Ragam  

Ada rasa Tolaki di Pasar Asinua

Ketgam : Ikan Gabung Panggang (Bou Tinapo) : Foto Lensa Anandolaki
Ketgam : Ikan Gabung Panggang (Bou Tinapo) : Foto Lensa Anandolaki

Penuli: Iin Andriani (Pendiri Lensa Ana Ndolaki


Seperti pengertiannya, pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli dikarenakan adanya kebutuhan baik barang maupun jasa. Demikian pula di Pasar Asinua, riuh penjual dan pembeli di pagi itu adalah sebuah bagian keramaian di Kota Unaaha. Pasar Asinua terletak di Kelurahan Asinua, dibuka pada hari Senin, Rabu dan Jum’at, dari pagi sampai siang hari.

Menapaki alur Kios maupun Lapak pedagang ada banyak barang kebutuhan yang dijajakan dan biasa ditemukan dipasar-pasar pada umumnya. Namun, ketajaman Lensa Anandolaki menelisik sesuatu yang tidak biasa dan mungkin tidak ditemukan diseluruh pasar kebanyakan.

Jika yang kita tau di daerah Muna, orang-orang akan menyebutnya dengan Kambewe maka rasa Tolaki akan menyebutnya dengan Kandongo, jajanan pasar yang terbuat dari jagung dihancurkan ditambah gula dan santan lalu dibungkus dengan daun jagung.

Melangkah lagi, Lensa tertuju pada jajanan yang terbuat dari ketan yang juga dicampur santan lalu dimasukan dalam bambu yang dialas daun pisang lalu dipanggang diperapian. Jika tlah matang, bambu dibelah lalu ketan bersantan terbungkus daun pisang itu kemudian dipotong-potong. Orang Tolaki menyebutnya Kinowu.

Pokea dari Sungai Pohara dan Bou Tinapo khas Wawolemo, juga tak luput dari bidikan Lensa Anandolaki. Jika di Konawe, orang menyebutnya Kabengga, maka di Mekongga orang menyebutnya Wete Ni Rai. Namun, jika tlah bersanding dengan Sinonggi, apalah arti sebuah nama. Pokea, Bou Tinapo, dan Kabengga. mereka semua berderet manja mengharap dipinang rupiah.

Dan bidikan Lensa Anandolaki akhirnya tertuju pada sesuatu yang menggunung mengelilingi literan. Membayangkannya dia dimasak dengan parutan kelapa setengah tua, tumisan bawang dan cabe lalu bersanding dengan nasi panas, Tanggoreke tumis membuat kita menelan ludah. Tanggorekr, begitulah orang Tolaki menyebutnya.  Dialah jamur yang tumbuh bergerombol jauh di hutan pada kayu yang lapuk. Mengambilnya pun satu per satu, dengan baik dan tenang. Artinya tersirat bahwa ada sebuah ketulusan di balik hadirnya Tanggoreke dipiring makan kita.

Mari saling menghargai.

error: Hak Cipta dalam Undang-undang