Bencana Alam Akibat Pembangunan Eksploitatif Ala Kapitalisme

Husnia

Oleh: Husnia (Pemerhati Sosial)


 

Sebuah pepatah mengatakan, Tidak ada asap kalau tidak ada api.”  Artinya tidak ada akibat tanpa sebab. Itulah kira-kira gambaran kondisi bencana alam yang terjadi di Kalimantan Selatan. Hal ini dibenarkan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) yang menegaskan bahwa, Banjir besar di Kalimantan Selatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar cuaca ekstrem, melainkan akibat rusaknya ekologi di tanah Borneo,” (suara.com, 15/1/2021).

 

Bencana Alam berupa Banjir bandang menyebabkan bertambahnya krisis ekonomi di kalangan masyarakat bahkan nyawa pun ikut terseret arus air yang deras melanda pemukiman. Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono, mengatakan bahwa banjir tahun ini merupakan yang terparah dalam sejarah. “Banjir (2021) kali ini adalah banjir terparah dalam sejarah Kalimantan Selatan yang sebelumnya,” kata Kis saat dihubungi Suara.com, Jumat (15/1/2021).

Rakusnya Para Kapitalis Menyengsarakan Rakyat

 

Di era pesatnya paparan pandemi seperti saat ini membuat ekonomi negeri amblas, pengeluaran negara mencapai triliunan setiap bulannya sementara pemasukan tidak mencapai batas komsumsi. Pemerintah yang tengah membangun keterpurukan ekonomi mengarahkannya kepada pengelolaan hutan di Kalsel (Kalimantan Selatan) dengan membuka tambang dan perluasan lahan perkebunan sawit dengan harapan ekonomi bangkit dari keterpurukannya.

 

Dari data Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mencatat terdapat 4.290 Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau sekitar 49,2 persen dari seluruh Indonesia.“Sedangkan untuk tambang, bukaan lahan meningkat sebesar 13 persen hanya 2 tahun. Luas bukaan tambang pada 2013 ialah 54.238 hektar.” Berdasarkan laporan tahun 2020 saja sudah terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi, belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah (suara.com, 15/01/2021).

BACA JUGA :   Atas Nama Moderasi, Akidah Anak Tergadai?

 

Perlu dipahami, galian tambang di Kalimantan bukan hanya di bagian Selatan saja, melainkan menggerogoti hampir seluruh tubuh Kalimantan yang tahun ke tahun mengalami peningkatan drastis. Sehingga, tidak ditemukan lagi lahan yang sepenuhnya kosong di wilayah itu, salah satunya Kalimantan Selatan. Akibat penambangan hutan, Kalimantan dibabat habis. Dari yang dulunya memang terlihat gundul sekarang terlihat bentuk seperti lorong-lorong yang mengitari. Tak ada nyawa lagi yang bisa hidup di bawah naungannya, seolah telah mati tak berpenghuni.

 

Tak hanya itu, pengalihan fungsi (konversi) hutan untuk perkebunan kelapa sawit juga memberikan kontribusi besar terhadap semakin derasnya laju deforestasi. Konversi hutan menjadi area perkebunan sawit telah merusak lebih dari 7 juta hektar hutan sampai pada tahun 1997 sehingga menjadikan luasan dan kualitas semakin berkurang. Hal ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang bermukim di sekitaran hutan Kalimantan, Borneo.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co