Kepemimpinan Islam : Tuntaskan Kelaparan Saat Di landa Wabah

oleh

Oleh : Ervina Nurfiani

(Mahasiswi dan Aktivis Dakwah Kampus)


Empat bulan sudah indonesia menghadapi pandemic covid-19 yang menjadi wabah  mendunia ini. Namun, hingga sampai saat ini tampaknya belum ada titik terang untuk solusi penyelesaian wabah ini. Malah semakin harinya bertambah banyak yang terpapar oleh virus ini. Akibatnya, bukan saja menggrogoti kesehatan masyarakat wabah ini juga membawa pengaruh besar terhadap kehidupan, bukan saja terhadap negara yang mengakibatkan terhambatnya sistem perekonomiannya, melainkan masyarakatnya pun juga ikut terhambat dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Lembaga dunia ( World Food Program ) mengatakan,  masyarakat dunia pun juga terancam menghadapi kelaparan besar-besaran dalam beberapa bulan lagi akibat dari resesi ekonomi yang dipicu pandemi COVID-19 ini, saat ini ada 135 juta orang menghadapi ancaman kelaparan. Proyeksi dari WFP menunjukkan jumlahnya bisa meningkat dua kali lipat menjadi 270 juta orang. Jumlah ini masih bisa bertambah karena ada sekitar 821 juta orang yang kurang makan. Sehingga, total warga dunia yang bisa mengalami bencana kelaparan bisa melebihi 1 miliar orang. (Tempo.Co 23/4/2020)
Kebijakan pemerintah indonesia pun dengan mengambil langkah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan menghimbau warga agar tetap tinggal dirumah masing-masing. Namun, langkah ini diberlakukan tapi tidak memberikan jaminan kebutuhan, sehingga membuat warga kesusahan dalam mencari kebutuhan sehari-harinya.
Dari para pedagang kecil hingga besar maupun para ojek online, semua mengeluh mengalami kesusahan. Bahkan, para pekerja kantoran pun sampai dirumahkan, sampai mengalami kebingungan dalam memenuhi kebutuhan.
Nampaknya, baru diprediksi akan terjadinya bencana kelaparan akibat dari wabah ini. Rupanya di Indonesia sendiri sudah banyak terjadi berbagai kasus. baik dari kasus kelaparan, kehilangan tempat tinggal, bahkan sampai rela menjual ginjalnya demi membayar hutang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Contoh saja Larry Oktavianus bapak 4 anak ini seorang warga di Klaten Jawa Tengah nekat menawarkan ginjalnya untuk dijual guna melunasi utang dan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, akibat kehilangan pekerjaan dampak dari virus corona yg mewabah. Larry Oktavianus jadi pemberitaan, setelah berjalan kaki menuju Semarang, dengan membawa karton di dada dengan tulisan yang menyatakan dirinya menjual ginjal untuk melunasi utang, biaya pendidikan, kesehatan, tempat tinggal dan kebutuhan makan (Kompas.tv 4/5/2020)
Lebih mirisnya lagi banyak terjadi kasus kelaparan. Bahkan, sampai merenggut korban jiwa. Seperti kasus kelaparan yang terjadi pada satu keluarga di Banten, seorang ibu empat anak yang bernama Yuli dinyatakan meninggal dunia. Ia diduga meninggal dunia di kediamannya akibat kelaparan karena tak makan selama 2 hari. (Tribunnews.com 21/4/2020)
 Bukan hanya itu saja, seorang penarik becak di temukan petugas pinsan di jalan Sudarsono kota Cirebon, di duga akibat korona namun ternyata akibat kelaparan sehingga membuatnya jatuh pinsan. Bahkan, di daerah Sumatra selatan ditemukan 2 saudara yang terlihat kurus kering dan berpakaian lusuh berada di sebuah rumah yang tak layak huni mengalami kelaparan hingga akhirnya ditemukan oleh petugas.
Dari beberapa fakta di atas dari banyaknya kasus yang terjadi, ini membuktikan bahwa kelaparan sudah menjadi hal biasa terjadi dinegeri ini. Bahkan, sampai merenggut nyawa sekalipun.  Akibat dari seorang pemimpin yang lahir dari sistem kapitalis, melahirkan sikap abai dan lepas tangan terhadap kebutuhan rakyatnya, bersimpati jikalau ada manfaatnya.
Nampaknya juga, para pemimpin hari ini sudah kehilangan akal dalam mengurusi rakyatnya , yang mana mereka disibukkan dengan kebijakan yang malah memberi keuntungan hanya pada para pengusaha, bukan lagi para warga. Sehingga, rakyat dari kebijakan yang ada tidak mendapatkan apa-apa. Padahal,  seorang pemimpin adalah bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya yaitu rakyatnya.
Begitulah jika hidup di kepemimpinan kapitalis ini, nyawa dianggap tak berharga lagi dibanding harta, rakyat dibuat sengsara dari aturan yang ada dan parahnya tidak dipenuhi kebutuhannya. Meskipun, dalam keadaan wabah sekalipun.
Berbanding terbalik dengan kepemimpinan islam, pemimpin yang dilahirkan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin atau khalifah dalam kepemimpinan islam bertanggung jawab atas segala kebutuhan utama masyarakatnya,  baik dari kebutuhan pangan, kesehatan maupun pendidikannya.
Saat wabah tidak adapun kepemimpinan islam menanggung segala kebutuhan rakyatnya,  apatah lagi saat terjadi wabah. Sebagaimna yang telah tercatat dalam sejarah islam, wabah juga pernah terjadi pada saat Khalifah Umar bin Khattab ra berkuasa. Saat itu, Khalifah Umar Bin Khattab ra langsung melakukan karantina wilayah sesuai sabda Rasulullah saw: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia.
 Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya” (HR. Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).
 Seluruh kebutuhan penduduk dijamin tanpa terkecuali. Sehingga, saat sedikit kemungkin terjadi kasus kelaparan,  apatah lagi sampai merenggut korban jiwa.
Begitulah sekiranya kepemimpinan islam, menjadi seorang pemimpin bukan karena mencari keuntungan, melainkan menjalankan amanah sebaik-baiknya,  karena kelak Allah akan memintai pertanggung jawaban di yaumul hisap.

Beginilah Sistem kepemimpinan yang shohih, menjadikan syariat Allah satu-satunya aturan. Melahirkan sosok pemimpinin yang bertakwa dan ikhlas dalam mengurusi rakyatnya. Namun,  Sosok pemimpin  seperti Umar Bin Khattab hanya akan di dapatkan dalam sistem kepemimpinan islam..  Sehingga sangat tidak mungkin jika ada dalam sistem saat ini. karena  pemimpin yg lahir dari sistem islam takut akan kekuasaan karena kelak akan dimintai pertanggung jawaban, beda halnya dengan pemimpin saat ini yg lahir dari sistem kapitalis demokrasi yang rusak, cinta dunia dan haus akan kekuasaan. Wallahu a’lam bis-shawab.


Editor : Rj | Publizher : Iksan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart