Nadiem Di mana? Mahasiswa Merana

oleh

Jumarni Dalle :

(Mahasiswi Ahwal Syakhsiyah/ Hukum Keluarga Al Birr Unismuh Makassar)


Dampak ekonomi akibat pandemi covid-19 benar-benar dirasakan oleh negara tak terkecuali oleh mahasiswa sejak pandemi perkuliahan dijalankan secara daring. Meski demikian, pihak kampus tetap mewajibkan para mahasiswa untuk membayarkan Uang Kuliah Tunggal (UKT) tanpa adanya pengurangan.

Pada 03 juni 2020 tagar #Nadiemmanamahasiswamerana bertengger di jajaran trending topik Twitter. Aksi yang dipelopori aliansi BEM seluruh Indonesia ini menuntut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim untuk segera mengeluarkan kebijakan relaksasi biaya kuliah di tengah pandemi Covid-19.

Dari beragam cuitan mahasiswa tersebut, mereka merasa kesulitan membayar UKT di tengah resesi akibat pandemi.

“Yth Bapak Menteri milenal seharusnya paham betapa ambyarnya mahasiswa menghadapi pandemi ini. Banyak dari kami kesulitan ekonomi tapi kampus2 dibiarkan menagih UKT. Menteri milenial kami mana ya? Ngga mungkin kehabisan kuota. Naikkan #NadiemManaMahasiswaMerana, “ tulis akun @AmbyarBarudak

“tolong lah bapak mentri jangan ngumpet terus di goa, kami para mahasiswa sangat membutuhkan bapak di masa seperti ini! kasih sentilan kpd pemimpin perguruan tinggi yang tidak punya hati!#NadiemManaMahasiswaMerana,”ungkap akun @rripaan.

Setelah aksi online dengan menaikkan tagar #NadiemManaMahasiswaMeranaviral, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akhirnya merespon melalui surat edaran “Dukung Mahasiswa Tetap Bisa Kuliah, Kemendikbud Pastikan Tidak Ada Kenaikan UKT di Masa Pandemi” yang terdiri dari empat poin.

Suratpun langsung ditanggapi dan dibedah per poin oleh perkumpulan Konsolidasi Mahasiswa Resah UPNVY. Berikut tanggapan per poinnya :

  1. “Kemendikbud memastikan tidak ada kenaikan UKT di saat pandemi c-19” Tuntutannya itu kan potong 50% sampai menggratiskan, yg dijamin malah ga ada kenaikan. Ibarat pengendara yg dihimbau untuk menurunkan kecepatan dari 60 ke 40 km/h, tapi malah direspon “kami ga akan ngebut”
  2. “Mekanisme pengaturan UKT diatur masing2 PTN” Mohon maap ya pak, kami berkonsolidasi dan membangun gerakan puritan ini karena kampus kami itu bilangnya “Kondisi ini dirasakan semua kampus, tolong bawa ini ke kemendikbud”. Ibarat bapak sama ibu yg lempar2an ga mau ngasuh anak.
  3. “Bantuan KIP blabla” Ada 7,5 juta mahasiswa yang semuanya terdampak c-19, mereka berhak mendapatkan hak semester ini karena sudah membayar UKT penuh! Ibarat orang beli bawang, bayar 5 kg dapetnya 1 kg, begitu penjualny dituntut bilangnya saya kasih 5 kg ke pembeli yg lain tuh.
  4. “Kemendikbud mengapresiasi blabla” nek kementerian isonemungngasih apresiasi tok, mending diubah jadi tukang plakat wae pak!

 “yoweslah, mumet ndasku mikirin pemerintah. di mana2 pemerintah mikirin rakyat, ini malah kebalik”. #NadiemManaMahasiswaMerana #TolakKomersialisasiPendidikan #TolakBayarUangKuliah #UPNedan. Demikian cuitan perkumpulan Konsolidasi Mahasiswa Resah UPNVY dalam akun Twitternya.

Munculnya aksi naikkan tagar tersebut sebagai wujud kekecewaan kepada Kemendikbudyag tak kunjung mengambil langkah terkait pendidikan di tengah pandemi covid-19. Meski Menteri Nadiem mengklaim telah menggandeng provider telekomunikasi yang menyediakan akses gratis pembelajaran daring bagi mahasiswa pada akhir maret lalu, namun realiasasinya sangat minim. Mahasiswa justru masih merasa terbebani dengan mahalnya kuota internet untuk kuliah daring apalagi ditambah pembayaran UKT yang harus dibayarkan di semester baru.

Inilah potret pendidikan saat ini. Pendidikan menjadi barang mewah akibat dari ketidakpedulian pemerintah terhadap urusan rakyatnya. Pemerintah gagal menempatkan pendidikan sebagai kebutuhan dasar yang menjadi hak bagi setiap warga negaranya. Biaya pendidikan yang mahal dan tuntutan tambahan biaya di tengah pandemi tak digubris oleh pemerintah.

Sungguh dinamika pendidikan yang mengharubirukan ini adalah buah penerapan sistem kapitalisme. Paradigma Good Governance dalam sistem kapitalisme mengharuskan negara berlepas tangan dari kewajiban utamanya sebagai pelayan  rakyat. Selanjutnya masyarakat termasuk korporasi/swasta didorong berpartisipasi aktif. Negara hanya menjadi regulator (pembuat aturan) bagi kepentingan siapa pun yang ingin menggeruk keuntungan dari dunia pendidikan.

Berbeda dengan kapitalisme, Islam bertanggungjawab memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya termasuk pendidikan. Semua ini harus terpenuhi bagi setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan pada tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Negara wajib menyediakannya untuk seluruh warga dengan cuma-cuma dengan fasilitas sebaik mungkin. Hal ini karena Islam menjadikan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan primer bagi masyarakat.

Politik ekonomi dalam Islam menjamin pemuasan semua kebutuhan primer tiap-tiap individu. Dengan politik ekonomi Islam, pendidikan yang berkualitas dan bebas biaya bisa terealisasikan secara menyeluruh. Negara akan menjamin tercegahnya pendidikan sebagai bisnis atau komoditas ekonomi.

Di dalam Islam, tujuan politik negara di bidang pendidikan, yakni memelihara akal manusia. Maka negara berkewajiban mendorong manusia untuk menuntut ilmu, melakukan tadabbur, ijtihad, dan berbagai perkara yang bisa mengembangkan potensi akal manusia dan memuji eksistensi orang-orang berilmu. Negara dalam Islam benar-benar menyadari bahwa pendidikan adalah sebuah investasi masa depan. Negara wajib menyediakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang cukup dan memadai. Seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, buku-buku pelajaran internet, dlsb.

Bahkan dalam pandemi pun negara memastikan kemudahan dalam akses pembelajaran, seluruh pembiayaan pendidikan di dalam Islam diambil dari baitulmal yaitu dari pos fai’ dan kharaj serta pos milkiyyah ‘ammah. Inilah faktor yang mempermudah rakyat mendapatkan kemaslahatan dalam pendidikan tanpa dibebani dengan biaya pendidikan yang membuat rakyat mengelus dada. Wallahu a’lam bisshowab

Editor :Rj | Publizher : Iksan

 

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart