Narkotika Menghantui di Tengah Pandemi

oleh

Oleh : Sartinah

Pegiat Opini, Member Akademi Menulis Kreatif


Narkotika tak pernah mati dari peredaran. Di saat negeri ini tengah berjibaku menghadapi pandemi Covid-19, bahaya lain mengintai di depan mata. Kini, bukan hanya wabah virus corona yang menjadi momok di tengah masyarakat, narkotika juga menyeruak bagai ‘hantu’ hingga menjadi ancaman serius yang harus diwaspadai penyebarannya.

Plt. Kabid Pemberantasan BNNP Sultra, Kompol Anwar Toro menuturkan, pihaknya telah berhasil mengamankan dan memusnahkan mapatampetamin/sabu jenis narkotika Gol.1 seberat 961,2 gram. Sabu tersebut merupakan barang bukti hasil pengungkapan jaringan peredaran gelap narkotika dalam wilayah Sultra. Barang tersebut berasal dari penangkapan tersangka, Rezha Mahesa Putra alias Rezha alias Ardi dan Sofan Syahrun. (TELISIK.ID, Kamis, 16/4/2020)

Semakin hari peredaran narkotika bukannya menurun, malah kian mengkhawatirkan. Data statistik menunjukkan tren peredaran gelap narkotika di Sultra mengalami peningkatan sejak tahun 2017-2019. Hal ini diungkapkan oleh Kepala BNNP Sultra, Brigjen Pol Imron Korry.

Menurutnya, untuk tahun 2017 ada  sebanyak 27 orang yang diamankan beserta barang bukti sabu seberat 492,40 gram, ganja 824,32 gram dan pil ekstasi 7 butir. Sementara untuk tahun 2018, jumlah tersangka sebanyak 36 orang dan barang bukti sabu seberat 3 kg lebih, ganja 810 gram dan tembakau gorila 1,59 gram. Sedangkan tahun 2019 kembali meningkat dengan jumlah tersangka 31 orang dan barang bukti sabu 11,1 kg dan ganja 16 gram.” (Kumparan, 26/12/2019)

Bahkan, berdasarkan hasil pemetaan BNNP Sultra, Kota Kendari dan Kabupaten Muna sudah masuk dalam kategori zona merah peredaran narkoba. Maraknya peredaran narkoba di Kota Kendari, ternyata sejalan dengan ungkapan bahwa Indonesia adalah surga bagi narkoba. Negeri ini terus menjadi sasaran empuk bandar narkoba untuk memasarkan barang haram tersebut. Sasarannya pun sudah mencakup semua kalangan dan profesi. Mulai usia anak-anak hingga dewasa.

Maka tak heran, terjadi hubungan simbiosis mutualisme antara penikmat dan pengedar narkoba. Permintaan yang terus meningkat membuat para pengedar tak kehabisan akal  untuk menyasar mangsanya. Alhasil, para pecandu narkoba terus memburu kenikmatan sesaat, hingga mereka lupa bahwa kenikmatan itu pasti berakhir petaka.

Para pengedar narkoba pun tak takut jeruji. Demi memperoleh keuntungan berlimpah  mereka rela menempuh jalur berbahaya,  bergelimang dalam dunia gelap narkoba. Tuntutan hidup yang kian berat kadang membuat mereka nekat melakukan segala cara demi memperoleh bongkahan materi. Tak heran, banyak orang gelap mata ketika berhadapan dengan iming-iming menggiurkan dari perdagangan narkoba.

Maraknya peredaran barang haram tersebut tak lepas dari diterapkannya sistem sekularisme di negeri ini. Kebebasan yang ditonjolkan dari sistem ini, meniscayakan banyak orang rela melakukan berbagai aktivitas tanpa peduli halal dan haram. Terlebih, hukuman yang dijatuhkan untuk para penjahat narkoba pun tak membuat jera. Bahkan banyak kasus menunjukkan bahwa mereka kembali jatuh ke dalam lubang yang sama setelah keluar dari penjara atau panti rehabilitasi.

Selain hukuman yang tidak membuat jera, tipisnya keimanan membuat seseorang tak lagi berpikir dua kali untuk terjun sebagai pelaku perdagangan narkoba. Ditambah lagi merebaknya gaya hidup hedonis, permisif, dan konsumtif yang telah menjadi budaya dan mengakar kuat di tengah masyarakat. Maka tak heran, selama kesejahteraan masih menjadi impian, sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan, plus sanksi yang diberikan tak membuat jera, selama itu pula narkoba akan tetap menjadi ‘hantu’ yang mengintai siapa saja.

Problem akut di masyarakat sekuler semacam narkotika bukan tak bisa diselesaikan. Hanya saja, perlu solusi menyeluruh untuk mengatasinya. Solusi itu hanya bisa ditemukan dalam sistem Islam. Tak ada yang tak mampu diselesaikan, jika Islam dijadikan sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Tak terkecuali masalah kejahatan narkoba. Islam memiliki seperangkat aturan yang meniscayakan segala kejahatan dapat diminimalisasi bahkan dihilangkan.

Islam mewajibkan ketakwaan pada setiap individu. Dengan bekal takwanya, seseorang akan memiliki filter untuk memilih perbuatan mana yang boleh dilakukan dan yang tidak. Masyarakat pun memiliki peranan penting dalam menjaga ketakwaan individu melalui aktivitas amar makruf nahi mungkar. Hal ini dilakukan sebagai wujud kepedulian terhadap saudaranya yang lain.

Tak kalah penting yakni adanya sanksi tegas dari negara. Sanksi yang diberikan pun sangat memenuhi unsur keadilan. Maka dalam Islam tidak ada istilah ‘hukum bisa dibeli’. Bagi yang bersalah harus dihukum, sementara bagi korban akan mendapat keadilan. Terakhir, pelaksanaan hukuman tersebut hendaknya disaksikan oleh khalayak ramai. Tujuannya, agar setiap orang menyadari bahwa hukuman tersebut merupakan sanksi bagi kejahatan yang dilakukan. Sementara bagi yang melihat akan berpikir seribu kali untuk melakukan kejahatan yang sama.

Syariat Islam adalah solusi terbaik untuk menyelesaikan problematika hidup manusia. Dengan kesempurnaannya, Islam mampu meminimalisasi berbagai aksi kejahatan di tengah masyarakat. Sebab, Islam datang sebagai rahmat, bukan membawa mudarat. Sehingga kerahmatan dan keberkahan di bawah naungan Islam niscaya bukan sekadar khayalan, tetapi benar-benar terwujud dalam kenyataan. Wallahu a’lam bishshawab

Editor : Rj PUblizher : Iksan

 

 

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart