diponegoro, di jalan Laode Pulu dan di kawasan Kontu. Hingga saat ini, keempatnya masih menjalani pemeriksaan ketat di Polres Muna. Berdasarkan informasi didapati senjata api. Kapolres Muna AKBP Debby Asri Nugroho membenarkan, penangkapan keempat warga Muna itu. Hanya saja, ia tak membeberkan keterlibatan mereka.

Terorisme adalah tindakan yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan.

Gerakan terorisme di berbagai belahan dunia, khususnya di Asia Tenggara dan Indonesia, umumnya didasari karna faktor politik. Hal tersebut merupakan faktor terpenting dalam dunia Internasional. Hal tersebut juga terjadi karena adanya keinginan dalam mementingkan keinginannya sendiri dan ingin merebut alih kekuasaan dunia. Maka, teori konspirasilah yang akan berperan dengan mengadu domba mengatasnamakan teroris.

Tindakan terorisme ini tergolong dalam teori konspirasi, karena kasus terorisme direncanakan diam- diam oleh kelompok, orang, atau organisasi rahasia. Dimana pelaku sudah merencanakan terlebih dahulu tindakannya secara rahasia. Akibat yang ditimbulkan dari adanya gerakan terorisme ini yaitu banyaknya orang yang menjadi korban, kerusakan gedung, serta fasilitas umum, juga timbulnya saling curiga diantara agama yang satu dengan yang lainnya.

Namun Islam seringkali dilibatkan dalam masalah terorisme. Seringkali pula muncul berbagai aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam dan jihad fisabilillah. Hal ini akan disalahartikan dan bisa menjadikan islamaphobia di tengah masyarakat.

Dalam sistem hari ini, tak jarang label radikalisme, terorisme tersemat kepada orang-orang yang benar-benar menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jenggot dan cadar di permasalahkan, tapi rok mini di biarkan. Anak muda yang rajin pergi kajian dicurigai, tapi yang bergaul bebas tak dihiraukan. Begitu pula dengan orang-orang yang berjuang di jalan Allah untuk mengajak manusia kepada penegakkan syariat Islam tak luput dari incaran.

Inilah sistem kapitalisme, yang berupaya mempropagandakan Islam, mengkambinghitamkan Islam, dan berupaya untuk membuat penggikutnya jauh dari agama mereka sendiri. Ajaran-ajaran Islam kaffah, seakan menjadi ancaman bagi mereka (kaum muslim). Islam kaffah digambarkan seakan sesuatu yang teramat sadis.

Padahal patut disadari, Islam tidak pernah untuk mengajarkan umatnya untuk melakukan terorisme. Terorisme bukanlah bagian dari Islam dan bukan ajaran yang diserukan Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman:”Dan jika mereka condong kepada perdamaian,maka condonglah kepadanya.dan bertawakallah kepada Allah.sesungguhnya dialah yang maha mendengar lagi maha mengetahui”.(QS al-anfal:61)

Inilah bukti Islam mengajarkan kepada umatnya untuk melaksanakan perdamaian. Perdamaian adalah bagian dari tujuan Islam yang ingin diwujudkan di muka bumi. Islam rahmatan lilalamin,  bertujuan untuk memberikan keselamatan dan kemaslahatan untuk manusia di muka bumi.

Sebagai agama dan ideologi yang lengkap dan sempurna, Islam telah memberi solusi yang jelas dan tegas  terhadap tindakan ini. Terorisme merupakan tindakan teror, baik secara verbal maupun fisik sama-sama diharamkan oleh Islam. Nabi menyatakan,”siapa saja yang meneror orang Islam demi mendapatkan ridha penguasa, maka dia akan diseret pada hari kiamat bersamanya”. (as-suyuti,jami’al-masanid wa al-marasil) dan hadis nabi “siapa yang menghunus pedang terhadap seorang muslim maka benar-benar telah menumpahkan darahnya.”. Kedua hadis ini jelas telah mengharamkan tindakan teror.

Dalam Islam, setiap pelanggaran ada sanksinya. Sesuai dengan bentuk dan kadarnya. Jika tindakan teror yang dilakukannya menyebabkan hilangnya nyawa orang banyak, maka menurut Iam As-Syafii orang tersebut harus di bunuh dan dia di wajibkan membayar diyat kepada seluruh keluarga korban. Alasannya karna nyawa yang dia renggut lebih dari satu Jika diqishas,maka nyawanya hanya berlaku untuk satu korban. Sementara korban yang lain belum mendapat bagian. Karenanya dia wajib membayar diyat, agar devisit Qishas tersebut bisa ditutup.

Namun, jika tindakan teror yang dilakukan tidak sampai menyebablan hilangnya nyawa, tetapi hanya menimbulkan hilangnya anggota badan, maka Islam menetapkan diyat untuk masing- masingnya. Demikian juga terkait  dengan harta yang dirusak dan kehormatan wanita yang direnggut, semua ada balasannya. Semua ini telah dirinci dan bahas oleh para fuqaha. Pun banyak kita temukan rinciannya di dalam kitab fiqh mereka. Inilah ketentuan Islam terkait dengan teror  yang menghilangkan nyawa, harta dan kehormatan manusia.

Namun, ini semua dilakukan berdasarkan bukti. Tidak boleh ada sanksi apapun yang dijatuhkan kepada mereka hanya karena ‘diduga’. Sebab pengadilan Islam adalah al ashl bara’tu ad-zhimmah(asas praduga tak bersalah). Islam membolehkan adanya penangkapan. Jika ada indikasi kuat yang mengarah kepada pelaku agar bisa ditanya. Tetapi Islam mengharamkan penyiksaan, teror, dan sejenisnya terhadap orang yang di duga sebagai pelaku. Islam pun mengharamkan aktivotas spionase, termasuk penyadapan telefon, email dan sejenisnya.

Dengan cara seperti itu, negara akan bisa menyelesaikan masalah terorisme dari akar akarnya. Solusi yang dibangun berdasarkan fakta kejahatan yang memang benar-benar dilakukan oleh pelaku. Bukan sekedar dugaan. Apalagi rekayasa demi kepentingan politik penguasa dan majikannya. Wallahu A’allam Bisshawab.

Editor : Rj | Publizher : Iksan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart