Kehilangan orang terkasih bukanlah hal yang bisa direncanakan. Di saat keluarga sedang dirundung duka, urusan administratif seringkali menjadi beban tambahan yang terasa berat.
Di Kabupaten Konawe, Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) berusaha hadir untuk meringankan beban tersebut melalui program bantuan duka sesuai janji politik pasangan Yusran Akbar dan Syamsul Ibrahim ( YA-SAM).
Sebuah upaya yang tak sekadar bicara soal angka, namun soal amanah dan pelayanan.
Di balik meja kerja Bagian Kesra, ada pergulatan antara data dan kenyataan lapangan.
Para perencana anggaran di Kesra Konawe menghadapi tantangan unik, mereka harus mengelola dana bantuan yang terbatas untuk peristiwa yang tidak bisa diprediksi jadwalnya.
“Kematian itu tidak bisa kita prediksi, kapan dan berapa orang yang meninggal,” ungkap Samsul Kabag Kesra Konawe di ruang kerjanya. Selasa, 28 April 2026.
Kata Samsul Pemerintah daerah mengalokasikan anggaran sebesar Rp500 juta untuk tahun 2026. Untuk menjaga agar bantuan tetap tersalurkan secara merata, tim perencana harus memutar otak, membagi dana tersebut dengan kuota sekitar 25 penerima manfaat setiap bulannya.
Meski terlihat kaku, langkah ini diambil agar bantuan Rp2 juta yang disalurkan kepada setiap ahli waris bisa menyentuh mereka yang paling membutuhkan secara berkelanjutan.
“Semua 2025 sampai dengan 2026 bulan januari dan februari telah dibayarkan, silahkan rekening ahli waris di cek atau bisa datang langsung ke Kesra menyangkut kendalanya” jelas Samsul
Samsul menuturkan seringkali, muncul miskonsepsi di masyarakat mengenai siapa yang berhak menerima bantuan ini. Apakah ini bantuan politis? Apakah harus dekat dengan pejabat? Pihak Kesra dengan tegas menepis anggapan tersebut.
“Kami ini bukan orangnya Bupati, kami cuma menjalankan amanah. Kami profesional dalam menjalankan tugas,” tegas Samsul.
Lanjut Samsul pernyataan ini menegaskan bahwa program ini murni ditujukan bagi masyarakat umum, terutama mereka yang kurang mampu.
Bagi mereka, bantuan Rp2 juta per ahli waris adalah bentuk kehadiran pemerintah di tengah kesulitan warga. Program ini sengaja tidak menyasar kalangan PNS atau pensiunan, agar dana yang tersedia benar-benar tepat sasaran bagi keluarga yang secara ekonomi membutuhkan dukungan di masa berkabung.
“Penerimanya, Bukan PNS,ASN ataupun Pegawai paruh Waktu, karena mereka telah menjadi kategori pegawai yang telah menerima upah dari Pemkab Konawe” tutur Samsul
Kata Samsul, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Kesra adalah komunikasi. Seringkali, proposal yang masuk belum lengkap, atau ahli waris sulit dihubungi karena nomor kontak yang tidak tercatat dengan baik.
Di sinilah peran penting komunikasi di tingkat desa. Kesra Konawe telah turun langsung, bahkan memanfaatkan momen pameran desa untuk menyosialisasikan prosedur pengajuan.
Mereka ingin memastikan bahwa setiap Kepala Desa paham apa yang harus dilakukan ketika ada warganya yang meninggal.
“Kami sudah bawakan blanko, sudah sosialisasikan persyaratannya. Jadi, Desa sebenarnya sudah tahu apa yang harus disiapkan,” ujarnya.
Harapan untuk Masa Depan
Meski anggaran sempat terbatas, semangat untuk melayani tidak surut. Bagian Kesra kini tengah menyiapkan langkah penyesuaian Rencana Anggaran Kas (RAK) pada bulan Mei mendatang. Tujuannya satu: mempercepat dan memperluas jangkauan bantuan agar tidak ada lagi antrean panjang yang tertunda.
Bahkan, pemerintah telah membuka pintu untuk penambahan anggaran melalui mekanisme perubahan APBD di masa depan, jika dirasa dana yang ada belum mampu mencakup kebutuhan masyarakat yang tinggi.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, bantuan Rp2 juta mungkin tak akan menggantikan kehadiran orang terkasih. Namun, bagi pemerintah daerah, itu adalah langkah kecil untuk memastikan bahwa di tengah duka yang mendalam, warga Konawe tidak merasa berjuang sendirian.
Di balik setiap proposal yang masuk dan setiap dana yang cair ke rekening ahli waris, terdapat upaya birokrasi yang mencoba menjadi lebih manusiawi—mengubah prosedur yang kaku menjadi uluran tangan bagi mereka yang membutuhkan.
