Banjir Konawe, Bencana Akibat Tangan Siapa?


Oleh : Darni Ummu Hanif


Sedih saat melihat di layar kaca, baik media televisi, cetak maupun sosial media, atap rumah terapung di atas air, sementara badan rumah yang utuh hampir tenggelam akibat banjir, di antara atap rumah tersebut sekali-kali lewat perahu karet, perahu kayu, orang yang berbicara di atas  atap. sedikit gambaran suasana di Konawe ketika banjir mengepungnya.

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Konawe, Rabu (12/6/2019), sampai dengan Sekarang 4.095 jiwa mengungsi akibat banjir. BPBD Sultra mengatakan dua di antara penyebab banjir adalah saluran  pembuangan irigasi jaringan primer dan sekunder, serta perambahan hutan sehingga terjadi pedangkalan di badan sungai.

Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sultra menyebut banjir di Konawe dan Konawe Utara lebih banyak disebabkan oleh kerusakan lingkungan. Direktur Eksekutif WALHI Sultra, Saharuddin, mengatakan Konawe dan Konawe Utara merupakan daerah dengan izin usaha pertambangan terbanyak di Sultra. Akibat ekspansi tambang dan sawit, sejak 2001 sampai 2017, Konawe Utara sudah kehilangan 45.600 hektar tutupan pohon. Pertambangan dan sawit juga merusak hutan primer hingga 954 hektar dan hutan alam 2.540.

Sedangkan alih fungsi perkebunan WALHI Sultra menyebutkan, ada sekitar 20.000 hektar kebun sawit  baru yang  90 persen di antaranya diambil dari perkebunan hutan. Secara umum, lanjut Saharuddin, aktivitas industri ekstraktif dan perkebunan di Kabupaten Konawe dan Konawe Utara berdampak pada pedangkalan atau sedimentasi di Daerah Aliran Sungai  (DAS) Lasolo dan Konawe.

Khusus di Konawe Utara dan Konawe, ada tiga perusahaan sawit yang paling berkuasa; masing-masing PT. Damai Jaya Lestari (DJL), Sultra Prima Lestari, dan PTPN. Dari data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Propinsi Sultra, ada 72 izin usaha pertambangan di Kabupaten Konawe dan Konawe Utara yang statusnya sudah clear and clean (CnC). Dari 72 Izin Usaha Pertambangan (IUP) itu, ada beberapa pengusaha yang memiliki izin lebih dari satu.

BACA JUGA :   Kemenangan Biden: Angin Segar Bagi Islam Dan Muslim?

Para pemilik tambang, sebagaimana data dinas ESDM, berlatar belakang anggota dewan legislatif hingga kerabat Gubernur Ali Mazi. Politikus Golkar di DPRD  Sultra, Hery Asiku, misanya, memiliki 5 IUP di Konawe Utara. Ia Bersama putranya tercatat menjadi direksi di tiga perusahaan berbeda. Sedangkan adik kandung Ali Mazi, Sahrin, menjadi pemegang saham di PT. Daka Group—perusahaan yang mengelola tambang nikel di Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara dengan nomor IU 212/2012 dengan masa berlaku 21 Mei 2012 hingga 21 Mei 2031 untuk luas lahan 200 ribu hektar. https://beritagar.id 13 Juni 2019.

Dampak Buruk Privatisasi

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co