New Normal Tanpa Kesiapan Masyarakat dan Sains, Yakin Bisa?

oleh

Oleh : Teti Ummu Alif

(Member WCWH Community)


Dalam berbagai kesempatan sejak beberapa pekan terakhir, Presiden meminta masyarakat memulai kehidupan baru atau new normal berdampingan dengan COVID-19 karena sampai sekarang vaksinnya belum juga ditemukan. Pada Kamis (7/5/2020) lalu, misalnya, beliau mengatakan: “Kita harus hidup berdamai dengan COVID-19.” Kebijakan tersebut siap diterapkan di empat provinsi dan 25 kabupaten/kota pada 1 Juni 2020.

Minim Kesiapan Masyarakat dan Sains

Indonesia menjadi salah satu negara yang hendak melakukan skenario new normal atau normal baru mengikuti jejak Vietnam, Jerman, Jepang dan Selandia Baru. New normal adalah skenario untuk mempercepat penanganan COVID-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Namun banyak pihak yang menilai kebijakan tersebut terkesan prematur dan dipaksakan. Pasalnya, penerapan new normal dilakukan ketika kasus virus corona covid-19 di Tanah Air masih tinggi. Epidemiolog FKM Universitas Hasanuddin Ridwan Amiruddin pada 28/05/2020 menjelaskan, setiap negara pasti akan memikirkan dua hal, yakni bagaimana menangani covid-19 dan bagaimana roda perekonomian tetap berjalan. Diandaikan sebagai piramida, sebuah negara akan menyelesaikan masalah keamanan dan kesehatan publik, lalu ketika pandeminya sudah dapat dikendalikan, barulah masuk ke ekonomi. Kalau melihat dari piramida itu, Indonesia justru langsung lompat ke tahap kedua yakni memikirkan menjalankan roda perekonomian meski pandemi covid-19 belum selesai. Padahal WHO sudah mengingatkan, setiap negara yang hendak melakukan transisi, pelonggaran pembatasan, dan skenario new normal harus memperhatikan hal-hal berikut ini:

  1. Bukti yang menunjukkan bahwa transmisi COVID-19 dapat dikendalikan.
  2. Kapasitas sistem kesehatan dan kesehatan masyarakat termasuk rumah sakit tersedia untuk mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak, dan mengkarantina.
  3. Risiko virus corona diminimalkan dalam pengaturan kerentanan tinggi , terutama di panti jompo, fasilitas kesehatan mental, dan orang-orang yang tinggal di tempat-tempat ramai.
  4. Langkah-langkah pencegahan di tempat kerja ditetapkan – dengan jarak fisik, fasilitas mencuci tangan, dan kebersihan pernapasan.
  5. Risiko kasus impor dapat dikelola.
  6. Masyarakat memiliki suara dan dilibatkan dalam kehidupan new normal.

Jika dicermati dari 6 syarat diatas maka Indonesia sesungguhnya belum bisa menerapkan new normal seperti negara lain yang sudah berhasil memenangkan pertarungan melawan virus Corona. Sementara itu penanganan covid-19 di dalam negeri belum menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Olehnya pemerintah hendaknya tidak tergesa-gesa menyusun persiapan menuju new normal. Diperlukan kajian yang mendalam, melibatkan para pakar dan akademisi, serta tenaga kesehatan dalam merencanakan dan melaksanakan kebijakan di masa pandemi ini agar tak menimbulkan kebingungan publik yang acap kali menambah kekisruhan. Terlebih sampai saat ini pemerintah belum memastikan bahwa masyarakat menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, dengan kata lain saat ini tidak ada yang menjamin keamanan kesehatan masyarakat. Disadari atau tidak hal ini akan memicu korban berjatuhan lebih banyak dari sebelumnya.

Saatnya New Life dalam New System

Pandemi covid 19 telah memporak porandakan tatanan seluruh dunia tanpa terkecuali sekaligus membuka borok kapitalisme dalam mengurusi umat manusia. Kebusukannya kian terpampang nyata di depan mata. Krisis ekonomi, kesehatan dan sosial politik niscaya terjadi. Perekonomian dunia mengalami kontraksi hebat, akibatnya pengangguran meroket. Semua lapisan masyarakat pun terdampak mulai dari masyarakat kelas atas, menengah hingga kelas bawah. Jika krisis ekonomi telah sampai keakar rumput biasanya krisis sosial akan gampang terjadi hanya karena persoalan perut yang lapar.

Lalu apakah skenario new normal  bisa mengatasi masalah wabah? Hendaknya kita belajar dari kegagalan negeri ginseng Korea Selatan dalam menerapkan new normal pada 6 mei 2020 lalu. Kebijakan itu terbukti gagal di mana lonjakan infeksi virus covid-19 terbesar terjadi pada Kamis (29/5/2020). Kondisi itu memaksa pemerintah setempat memberlakukan kembali pembatasan sosial di beberapa wilayah hingga 14 juni mendatang. Negara sekelas Korea Selatan yang memiliki mekanisme penanganan pandemi Covid-19 yang lebih baik dari Indonesia terbukti gagal menjalankan skenario new normal. Apakah kita akan tetap memaksakan untuk menerapkan skenario ini juga?

Betapa mirisnya hidup di alam Kapitalis hanya karena alasan ekonomi nyawa manusia menjadi taruhan. Rakyat diminta berdamai dengan wabah mematikan demi tuntutan korporasi yang ingin agar ekonominya tetap berputar. Ditambah lagi dengan penguasa yang loyal pada para pemilik modal tak peduli dengan nyawa rakyat yang penting mendapat keuntungan. Sementara rakyat hanya bisa berlindung dibalik mantra sakti “protokol kesehatan” untuk bertahan dari ganasnya virus.

Ya, sebenarnya lonceng kematian sistem kapitalisme sudah semakin santer terdengar. Sistem ini sesungguhnya sedang sekarat. Berbagai upaya yang dilakukan saat ini tak lain hanyalah tambal sulam nan menipu. Sinyal keruntuhannya semakin menguat nyaris tak terhenti. Sudah saatnya dunia butuh tatanan baru dibawah naungan sistem baru yang sudah menunjukkan kedigdayaan selama beratus tahun lamanya. Sebuah sistem yang mampu mengurusi umat manusia di dua pertiga belahan dunia. Sistem yang mampu mengantarkan manusia di puncak kegemilangan disegala lini kehidupan baik dari segi ekonomi, pendidikan, kesehatan maupun sosial politik. Sistem itu tak lain adalah sistem Islam yang berasal dari Sang Pencipta Semesta mewujud dalam satu institusi bernama  Islamiyah.  Sungguh janji Allah dalam surah An-nur : 55 sudah semakin dekat. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Masihkah bertahan dengan sistem kapitalisme dengan segala kerusakannya?.

Wallahu a’lam bis showwab

Editor : Rj | Publizher : Iksan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart