Budaya Sultra Buat Dikenal Dunia -Pekan Depan, Festival Budaya Anak Konawe Dihelat

KABUPATEN KONAWE – SULAWESI TENGGARA

KALOASRA NEWS :Provensi Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki ragam budaya, dan suku. Hal itu harusnya menjadi kebanggaan saat kita menginjakan kaki di daerah lain. Namun, kebanggaan itu makin terkikis karena efek samping perkembangan zaman, dimana generasi muda lebih mengenal dan mencintai budaya asing, dari pada milik sendiri.

Sedikit percakapan yang tak asing di daerah pedalaman Konawe, Sultra. “Saya mau ke Jakarta saja,” ujar anak kelas IV SD kepada temannya. Kalimat itu membuat Ibu Gurunya termenung. “Kenapa kamu mau ke Jakarta?,” tanya Ibu gurunya. Si anak menjawab, “anak-anak Jakarta itu keren, kalau di sini tidak,” ucapnya hening.

Itu hanya contoh kecil di pedesaan. Beda lagi dengan anak kota. Sudah banyak yang lebih menyukai nyanyian negeri lain, mempelajari cara bermain alat musik negeri lain, berdandan dan berbicara seperti negeri lain, bahkan dengan bangga menggunakan pakaian daerag negeri lain. Sedangkan, ribuan pakaian adat di Indonesia, khususnya Sultra hanya muncul sesekali dalam acara seremonial.

Sekarang, pernahkah kamu bertanya kepada  masyarakat Indonesia di daerah lain, apakah ia pernah mendengar Budaya Tolaki?, Tolaki adalah salah satu suku yang mendiami wilayah Sulawesi Tenggara selain Suku Buton, Suku Muna, Suku Bugis, Suku Toraja, dan suku pendatang lainnya. Sebagai salah satu suku tertua dan suku bangsa terbesar di Sulawesi Tenggara, masyarakat Tolaki memiliki budaya yang unik yang tidak dapat ditemukan di daerah lain, seperti budaya Mombesara, sebuah upacara sakral yang menjadi perlambang pemersatu dan perdamaian dalam budaya Tolaki, terutama pada saat pengambilan keputusan besar di masyarakat.

Namun sebagian besar penduduk Indonesia belum mengenal keberadaan Suku Tolaki baik dari budaya, adat, kesenian, dan identitas lain yang dimilikinya. Suku Tolaki dengan kearifan lokalnya yang kaya, dihadapkan pada tantangan globalisasi. Dengan masuknya budaya lain di Sulawesi Tenggara, Budaya Tolaki semakin terkikis. Hal ini dapat diamati dari anak-anak yang mulai tidak menguasai Bahasa Tolaki, dan tidak mengetahui adat-istiadat nenek moyangnya sendiri. Fenomena ini dikhawatirkan akan menjadi ancaman bagi identitas Suku Tolaki di masa depan.

Sebanyak 77.514 anak-anak lahir dan tumbuh di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Data BPS 2014). Sebanyak itu pula harapan akan lestarinya budaya Tolaki ini kita titipkan sebagai manifestasi kekayaan bangsa.

BACA JUGA :   Jahiuddin Pimpin BPKAD, Parinringi Minta ASN Loyal Pada Atasan

“Kami adalah para penggerak di Kabupaten Konawe yang terdiri dari guru-guru, komunitas pemuda, dan Pengajar Muda XIV Konawe berinisiatif untuk menyelenggarakan sebuah festival budaya pada 18 Maret 2018 mendatang yang mengangkat budaya Tolaki secara khusus dan budaya-budaya di Konawe secara umum,” ungkap salah seorang pengajar muda Indonesia Mengajar, Diyan.

Mungkin ini bukan awal, bukan juga akhir, namun inilah langkah kami untuk melestarikan budaya. Melalui Festival Budaya Anak Konawe (FestBAK), generasi muda akan dicerahkan. Kegiatan akan terdiri dari pagelaran seni, pawai anak dengan pakaian adat, pameran budaya, dan berbagai permainan bertemakan budaya di Kabupaten Konawe, khususnya kebudayaan Suku Tolaki. Pagelaran terdiri atas pertunjukkan adat Mombe Sara, tarian Mondo Tambe, dan beberapa pertunjukkan dari sanggar seni dan budaya setempat.

“Kami Para Penggerak Pendidikan dan Pengajar Muda XIV Konawe akan berkontribusi untuk masa depan budaya Sultra. ” Pungkasnya.(Red).

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co