Merawat Spirit Taqwa Kembali Fitrah

oleh

Oleh: Wulan Amalia Putri, SST

(Pekerja Sosial di Kolaka)


Idul Fitri tahun ini dirayakan dengan cara yang berbeda karena Indonesia sedang menghadapi situasi pandemi Covid-19. Jika biasanya lebaran identik dengan mudik, baju baru dan silaturahmi keluarga besar, tahun ini dicukupkan dengan silaturahmi virtual via Online. “Hari Raya Idul Fitri ini kita rayakan dengan cara yang berbeda, karena menuntut pengorbanan kita skema untuk tidak mudik dan tidak dapat bersilaturahmi seperti biasanya,” ucap Presiden Jokowi dalam keterangannya, Sabtu (kumparan.com,23/5).

Senada dengan Presiden, Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam Sambutan beliau di Avara Takbir Virtual Nasional dan Pesan Idul Fitri di Masjid Istiqlal mengingatkan agar umat muslim merayakan hari kemenangan dengan berpegang pada protokol kesehatan. “Idul Fitri kali ini kita rayakan dalam suasana pandemi. Mari kita rayakan dengan tetap memegang teguh aturan-aturan kesehatan,”ujar Ma’ruf dalam sambutannya. (tempo.co,23/5).

 Wakil Presiden juga mengingatkan kaum muslimin untuk menjadikan momen Idul Fitri sebagai momen untuk memperkuat iman dan takwa. Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini menyampaikan bahwa umat yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT akan diberi ganjaran berupa keberkahan. Wakil presiden juga mengatakan bahwa keimanan dan ketakwaan akan mewujudkan janji Allah SWT mengenai kesuburan, kemakmuran, keamanan, keselamatan dan dihilangkan dari berbagai kesulitan. Karena itu, ia meminta agak kaum muslimin dapat lebih bersabar dalam menghadapi wabah Corona. Ia yakin bahwa Indonesia akan menang melawan virus Corona, tentunya dengan keimanan dan ketakwaan.

Kondisi Menyedihkan

Hari Raya yang dilakukan cara virtual pastinya merupakan hal baru. Tak pernah dibayangkan oleh siapapun tentang adanya hari Raya tanpa ShalatId di lapangan terbuka. Seperti halnya mal yang ramai dikunjungi, hati umat muslim tentu rindu memasuki masjid-masjid yang sejuk.

Sebagaimana ditayangkan banyak media mengenai banyaknya kerumunan yang tercipta di tempat-tempat umum. Seolah mengabaikan protokol kesehatan, masyarakat berkerumun dan berdesak-desakan. Mal Roxy Square Jember bahkan sempat viral di media sosial akibat banyaknya masyarakat yang mengunjunginya. Demikian pula Pasar Anyar Bogor yang ramai hingga Bima Arya pun ikut disidak. Mal CBD Cileduk bahkan membuat macet hingga akhirnya ditutup. Serta masih banyak lagi pusat perbelanjaan dan pasar yang ramai tak sepi. Keinginan untuk membeli baju lebaran baru, sepatu baru, perhiasan baru atau perak-pernik lainnya seolah mengalahkan rasa takut akan cepatnya penularan virus corona.

Situasi ini tentu menyedihkan bagi siapapun. Beberapa waktu lalu, Anggota Komisi Agama DPR RI John Kennedy Azis mengkritik pemerintah atas ketidaktegasan PSBB. Ia meminta agar pemerintah bisa segera mengatasi hal tersebut. Sebab rasanya tidak adil, saat masjid ditutup, justru mal dibuka (cnn,12/5).

Namun tampaknya, kondisi pandemi yang memprihatinkan ini akan terus berlangsung. Menurut Epidemiolog Universitas Padjajaran,   FortunaHadisoemarto, pandemi ini bisa saja baru bisa diatasi setelah tiga tahun. Jika hal ini terjadi, tentu catatan panjang penanganan corona akan terjadi. Daftar korban pun mungkin akan semakin bertambah. Apalagi saat masa PSBB masih berlaku, masyarakat sering abai pada dan tidak peduli pada protokol kesehatan. Di satu sisi setiap hari harus ada penambahan pasien, di sisi lain masyarakat tidak patuh.

Memasuki hari-hari pasca lebaran, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan baru mengenai New Normal Life, yakni sebuah tatanan hidup baru secara normal di masa pandemi. Pro dan kontra terus bergulir menanggapi kebijakan ini mengingat terus melonjaknya kasus covid sebagaimana yang dirilis media.

Masyarakat mengkhawatirkan munculnya pandemi gelombang kedua dengan adanya tatanan kehidupan baru yang memungkinkan masyarakat untuk kembali beraktivitas sehari-hari meskipun dengan protokol kesehatan yang harus tetap dilakukan. Anak sekolah pun juga kembali memasuki masa belajar secara normal. Sehingga, banyak hal yang mengganggu pikiran masyarakat dan menimbulkan banyak rasa was-was.

Memaknai Takwa Dalam Islam

Ketakwaan adalah hal yang penting dalam Islam. Begitu pentingnya takwa sehingga kata ini disebutkan sebanyak 240 lafaz dasar dan musytaq atau turunan. Ketakwaan juga adalah modal besar dalam mengarungi bahtera kehidupan baik kehidupan individu, masyarakat bahkan negara. Para sahabat, fuqaha dan salafusshalih juga terus mendalami makna takwa, ciri-ciri pemiliknya dan balasan bagi orang-orang yang bertakwa.

Adalah Khalifah Ali bin Abi Thalib ra, yang telah mengatakan, “Taqwa yaitu rasa takut pada Al Jalil (yang Maha Agung, yaitu Allah), beramal dengan at Tanzil (yaitu Syariat yang “Allah turunkan, qona’ah (dengan yang sedikit) dan bersiap untuk hari kepergian (setelah mati).” Dengan melihat definisi ini, maka menghadirkan ketakwaan dalam kehidupan adalah sangat penting. Namun, takwa saja tidak cukup jika hanya dimaknai dengan makna yang sempit atau bahwa Takwa adalah tugas individu. Disinilah pentingnya untuk memaknai takwa yang harus diterapkan dalam kehidupan publik.

Takwa tidak boleh dimiliki hanya oleh individu, atau hanya masyarakat atau hanya negara (pemerintah). Kehidupan yang baik mengharuskan kolaborasi ketakwaan antara 3 unsur ini.  Pertama, ketakwaan individu. Individu yang bertakwa akan mampu memilih aktivitas yang baik dan benar. Dengan hal ini, maka individu akan senantiasa menyelaraskan perbuatannya dengan aturan Allah SWT karena takut akan dosa dan murka Allah. Dalam masa pandemi, individu yang bertakwa akan menjauhkan diri dari aktivitas yang bisa membahayakan dirinya dan orang lain. Dia akan memilih untuk berdiam di rumah dan menerapkan protokol kesehatan dalam kesehariannya agar dapat terhindar dari infeksi virus corona. Selanjutnya, sebagai anggota masyarakat dia akan menghindari perbuatan menyebarkan hoaks atau semacamnya yang bisa meresahkan masyarakat. Pada intinya, individu yang bertakwa akan selalu melakukan perbuatan yang distandarkan pada halal dan haram.

Kedua, masyarakat yang bertakwa. Adanya ketakwaan individu saja tidak akan cukup, sebab individu hidup dalam sebuah komunitas masyarakat. Disinilah pentingnya ada ketakwaan masyarakat. Bukti konkret dari hal ini adalah terbentuknya kontrol masyarakat atau kepedulian kepada sesama. Utamanya adalah kepedulian pada terlaksana atau tidaknya hukum syara’ dalam kehidupan bermasyarakat. Jika ada anggota masyarakat yang melakukan perbuatan melanggar Syariah, maka anggota masyarakat lain akan mengingatkan sebagai wujud amar ma’rufnahyimunkar.

Ketiga, ketakwaan negara. Ketakwaan negara adalah mahkota dari dua ketakwaan sebelumnya, yakni ketakwaan individu dan ketakwaan masyarakat. Sebab, negara adalah pihak yang memayungi kedua unsur ini. Ketakwaan individu dan ketakwaan masyarakat bisa saja luntur sewaktu-waktu. Maka ketakwaan negara adalah bentengnya. Ketakwaan negara ini akan terwujud dengan dipelukanyaaqidah dan dijalankannya aturan.

Dengan terwujudnya ketiga ketakwaan ini akan mempengaruhi arah pandang kehidupan manusia. Karena itu sangat penting untuk membenahi makna takwa sebagai solusi bagi bangsa, terutama dalam kondisi pandemi Covid-19. Sebab, keyakinan  bahwa ketaatan pada perintah Allah adalah sumber kesejahteraan yang bermuara pada kebahagiaan. Wallahua’lamBishawwab.

Editor : Rj : Publizher : Iksan

 

 

 

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart