Bekukan Prancis, Cukupkah dengan Boikot Produk?

Mustika Lestari
Mustika Lestari

Oleh: Mustika Lestari (Pemerhati Sosial)


 

Seruan memboikot produk-produk asal Prancis tumbuh di sejumlah negara di Timur Tengah. Hal ini sebagai reaksi atas kata-kata Presiden Emmanuel Macron terhadap kematian seorang guru “teroris Islam.” Macron mengatakan, menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai kartun bukanlah hal yang salah.

 

Sebagaimana diberitakan CNN, Macron menyampaikan sikap itu beberapa waktu lalu,  untuk menghormati guru sekolah menengah yang dibunuh. Guru bernama Samuel Paty (28), tewas setelah kepalanya dipenggal usai mengajar di pingggiran Paris karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad SAW di kelas.Membahas kartun karya Charlie Hebdo dianggap sebagai pelajaran kebebasan berekspresi, seperti dinyatakannya ketika berbicara di luar kota Paris yang juga dihadiri Menteri Pendidikan Prancis Jean-Michael Blanquer (16/10) lalu, bahwa pembelajaran tentang kartun adalah sebagai bentuk kebebasan berekspresi.Pernyataan Macron yang dinilai sensitif dan emosional itu, memicu demonstrasi dan boikot produk Prancis di sejumlah negara mayoritas Muslim, seperti Turki, Kuwait, Qatar, Yordania dan lain-lain.

 

“Saya menyerukan kepada orang-orang, jangan mendekati barang-barang Prancis jangan membelinya,” kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Senin di Ankara. Di Kuwait, jaringan supermarket swasta mengatakan bahwa lebih dari 50 gerainya berencana memboikot produk Prancis, dan masih banyak lagi negara Muslim yang melaukan hal serupa (http://palembang.tribunnews.com, 28/10/2020).

 

Sekulerisme: Produk Asing yang Wajib Diboikot!

 

Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam merupakan manusia mulia yang paling istimewa di muka bumi ini. Ibarat batu, beliau adalah batu permata, sementara kita adalah batu biasa, posisinya diagungkan tidak hanya di mata kaum Muslim, melainkan juga dari sisi non Muslim. Seperti John William Draper (w. 1882), ilmuwan, filosof dan sejawan Amerika, dalam A History of the Intellectual Development of Europe (London, 1875, vol. 1: 129-130), menulis yang artinya “empat tahun setelah runtuhnya kekaisaran Roma Timur (Kaisar Justin), tahun 569 Masehi, di Kota Mekah Jazirah Arab lahirlah manusia yang di antara seluruh manusia telah memberikan pengaruh amat besar bagi umat manusia.. Muhammad.”

 

BACA JUGA :   Partisipasi Pemilih di Konawe Capai 88 Persen

Demikian pula William Montgomery Watt (w. 2006), profesor (emeritus) Studi Bahasa Arab dan Islam University of Edinburg, dalam Mohammad At Mecca (Oxford, 1953: 52)juga menulis yang artinya, “kerelaannya dalam mengalamipenganiayaan demi keyakinan, ketinggian akhlak orang-orang yang mempercayai dan menghormatinya sebagai pemimpin, dan kegemilangan prestasi puncaknya,semua itu membuktikan ketulusan hatinya yang sempurna….” Inilah beberapa pernyataan para intelektual tentang keistimewaan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co