Nelangsa Tahun Ajaran Baru Ditengah Covid-19, Peserta Didik Siap Dikorbankan?

oleh

Oleh: Rahmiwati

(Kepala RA Mutiara Islam Kendari)


 Tinggal menghitung hari, berdasarkan  kalender pendidikan di setiap tahun, Tahun ajaran baru di mulai di bulan Juli. Namun dikala pandemi covid – 19 saat ini yang tak terlihat landai jumlah pasien yang terinfeksi,  adalah wajar munculnya tanda tanya bagi mayoritas orang tua di kala mereka dihadapkan pada kondisi anak-anak merindukan kembali bersekolah dan mempersiapkan anak yang sudah masuk usia sekolah mengecap pendidikan formal. Mereka menunggu bagaimana kebijakan yang tepat mengenai keadaan pendidikan anak-anak mereka, akankah mereka akan berada dalam posisi kegalauan menghadapi problem pada pendidikan anak ?

Hingga saat ini, masih banyak berkembang diskusi seputar persiapan masuknya tahun ajaran baru dengan kondisi anak-anak bertatap muka disekolah, dan polemik ini sedikit memberi jawaban  manakalah  Plt. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad menegaskan bahwa tak ada penguduran tahun ajaran baru di bulan Januari, beliau menegaskan tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dimulai pada tanggal 13 Juli 2020.  Beliau menepis adanya permintaan pengunduran tahun ajaran baru 2020/2021 ke bulan Januari 2021. “Kenapa Juli? Memang kalender pendidikan kita dimulai minggu ketiga bulan Juli dan berakhir Juni. Itu setiap tahun begitu,” kata Hamid dalam telekonferensi di Jakarta, Kamis (28/5/2020). Hamid mengatakan keputusan tak memundurkan tahun ajaran baru 2020/2021 ditandai dengan adanya Penerimaan Peserta Didik Baru (PPBD) 2020. Kompas.com.

Dibeberapa daerah, melalui kebijakan ini mulai tampak mempersiapkan diri memasuki sekolah diera pandemi.  Sekolah-sekolah yang tersebar di beberapa wilayah sebagaimana  di DKI Jakarta akan dimulai 13 Juli 2020. Dengan persiapan protokoler kesehatan dan mengantisipasi jalannya proses belajar mengajar jika berubah kembali pengaturan sekolah dengan atau tanpa tatap muka secara langsung atau dengan daring.  Keputusan itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana. “Awal tahun ajaran baru dimulai tanggal 13 Juli,” ucap Nahdiana kepada Liputan6.com, Rabu (3/6).   Meskipun tahun ajaran baru sudah dimulai, namun Dinas Pendidikan DKI belum memutuskan memulai kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah. Kegiatan di sekolah tidak akan dimulai bila situasi pandemi belum dinyatakan aman. “Jika kondisi belum dinyatakan aman maka pembelajaran dilakukan dari rumah,” papar dia.  Nahdiana menyatakan, indikator aman diputuskan oleh Tim Gugus Tugas daerah.  “Dengan kewenangan masing masing dalam Gugus Penanganan pandemi ini,” ucapnya.

 

Kemana Arah Kebijakan Pendidikan Ditengah Pandemi?

Tak seantusias pemangku kebijakan, masyarakat khususnya para orang tua yang biasanya di tahun ajaran baru selalu mempersiapkan pernak pernik anak memasuki sekolah, sibuk mencari sekolah yang tepat untuk sang buah hati, nampak belum begitu merasa penting dalam persiapan memasuki tahun ajaran baru, persoalan rasa kuatir untuk melepas anak ke sekolah sebagaimana situasi normal, juga dipicu adanya data bahwa anak-anak telah banyak terinfeksi dan meninggal disebabkan virus covid-19  sebagaimana yang di  rilis resmi IDAI per 18 Mei 2020, tak kurang dari 584 anak dinyatakan positif mengidap Covid-19 dan 14 anak di antaranya meninggal dunia.

 Sementara itu, jumlah anak yang meninggal dunia dengan berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 berjumlah 129 orang dari 3.324 anak yang dinyatakan sebagai PDP

Persoalan ekonomipun menjadi alasan tak bergairahnya para orang tua di tahun ajaran baru 2020 ini. Hampir semua sektor-sektor ekonomi lumpuh dan banyaknya PHK yang terjadi, tidak mengherankan jika biasanya para orangtua menyerbu pasar untuk membeli seragam baru toko seragam pakaian harus  sepi hingga 70% dari pembeli.

Demi untuk menyakinkan pemerintah,  Komisioner Komisi Perlindungan Anak (KPAI) Retno Listyarti menginisiasi penyusunan angket yang berisi 10 pertanyaan terkait rencana sekolah dibuka jelang penerapan new normal. Angket ini bertujuan untuk memberikan ruang partisipasi kepada siswa, orang tua, dan guru secara langsung kepada kebijakan negara terkait anak. Poling dan jajak pendapat berkaitan polemik masuk sekolah dengan tatap muka dan hal tersebut telah tersampaikan.  Berdasarkan data yang terkumpul,  mayoritas siswa setuju masuk sekolah. Namun, sebagian besar orang tua tidak setuju sekolah dibuka tanggal 13 Juni 2020.

“Sebagian besar anak setuju sekolah dibuka karena kemungkinan mereka sudah jenuh belajar dari rumah. Ini mengkonfirmasikan bahwa data survei PJJ KPAI beberapa waktu lalu yang menunjukkan siswa mengalami kejenuhan selama PJJ dan bahkan siswa berpendapat lebih senang belajar di sekolah,” ungkap Retno.

Sementara orang tua yang menolak sekolah dibuka kembali menunjukkan kekhawatiran mereka akan keselamatan dan kesehatan anak-anaknya di tengah pandemi virus corona. Apalagi belum ada persiapan yang memadai untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat di sekolah.

Dalam kondisi pelik saat ini, masyarakat butuh kepastian dan keseriusan pemangku kebijakan, mengambil keputusan dalam menangani wabah.  Sikap inkonsistensi ,  dari rencana pemberlakuan karantina wilayah, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga rencana kebijakan “New Normal”, kesemuanya memunculkan cabang-cabang persoalan baru di masyarakat. Melindungi  generasi saat ini,  adalah lebih mengutamakan nyawa dari pada alasan ekonomi yang ternyata pemicu terbitnya kebijakan new normal life.  Kejadian yang baru saja di rasakan oleh negara korea selatan yang menutup kembali lebih dari 200 sekolah, hanya beberapa hari setelah mulai dibuka,  dikonfirmasi ada 79 dalam sehari dan termasuk yang tertinggi di Korsel dalam dua bulan terakhir. Keadaan ini harusnya menjadi cermin bagi  negeri ini untuk tak buru-buru mengambil keputusan besar yang akan memberikan dampak buruk bagi seluruh warga di negeri ini, khususnya bagi generasi.  Terlebih lagi belum ada tanda-tanda wabah pandemi covid-19 akan selesai dalam waktu singkat.

Sudah saatnya umat manusia kembali pada penerapan Syariah Islam, dimana perlindungan dan pemeliharaan syariah Islam atas nyawa manusia diwujudkan melalui berbagai hukum. Di antaranya melalui pengharaman segala hal yang membahayakan dan mengancam jiwa manusia.

Nabi saw. Bersabda, “Tidak boleh (haram) membahayakan diri sendiri maupun orang lain” (HR Ibn Majah dan Ahmad).

WalLah a’lam bi ash-shawab. []


Editotr : Rj | Publizher : Iksan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart