Wajah cemas terlihat di sejumlah ibu rumah tangga di Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan, dalam beberapa hari terakhir. Kelangkaan gas LPG ukuran 3 kilogram membuat aktivitas dapur terganggu. Selain sulit didapat, harga gas juga melonjak jauh di atas harga normal.
Di beberapa warung, tabung gas bersubsidi yang biasa menjadi andalan masyarakat kini sulit ditemukan. Kalaupun ada, harganya bisa mencapai Rp35 ribu hingga Rp55 ribu per tabung, jauh lebih mahal dari harga biasanya.
“Sudah beberapa hari ini susah sekali cari gas. Kalau pun ada, harganya mahal sekali. Bisa sampai Rp 55 ribu pertabung,” kata Ya, salah seoarang warga Desa Teteasa, Kecamatan Angata, Senin, (16/3).
Kata Ya kelangkaan ini membuat sebagian warga terpaksa kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak. Namun, cara itu ia dinilai kurang praktis dan memakan waktu lebih lama.
“Terpaksa pakai kayu lagi kalau gas tidak ada. Tapi repot sekali, apalagi kalau sedang buru-buru masak,” ujar Ya.
Kondisi ini juga membuat emak-emak harus berkeliling dari satu warung ke warung lain untuk mencari gas. Tidak jarang mereka pulang dengan tangan kosong.
Ya menduga kelangkaan ini disebabkan oleh keterlambatan distribusi gas ke pangkalan. Serta adanya pengencer yang memanfaatkan kelangkaan ini untuk menaikkan harga
Ya berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan untuk memastikan ketersediaan gas LPG 3 kilogram di Kecamatan Angata tetap stabil dan dijual sesuai harga yang telah ditetapkan.
“Harapan kami pemerintah bisa segera mengatasi ini. Gas ini kebutuhan pokok untuk kami memasak setiap hari,” kata Ya.
Hingga kini, warga masih berharap distribusi gas kembali normal agar aktivitas rumah tangga tidak lagi terganggu.
Bagi para ibu ibu di Angata, gas bukan sekadar barang kebutuhan, tetapi penentu kelancaran dapur keluarga setiap harinya.
