Asian Games Bikin Gemes

 

OPINI : Baru – baru ini telah dilangsungkan perhelatan akbar olahraga atau yang lebih dikenal dengan sebuatan Asian Games. Kegiatan ini telah menyita banyak waktu. Dana yang tidak sedikit juga digelontorkan guna mensukseskan acara tersebut. Dari itu semua, yang paling menarik, adalah ketika para pemenang diberikan banyak pujian dan hadiah berupa uang miliaran rupiah oleh Presiden Joko Widodo. 

Sebagaimana dilansir dari Viva.com, Presiden Jokowi Widodo langsung memberikan bonus kepada para atlet peraih medali di Asian Games ke-18 itu. Adapun untuk peraih medali emas mendapatkan bonus dengan nominal Rp 1,5 Miliar. Para pelatih juga mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah tergantung dari hasil yang di capai oleh anak didiknya.

Pemberian bonus dilakukan di Istana Negara, Jakarta, Minggu, 2 September 2018, sebelum perhelatan Asian Games ke – 18 ditutup sore harinya. Bonus itu diberikan secara simbolik dalam bentuk buku tabungan dan ATM Bank Rakyat Indonesia. Salah satunya kepada atlet angkat besi, Eko Yuli. Eko mengaku senang.

Ya, perhelatan akbar ini memang tak tanggung-tanggung kucuran dananya. Menggemaskan. Mulai dari persiapan sampai penutupan. Ketua INASGOC, Erick Thohir, menyatakan bahwa persiapan Asian Games 2018 memakan dana yang begitu besar. Tercatat, dana sebesar Rp 7,2 triliun sudah digelontorkan demi menggelar pesta olahraga terbesar se-Asia itu (Viva.co.id, 13/08/2018).

Sangat disayangkan, tatkala huru-hara problematika dunia terus menggejala, di pusat justru berpesta. Seolah kebahagiaan dan citra di mata dunia lebih utama dibanding tangis derita jelata. Inilah dampak dari buruknya riayah penguasa atas rakyatnya. Wajar, ini karena penerapan sistem kapitalisme yang memandang kebahagiaan adalah ketika mendapatkan materi dan keuntungan sebanyak-banyaknya.

Bukankah penguasa yang baik itu mengurus rakyat secara menyeluruh? Bukan secara parsial. Para atlet tak salah ketika diberikan penghargaan, namun hendaknya dengan jumlah wajar. Mengingat, di belahan wilayah lain sedang terjadi bencana alam. Belum lagi, kemiskinan merajalela, pengangguran tidak terhitung jumlahnya, anak – anak putus sekolah, dan kemelaratan di pelosok desa. Inilah potret buram pemimpin dalam sistem kapitalisme yang selalu memandang segala sesuatu atas dasar manfaat dan materi sehingga rakyat tidak lebih diutamakan daripada yang lain.

BACA JUGA :   Terbuangnya Muslim Rohingya, Potret Kekejaman Nasionalisme

Coba bandingkan dengan sosok pemimpin yang disyariatkan Islam. Pemimpin merupakan wakil Allah di dunia ini. Dia seyogyanya menjalankan semua aturan Allah SWT dan menuntun rakyatnya untuk patuh dengan aturan Allah, termasuk melindungi semua rakyatnya agar tidak sengsara

Pemimpin bukan saja seorang yang hadir di tengah – tengah kebahagian rakyat tetapi saat rakyat melarat dan membutuhkan uluran tangan berupa bantuan. Pemimpin hendaknya berada di garda terdepan.

Oleh karena itu, dalam Islam menjadi pemimpin itu adalah sebuah amanah yang sangat besar. Sehingga, di zaman para Sahabat Rasulullah SAW dulu banyak yang tidak mau mengambil amanah tersebut. Dikarenakan Allah akan menjadi penuntut atas kepemimpinnya dan rakyat akan jadi saksi. Sebagaimana telah disebutkan dalam sebuah hadits, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari Muslim) (***)

Oleh: Dariani, S. Pd

(Guru SMPN 3 Asera)

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co