Belajar dari Gempa dan Tsunami Palu

OPINI : Indonesia, negara dengan julukan zamrud khatulistiwa ini memiliki posisi geografis yang sangat strategis. Terdiri dari untaian pulau-pulau indah yang membentang dari Sabang sampai Merauke dan memiliki garis pantai terpanjang ke-2 di dunia menjadikan Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah. Namun disisi lain posisi ini menjadikan Indonesia rawan bencana.

Secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan lempeng tektonik yaitu lempeng benua Asia, benua Australia, lempeng samudera Hindia dan samudra Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik yang memanjang dari pulau Sumatera-Jawa-Nusa Tenggara-Sulawesi yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia lebih dari 10 kali tingkat kegempaan di Amerika Serikat (ww.bnpb.go.id)

Dilansir dalam Jakarta, Aktual.com — Bencana alam memang tidak pernah bisa diramalkan secara pasti oleh manusia. Salah satu ‘kemarahan alam’ yang paling tidak dapat diprediksi yaitu, gempa bumi. Salah satu penyebab gempa bumi yakni, pergeseran lempengan permukaan Planet Bumi. Terkadang pergeseran lempengan tersebut terjadi di dasar laut. Tsunami dapat saja terjadi apabila gempa bumi sudah terjadi.

“Oleh karena itu para ahli gempa mengatakan solusi utama masalah tersebut adalah perbaikan konstruksi bangunan dan langkah antisipasi pemerintah untuk mempersiapkan masyarakatnya menghadapi gempa. Akan tetapi benarkah gempa semata-mata hanya merupakan peristiwa alam biasa?,” kata Ustad Syarif Hidayatullah kepada Aktual.com, Kamis (03/03), di Jakarta.

Memahami Bencana Gempa

Bencana alam termasuk gempa adalah qadha (ketetapan) dari Allah SWT. Sebagai qadha, manusia tidak bisa memilih dan mengontrol terjadinya gempa karena wilayah ini adalah domain yang berada diluar kuasa manusia. Namun dibalik gempa tersebut ada fenomena alam yang bisa kita cerna. Ikhtiar menghindari dan meminimalisir resiko terjadinya bencana alam berada dalam domain kuasa manusia. Segala upaya untuk menghindarkan interaksi antara peristiwa alam yang menimbulkan bencana dengan manusia, inilah yang disebut mitigasi bencana alam.

BACA JUGA :   Deradikalisasi Mencuat, Islamophobia Makin Menguat!

Secara teknis penanggulangan bencana gempa dalam Islam tidak jauh berbeda dengan metode yang telah diterapkan di berbagai negara saat ini. Hanya saja terdapat perbedaan mendasar dalam memahami sumber pencipta gempa. Hal tersebut menyebabkan respon awal saat menyikapi terjadinya gempa juga berbeda. Islam memandang bahwa Allah SWT adalah pencipta gempa. Allah SWT yang menciptakan dan mengendalikan alam semesta.

Di Indonesia, masyarakat tidak pernah sebegitunya disiapkan untuk menghadapi bencana, sehingga kerugian dalam bentuk apapun terjadi dalam jumlah yang besar dengan pemulihan yang lama. Hal ini menunjukan bahwa pemerintah dalam sistem ini tidak begitu memprioritaskan kebutuhan rakyatnya. Pemerintah lebih takut rugi dibandingkan dengan jaminan terpenuhinya kebutuhan seluruh korban gempa.

Dalam sistem kapitalis ini, masyarakat tidak bisa mengandalkan penguasa untuk memperoleh pertolongan selama penentuan prioritas tidak akan disandarkan pada hukum syara namun lebih pada manfaat dan keuntungan. Sikap yang seperti ini tidak akan pernah holistik dalam mengatasi permasalahan termasuk dalam urusan bencana. Padahal lalai dalam mengurusi urusan umat termasuk dalam kedzaliman yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Kita bisa berkaca dari apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika menyikapi gempa di Madinah. Dikisahkan bahwa suatu kali terjadi gempa bumi di Madinah. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, ” Tenanglah belum saatnya bagimu.” Lalu Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, ” Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)”. Demikian juga apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ketika terjadi gempa di masa kekhilafahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, ” Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian lakukan (dari maksiat kepada Allah)? Andaikata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”.

BACA JUGA :   Medsos Naik Kelas Picu Perceraian?

Penanggulangan Bencana Dalam Islam

Penanggulangan bencana dalam Islam ditegakkan di atas akidah Islam dan dijalankan pengaturannya berdasarkan syariat Islam serta ditujukan untuk kemaslahatan ummat. Penanggulangan bencana ini termasuk dalam pengaturan urusan ummat yang merupakan kewajiban negara. Karena Kepala Negara (Imam) adalah penanggung jawab sebagaimana sabda Rasulullah SAW. “Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya; ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya ” (HR.Al Bukhari dan Muslim). Negara dalam hal ini Khalifah akan merumuskan kebijakan penanggulangan bencana gempa yang  meliputi tiga aspek yakni sebelum, saat terjadi dan  pasca gempa.

Penanganan sebelum terjadinya gempa adalah seluruh kegiatan yang ditujukan untuk meminimalisir dampak saat terjadi bencana. Seperti meneliti standar bangunan dan zonasi rawan bencana gempa, melakukan analisis kerentanan dan edukasi publik. Negara akan membuat mapping (Pemetaan) daerah rawan gempa dan tsunami. Kemudian para ahli teknik akan dimaksimalkan potensinya untuk menganalisa bangunan infrastruktur yang telah ada dan yang akan dibangun dengan lebih memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan bencana (gempa dan tsunami), terutama pada area yang berpotensi terjadi gempa tektonik.

Kepada masyarakat, negara akan melakukan edukasi terkait pengetahuan kegempaan termasuk cara menyelamatkan diri ketika terjadi bencana. Sosialisasi rutin dilakukan ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi, perkantoran, rumah sakit, hotel dan gedung-gedung publik lainnya. Termasuk menjadikan pengetahuan tentang kegempaan ini sebagai mata pelajaran yang dipelajari di sekolah-sekolah sejak dini terutama di daerah rawan bencana. Dengan kebijakan tersebut masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi bencana gempa dan bisa meminimalisir jatuhnya korban.

Adapun penanganan ketika terjadi bencana ditujukan untuk mengurangi jumlah korban dan kerugian materil akibat bencana. Maka negara akan melakukan tanggap darurat. Menurunkan tim SAR secara maksimal dan melakukan evakuasi secepat mungkin. Memberikan bantuan medis dan logistik.

BACA JUGA :   Polemik Impor Beras Tak Kunjung Beres

Membuka jalan dan jalur komunikasi jika terputus. Negara juga menyiapkan tempat pengungsian termasuk membuat dapur umum. Sedangkan penanganan pasca gempa ditujukan untuk melakukan pemulihan para korban dan tempat tinggal mereka. Untuk pemulihan para korban meliputi pemilihan fisik dan mental. Pemulihan fisik dilakukan dengan memberikan pelayanan dan perawatan yang baik.

Sedangkan pemulihan mental dilakukan dengan memberikan tausiyah-tausiyah yang menguatkan keimanan mereka kepada Allah SWT sehingga menghilangkan trauma, depresi dan gangguan psikis lainnya. Selanjutnya melakukan pemulihan tempat tinggal mereka dan bangunan infrastruktur yang rusak akibat gempa. Jika dipandang perlu maka negara akan relokasi penduduk ke tempat lain yang lebih aman dan kondusif.

Negara juga akan melakukan inovasi sains dan teknologi untuk mendukung keoptimalan penanganan bencana gempa baik pra, ketika dan pasca bencana gempa sebagai konsekuensi dari kewajiban melakukan pengurusan ummat.

Demikianlah cara Islam menanggulangi bencana gempa. Sudah saatnya kita mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT dan merenungkan firman-Nya dalam surat Al-A’raf ayat 96 yang artinya ” Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Walhasil tanpa sistem Islam, penanggulangan bencana di wilayah lainpun akan sama, seandainya daerah lain yang mengalaminya. Maka menjadi kewajiban untuk kembali kepada Allah SWT dengan menerapkan hukum-hukumNya agar negeri ini penuh berkah. Wallahu a’lam biashowab.

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co