Kapitalisme Mengundang Masalah, Islam Memberi Berkah

oleh
Oleh : Nelda - Aktivis Komunitas Dakwah Muslimah Kolaka
Oleh : Nelda - Aktivis Komunitas Dakwah Muslimah Kolaka

Oleh : Nelda – Aktivis Komunitas Dakwah Muslimah Kolaka


KoP_Warga dan pengendara terpaksa harus berhati-hati saat melewati jalan poros Pomalaa Tangketada tepatnya di desa Tambea dan sekitarnya akibat jalanan berlumpur, disebabkan adanya aktifitas pengangkutan material tambang di Kecamatan Pomalaa yang dilakukan oleh mitra PD Aneka Usaha yang merupakan Perusahaan Daerah (Perusda) milik Pemkab Kolaka.

Bahkan tak jarang pengendara jatuh saat melewati jalanan tersebut akibat aspal jalan tertutup oleh lumpur. Rusman salah seorang warga Tambea, Kecamatan Pomalaa menyesalkan sikap perusahaan tambang tersebut yang seakan mengejar keuntungan semata tanpa memperhatikan keselamatan warga.(Selasa, 28 Juni 2020).

Ditengah keresahan yang dialami oleh masyarakat khususnya warga Pomalaa, seyogiayanya pemerintah setempat hadir dan segera merespon hal ini sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjamin kesejahteraan dan keselamatan setip warga. Faktanya, hingga hari ini belum ada langkah perbaikan baik dari perusahaan maupun pemerintah. Curahan masyarakat seolah menjadi angin lalu, padahal jalan menjadi salah satu kebutuhan utama bagi masyarakat.

Kapitalisme, Akar Penyebabnya

Terkait rusaknya lingkungan sejak lama sebenarnya telah menjadi rahasia umum.  Tak ada hal yang benar-benar baru dari sisi fakta hanya berbeda korban dan pelaku.  Sebab bila dicermati hampir semua eksplorasi tambang saat ini menyisakan elegi sedih yang dirasakan alam dan manusia yang menghuni di atasnya. Alam merupakan bagian dari bumi yang menjadi sumber kehidupan semua makhluk hidup, termasuk manusia. Namun, akibat ulah manusia, bumi menjadi cepat mengalami perubahan, karena alam telah dieksploitasi dan dijadikan komoditas demi tujuan pertumbuhan ekonomi.

Sistem kapitalis telah membawa Indonesia menjadi salah satu Negara dengan tingkat krisis lingkungan yang serius. Pencemaran udara akibat aktivitas industri, kerusakan jalan akibat aktivitas tambang, pencemaran sungai dan laut karena pembuangan limbah, rusaknya ekosistem menjadi hal yang wajar terjadi dalam kehidupan hari ini.

Selain itu, Negara dalam sistem ini memberikan kebebasan bagi siapa saja yang memiliki modal, untuk mengeskploitasi sumber daya alam tanpa batas untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan dampak terhadap lingkungan.

Peran Negara tak lebih sebagai regulator bahkan bisa bertindak sebagai perusahaan yang menajadikan SDA sebagai ladang bisnis dan sektor investasi demi kepentingan segelinti orang. Atas nama pertumbuhan ekonomi,  pengelolan SDA dikerahkan kepada pengusaha yang berdampingan dengan penguasa, sehingga kesejahteraan rakyat pun tidak tercapai.

Islam Memberi Kemaslahatan

Sesungguhnya kekayaan alam yang melimpah, berupa barang tambang, migas, laut dan hutan merupakan harta milik umum. Harta ini harus dikelola hanya oleh negara dan hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk barang yang murah atau subsidi untuk kebutuhan primer, seperti pendidikan, kesehatan, dan fasilitas umum.

Islam mempunyai pandangan dan konsep yang sangat jelas terhadap perlindungan dan pengelolaan lingkungan sumber daya alam, karena manusia pada dasarnya khalifah Allah di muka bumi yang diperintahkan tidak hanya untuk mencegah perilaku menyimpang (nahi munkar), tetapi juga untuk melakukan perilaku yang baik (amr ma’ruf).

Pengelolaan sumber daya alam tambang harus tetap menjaga keseimbangan dan kelestariannya. Karena kerusakan sumber daya alam tambang oleh manusia harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Prinsip ini didasarkan pada QS. ar-Rum, (30):41 bahwa

“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Pemimpin dalam Islam wajib menjamin kesejahteraan rakyat, olehnya itu Khalifah harus memastikan bahwa pelaksanaan pertambangan wajib menghindari kerusakan (daf’u al-mafsadah), antara lain: menimbulkan kerusakan ekosistem darat dan laut, menimbulkan pencemaran air serta rusaknya daur hidrologi (siklus air), menyebabkan kepunahan atau terganggunya keanekaragaman hayati yang berada di sekitarnya, menyebabkan polusi udara dan ikut serta mempercepat pemanasan global, mendorong proses pemiskinan masyarakat sekitar, dan mengancam kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Salah satu contoh yang bisa kita jadikan teladan pemimpin yang sadar akan  tugas dan tanggung jawabnya, yakni Khalifah Umar Bin Khaththab. Bukti keseriusan beliau dalam memimpin dan menjaga keselamatan rakyatnya. “Khalifah Umar Bin Khaththab berkata kepada muawiyyah bin hudajji ra yang kalah itu tengah makan, “ beliau berkata kalau aku tidur di siang hari maka aku menelantarkan rakyatku, dan jika aku tidur dimalam hari maka aku telah menyia-nyiakan diriku sendiri (tidak shalat tahajut).

“ kemudian beliau juga berkata “ jika ada seekor unta mati karena disia-siakan tidak terurus. Aku takut Allah meminta pertanggungjawaban kepadaku karena hal itu karena unta itu berada diwilayah kekuasaannya, Umar yakin ia akan bertanggungjawab atas keberlangsungan hidupnya. Ketika unta itu mati sia-sia karena kelaparan , atau tertabrak kendaraan, atau terjerembab dijalan, karena fasilitas yang buruk, Umar Bin Khaththab khawatir Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadanya kelak diakhirat.

Dari sini bisa kita bisa melihat bahwa seekor hewan pun dijaga keselamatannya oleh Khalifah. Maka tentu menjaga keselamatan umat juga perhatian utama. Sungguh kita bisa memahami bahwa Islam dengan seperangkat aturannya mampu melidungi rakyat, menjamin kesejahteraan, menjaga keselamatan rakyat. Kembali kepada Islam jalan yang paling tepat karena Islamlah mampu mengatasi segala macam problematika yang terjadi saat ini. Wallahu a’lam bishwwab.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Kalosara News | Be Your Smart