Bencana Lombok, Saatnya Mendulang Bantuan Atau Wisatawan?

Oleh: Nurhayati, S.S.T

(Muslimah Media Kendari)

Belum pudar dalam benak kita pembukaan perhelatan akbar Asian Games ke 18 di Indonesia. Megahnya acara itu kita sudah bisa menaksir berapa dana yang digelontorkan pemerintah untuk acara ini. Tentu dengan biaya yang tak murah. Acara yang digelarStadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta ini passalnya menghabiskan sekitar  47 juta atau Rp 685,2 miliar (asiangames.tempo, 19/8/2018)

Dua hari sebelumnya dalam pidato kenegaraan Jokowi menyampaikan pidatonya diantaranya berjanji akan menaikkan gaji pokok dan pensiun pokok bagi aparatur sipil negara (ASN) termasuk pegawai negeri sipil atau PNS serta para pensiunan sebesar rata-rata lima persen pada 2019 (asiangames.tempo, 16/8/2018).

Kabar bahagia diatas tentu tak selamanya indah dirasakan oleh setiap orang. Hal ini tentu dirasa oleh warga yang terkena musibah gempa di Lombok. Masih belum lepas telinga dan mata ini melihat berita dari Lombok yang setiap hari mereka diguncang oleh gempa. Para korban bencana bahkan kehilangan rumah dan sanak saudara mereka menjadi korban dalam bencana itu. Dalam bencana ini tercatat telah menelan korban 469 orang meninggal dan 7.773 luka berat (kumparan.com, 20/8/2018)

            Bahkan penguasa negeri ini saja belum menetapkan status NTB sebagai bencana nasional dengan alasan pemerintah akan rugi jikalau wisatawan tidak datang ke Lombok yang terkenal karena potensi wisatanya. Seperti dilansir dalam situs (viva.co.id, 20/8/2018) Pramono yang mana saat ini menjabat sebagai Sekretaris kabinet ini mengeluarkan statement tak berbelas kasih bahwa ada kekhawatiran pemerintah, apabila gempa Lombok dimasukkan sebagai bencana nasional. Maka itu, akan berdampak negatif pada sektor pariwisata, yang menjadi salah satu andalan di sana.

            Sungguh diluar nalar kita mengapa bisa disaat genting ini masih yang berpikiran untung rugi ketimbang menyalurkan bantuan dan healing-therapy bagi korban bencana NTB itu.

BACA JUGA :   Hasil Alam Pulau Muna Diincar Negeri Tirai Bambu

Potret Penguasa Zaman Now, Kurang Peka

            Beberapa fakta diatas menjadi pemikiran bagi kita bisakah penguasa negeri ini bahkan kita turut dalam semarak pesta negara Asian Games ini sementara korban bencana Lombokuntuk merasakan makan saja belum tentu. Ibarat tangan terluka namun merasakan sakitnya pun tidak. Seperti itulah kondisi saat ini. Kita disini asik berpesta sementara dibelahan lain Indonesia ada saudara kita yang terus menerus waspada dikarenakan intensitas gempa yang terjadi sangat sering.

            Sejak awal bencana ini terjadi, pemerintah memang nampak gagal fokus dan terkesan pencitraan. Apalagi bencana ini memang terjadi di tengah perhelatan politik pencalonan presiden dan cawapres jelang pemilu 2019. Bahkan 2 minggu kemudia baru Presiden terjun kesana, bahkan diberitakan melakukan blusukan dengan motor trail dan siap menginap di tenda pengungsian seraya menjanjikan bantuan 50 juta rupiah kepada 1000 orang yang rumahnya rusak berat. Terlebih bagi pemerintah daerah sendiri kunjungan presiden dan rombongannya justru nampak menambah kerepotan tersendiri karena harus mempersiapkan fasilitas tenda mewah dalam waktu yang sangat singkat.

            Bantuan yang dijanjikan oleh penguasa belum sampai menjadi solusi hakiki bagi para korban. Belum lagi telah kita ketahui kondisi ekonomi negeri sedang tak baik. Ditengah himpitan hutang, ditimpa bencana alam bertubi-tubi, dan mengadakan pesta besar nan meriah. Begitulah potret kondisi negeri saat ini. Maka tidak salah jika rententan peristiwa saat ini negara dalam hal ini pemerintah dinilai telah lalai dan tidak bertanggung jawab dan  dipandang gagal mengurus urusan rakyatnya. Karena memang negara atau pemerintahlah pihak yang paling bertanggungjawab dalam pencegahan dan penanggulangan segala sesuatu yang menyengsarakan rakyatnya.

Peran Penguasa Dalam Islam

Dalam Islam, al hukkam atau penguasa adalah pihak yang bertanggung jawab dalam urusan umat, dalam pengaturannya hingga kesejahteraannya. Penguasa akan senantiasa melayani dan mengurus urusan rakyatnya sesuai dengan hukum syara’. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Imam(Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala (raa-iin). Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al- Bukhari). Dalam hadits lain, beliau saw bersabda : “Imam/pemimpin itu adalah junnah/pelindung”

BACA JUGA :   Mengokohkan Keimanan Melalui Musibah Banjir di Konawe

Fungsi raa-iin dan junnah ini memang tidak terlaksanadalam sistem demokrasi  sekuleristik saat ini. Abainya fungsi oenguasa terhadap pengurusan rakyatnya seperti ini memang telah menjadi karakter yang melekat pada kepemimpinan sekuler di belahan bumi manapun.

Hal ini  dikarenakan kepemimpinan sekuler yang diterapkan saat inimiskin dari nilai-nilai ruhiyah yang menuntun penguasa untuk bertanggungjawab terhadap segala macam amanah kepemimpinannya. Yakni, mengurus seluruh umat sesuai tuntunan syariat Islam, memenuhi hak-hak mereka dan mensejahterakan kehidupan mereka, serta mengurus nusantara sesuai dengan aturan-aturan Islam.

Maka jangan heran jika bencana terus menerus menempa negeri ini ditambah lagi kemiskinan sistemik yang mendera negeri ini. Rakyat pribumi dibiarkan nganggur sementara investor asing berbalut eksploitasi dimakmurkan. Maka kerusakan dan bencana ini terjadi akibat penguasa yang melakukan kemungkaran besar yakni tidak mau tunduk pada syariat Islam dalam mengatur berbagai urusan kehidupan, termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam, maupun dalam melakukan proses pembangunan.

Allah SWT berfirman : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).” (TQS Ar Ruum: 41)

Seorang muslim haruslah menumbuhkan kepekaan dan peduli terhadap kondisi yang terjadi di sekitarnya, terutama yang terjadi pada saudaranya sesama muslim. Rasulullah bersabda, “Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat. “ (HR. Muslim).

Jika tadi adalah individu lalu bagaimana harusnya sikap para penguasa atau pemimpin negara?  Maka berbeda antara peran individu dan tanggung jawab penguasa .  Individu hanya bisa membantu sebatas kemampuan, sedangkan Negara dalam hal ini penguasa harus bertanggungjawab sepenuhnya atas kondisi rakyatnya.  Tanggung jawab pelayanan ini meliputi segala urusan publik yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat, termasuk  penanganan korban bencana alam.

BACA JUGA :   Islam Menjaga Profesionalitas dan Kesejahteran Guru

Penguasa semestinya mencurahkan segenap tenaga dalam menjalankan tanggung jawabnya terhadap rakyat, bahkan Rasulullah saw. mengancam para pemimpin yang melalaikan kewajiban ini sebagaimana hadits dari Ma’qil bin Yasar RA berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba yang dibebani Allah untuk mengurusi rakyatnya dan dia tidak membatasinya dengan nasihat melainkan dia tidak mendapatkan bau surga”. (HR. Bukhori).

Maka para penguasa negeri ini hendaknya berpikir keras dan melakukan aksikonkrit untuk mengatasi segala persoalan yang menimpa rakyat disegala aspek kehidupan. Termasuk dalam penanganan bencana alam ini seperti dari sisi pencegahan yakni dari segi konstruksi bangunan bagi daerah rawan gempa termasuk  pasca terjadinya bencana alam seperti yang terjadi di Lombok saat ini. Segala potensi harus dikerahkan untuk mengembalikan kondisi korban.

Pemerintah tidak boleh melempar tanggung jawab ini pada masyarakat. Karena sekali lagi tugas individu dan Negara adalah berbeda. Semuanya akan dimintai pertanggungjawabandi pengadilan Allah Subhanallahu Wa Ta’Ala.

Jangan sampai pesta besar negara membuat kita lupa bahwa negara kini sedang berpesta pora ditengah lilitan hutang dan korban bencana alam ini.  Akhirnya menjadi pengingat bagi kita bahwa setiap bencana yang terjadi menjadi alarm bagi umat untuk me muhasabahi diri dan berjuang bersama agar hukum-hukum Allah tegak dan kehidupan dunia sejahtera. Wallahu a’lam bishshowab. [***]

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co