Banjir Konawe Berulang, Islam Punya Solusi

Dewi Sartika
Dewi Sartika

Oleh : Dewi Sartika (Pemerhati Sosial)


Belum kering air mata negeri ini akibat wabah covid 19 yang tak kunjung selesai dan kapan akan berakhir, kini penderitaan rakyat pun semakin bertambah dengan adanya bencana banjir. Seperti yang terjadi di Kabupaten Konawe provinsi Sulawesi Tenggara.

Dilansir dari CNN Indonesia — Banjir di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara merendam puluhan desa. Banjir akibat intensitas hujan yang tinggi sejak sepekan lebih mengakibatkan volume air semakin tinggi hingga mencapai atap rumah warga.

“Hari ini desa yang terdampak menjadi 49 desa dan 16 kecamatan,” Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe, Herianto Pagala di Konawe, dilansir dari Antara, Minggu (19/7/20).

Akibat banjir ini membuat  11. 741 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi ke sejumlah titik seperti balai desa, pinggir jalan, rumah keluarga, dan hingga gedung sekolah.

Herianto mengatakan berdasarkan data sementara, warga terdampak banjir yang paling parah, yakni di Desa Laloika, Ambulanu, Wonua Monapa di Kecamatan Pondidaha serta Desa Waworaha di Kecamatan Lambuya.

Banjir yang terjadi di Kabupaten Konawe bukan kali ini saja terjadi, nyaris setiap musim penghujan terjadi banjir. Sehingga persoalan banjir ini menjadi PR besar bukan hanya bagi pemerintah daerah tetapi juga bagi pemerintah pusat.

Berbicara masalah bencana alam termasuk banjir adalah qadharullah, namun meskipun demikian kita sebagai manusia bisa berikhtiar berbuat baik agar tidak mengundang datangnya sebuah bencana. Seperti dijelaskan oleh Prof Fahmi Amhar (mediaumat.com, 21/2/2013), dalam mengurai masalah banjir yang terus berulang ini,  beliau nyatakan jika banjir itu hanya insidental, maka itu persoalan teknis belaka. Tetapi jika banjir itu selalu terjadi, berulang, dan makin lama makin parah, maka itu pasti persoalan sistemik.

Seperti halnya banjir yang terjadi di Kabupaten Konawe merupakan banjir sistemik, karena kejadiannya terus berulang dan dengan alasan yang tidak jauh berbeda. Banjir sistemik dapat di selesaikan dengan adanya upaya untuk menyelesaikan pokok pangkalnya.

Namun sayangnya, bencana banjir ini terus berulang sepanjang tahun tanpa adanya upaya serius untuk melakukan perbaikan, yang menjadi penyebab terjadinya banjir, seperti menertibkan pembangunan tata ruang, serta melakukan perbaikan lingkungan. Jika kasusnya sebagai banjir sistemik maka yang seharusnya dilakukan adalah dengan adanya proyek pembangunan Bendungan baru, pompa baru dan lain-lain.

” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka ke jalan yang benar Ar-rum ayat 41. Akan halnya dengan bencana banjir jadi ketetapan dari Allah, namun hal itu terjadi tidak lepas dari kejahilan tangan-tangan manusia yang membuat kerusakan.

Islam memiliki solusi yang tepat untuk mengatasi banjir yang melanda sebuah negeri.

Negara dalam Islam memiliki kebijakan mutakhir dan efisien, yang meliputi sebelum, ketika, dan pasca banjir. Kebijakan dalam mencegah terjadinya banjir tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, kasus banjir yang disebabkan keterbatasan daya tampung tanah terhadap curahan air, baik akibat hujan, gletser, rob, dll, maka negara dalam Islam atau Khilafah Rasyidah akan menempuh beberapa upaya berikut:

(1)Membangun berbagai bendungan yang mampu menampung curahan air dari aliran sungai, curah hujan, dll. Di masa keemasan Islam, bendungan dengan berbagai macam tipe telah dibangun demi mencegah banjir maupun keperluan irigasi. Misalnya, di dekat Kota Madinah Munawarah, terdapat bendungan Qusaybah, yang memiliki kedalaman 30 meter dan panjang 205 meter, yang dibangun untuk mengatasi banjir di Kota Madinah. Di masa kekhilafahan ‘Abbasiyyah, dibangun beberapa bendungan di Kota Baghdad-Irak, yang terletak di sungai Tigris. Di Spanyol, kaum Muslim berhasil membangun bendungan di sungai Turia, kehebatan konstruksinya membuat bendungan ini bertahan hingga sekarang. Bendungan tersebut mampu  memenuhi kebutuhan irigasi di Valencia, Spanyol tanpa memerlukan penambahan sistem;

(2) Memetakan berbagai daerah rendah yang rawan terkena genangan air (akibat rob, kapasitas serapan tanah yang minim dll), dan selanjutnya mengeluarkan kebijakan melarang membangun pemukiman di wilayah-wilayah tersebut atau jika ada pendanaan yang cukup, negara akan membangun kanal-kanal baru atau resapan agar air yang mengalir di daerah tersebut bisa dialihkan alirannya, atau bisa diserap oleh tanah secara maksimal.

Dengan cara ini, maka berbagai wilayah dataran rendah bisa terhindar dari banjir atau genangan. Sedangkan daerah pemukiman yang awalnya aman dari banjir dan genangan, namun karena berbagai sebab terjadi penurunan tanah, sehingga terkena genangan atau banjir, maka negara khilafah akan berusaha semaksimal mungkin menangani genangan itu, dan jika tidak mungkin negara akan mengavakuasi penduduk di daerah itu dan dipindahkan ke daerah lain dengan memberikan kompensasi

(3) Membangun kanal, sungai buatan, saluran drainase, atau apapun namanya untuk mengurangi dan memecah penumpukan volume air; atau untuk mengalihkan aliran air ke daerah lain yang lebih aman. Secara berkala, dilakukan pengerukan lumpur- lumpur di sungai, atau daerah aliran air, agar tidak terjadi pendangkalan. Tidak hanya itu saja, Khilafah juga akan melakukan penjagaan yang sangat ketat bagi kebersihan sungai, danau, dan kanal, dengan cara memberikan sanksi bagi siapa saja yang mengotori atau mencemari sungai, kanal, atau danau.

(4) Membangun sumur-sumur resapan di kawasan tertentu. Sumur ini, selain untuk resapan, juga digunakan sebagai tandon air yang sewaktu-waktu bisa digunakan, terutama musim kemarau atau paceklik air.

Inilah solusi yang ditawarkan oleh islam dalam hal mengatasi bajir sistemik, sehingga kejadianya tidak terus berulang. Wallahu A’lam Bishawab


error: Hak Cipta dalam Undang-undang