Zakat VS Mitos

oleh

Oleh: Asman Budiman


Bulan ramadan adalah bulan yang penuh ampunan, di dalamnya banyak pahal yang akan kita dapatkan apabila mengerjakan hal yang baik. Di bulan ramadan ada dua amalan yang wajib kita laksanakan yaitu berpuasa dan melaksanakan Zakat Fitrah. Kedua amalan ini, adalah satu kesatuan yang tak bisa terpisahkan di bulan ramadan, ketika berpuasa di bulan ramadan maka wajib hukumnya untuk membayarkan zakat fitrah bagi umat muslim laki-laki maupun perempuan.

Zakat fitra merupakan rukun islam yang perlu kita kerjakan sebagi umat muslim. Zakat fitra yang mengandung arti sebagai kesucian, keberkahan, serta mensucikan menjadi hal yang penting dalam kehidupan umat muslim. Untuk membersikan sebagian harta yang dimilikinya, yang tentunya sudah mencukupi nazabnya. Ini kemudian sesuai dengan firman Allah Swt dalam Alquran surah At-Taubah ayat 103 yang memiliki arti sebagai “ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membershkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. Ayat ini menjelaskan bagaimana zakat fitrah kemudian menjadi pengsuci bagi harta-harta kaum muslimin, agar di dalam mengarungi bahtera kehidupan ini kita mendapatkan kedamaian serta keberkahan hidup di dunia.

Zakat menurut istilah adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah untuk di serahkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu. Di bulan ramadan ini zakat fitrah menjadi hal yang wajib dilaksanakan, berpuasa dan membayar zakat di bulan ramadan adalah kewajiban bagi setiap muslim, seperti yang di jelaskan alquran surah At-Taubah ayat 103. Zakat fitrah bisa di berupa dalam bentuk uang tunai maupun sembako (beras). Pandangan ini di dasrkan oleh Imam Mahzab. Tiga ulama mahzab Maliki, Syafi’i dan Hambali, menyatakan zakat fitrah harus diserahkan dalam bentuk makanan pokok. Hal ini sesuai hadis Nabi Saw “Rasullah mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum” (shahih Bukhari, No 1503 dan Shahih Muslim N0. 984). Sedangakan Hanafi membolehkan membayar zakat fitrah dalam bentuk uang.

Ada yang menarik dari prosesi pembayaran zakat fitrah ini. Untuk membayarkan zakat fitra tentunya ada petugas zakat yang akan mengumpulkan atau orang yang di percayakan oleh pemerintah maupun lembaga swasta non pemerintah itulah yang disebut dengan Amil zakat. Amil zakat adalah orang yang di percayakan menerima dan menyalurkan. Setiap muslim hendak menunaikan zakatnya yang kemudian akan disalurkan kembali kepada mustahik (penerima) yang berhak mendapatkannya.

Menariknya adalah ada kepercayaan di kalangan masyarakat awam yang mengkultuskan Amil zakat fitrah. Masyarakat tersebut tidak akan membayarkan zakatnya jika bukan kepada amil zakat yang yang sudah bertahun-tahun menjadi petugas zakat. Penulis sempat berbincang dengan beberapa Muzzaki (wajib zakat) dan menanyakan mengapa harus di tempat itu, sementara pemerintah tidak menunjuk beliau sebagai amil zakat karena beberap faktor.? Alasan yang menarik adalah mereka mengatakan bahwa mereka cocok dengan orang tersebut karena doa-doa yang di berikan mustajab dan baik untuk yang mereka. Yang uniknya lagi adalah prosesi penerimaan zakat dilakukan dengan membakar dupa serta tradisi-tradisi lain yang itu tidak ada tuntunan dari Nabi Saw. Menurut analisa sederhana penulis ini adalah kekeliriuan yang harus di diluruskan pemahaman mengenai pembayaran zakat fitrah. Ada beberapa syarat menjadi Amil zakat menurut syariat Islam yaitu harus beraga Islam, akil, baligh, jujur, punya ilmu dalam hukum zakat dan tentu orang yang harus kuat, baik jiwa maupun raga. Sederhananya adalah jika kriteria itu tidak terpenuhi maka, tidak wajib di jadikan sebagai amil zakat.

Olehnya itu pandangan penulis tidak ada pengkultusan kepada amil zakat, karena jika amil zakat yang kita inginkan itu sudah tua maka ia sudah gugur dalam syarat standar yaitu harus kuat sehat jiwa dan raga. Bahkan sebagian orang tidak mau membayarkan zakat apabila bukan pada orang yang mereka inginkan. Sehingga ayo bersama-sama kita berikan pelajaran serta pemahaman kepada masyarakat kita berkaitan dengan persoalan ini.

Wallahu’alam bishawab hanya Allah yang mengetahui perbuatan kita semua. Semoga kita mendapatkan berkah dari Allah Swt. Amiin

Billahi Fii Sabililhaq, Fastabiqul Khairat.


Editor : Rj | Publizher : Iksan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart