Bendera Tauhid Satukan Umat

?????????????
Ketgam : Risna

OPINI : Aksi Bela Tauhid sendiri merupakan buntut dari pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama di Garut. Seperti dilansir dalam Jakarta, IDN Times – Usai pada pekan lalu, massa menggelar aksi bela Bendera Tauhid di depan Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan, kini mereka berencana kembali turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi yang sama pada Jumat (2/11). Namun, mereka tidak puas dengan hasil penyelidikan pihak kepolisian.

Persaudaraan Alumni 212 akan menuntut pemerintah dan Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama agar mengakui benda yang dibakar oleh Banser NU di Garut adalah Bendera Tauhid dan bukan melambangkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ketua PA Alumni 212, Slamet Ma’arif, Aksi Bela Tauhid rencananya digelar di seberang Istana Kepresidenan. Sama seperti aksi pada pekan lalu, mereka akan mulai long march usai menggelar salat Jumat di Masjid Istiqlal.

“Sampai saat ini belum ada dari pemerintah atau PBNU yang menyatakan hal itu (itu bendera Tauhid). Kami akan menuntut hal itu, adanya pengakuan dari pemerintah, negara, bahwa betul bendera yang dibakar adalah Bendera Tauhid,” ujar Slamet yang ditemui di media centre Prabowo-Sandi pada Kamis malam (1/11).

La ILaha Illallah, Pemersatu Umat

Panji Rasulullah saw, baik al-liwa (panji putih) dan ar-rayah (panji hitam) bukanlah sembarang panji yang berhenti sebagai simbol. Rayah dan Liwa’ Rasul saw. digambarkan secara detil dalam banyak hadits, baik warnanya, bentuknya maupun tulisannya. Ibnu ‘Abbas ra. menuturkan: “Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa’ beliau berwarna putih (HR at-Tirmidzi, al-Baihaqi, ath-Thabarani dan Abu Ya’la).

Bentuk Rayah dan Liwa’ Nabi saw. itu persegi empat. Al-Barra’ bin ‘Azib ra. menuturkan: “Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam, persegi empat, terbuat dari kain wol Namirah (HR at-Tirmidzi, an-Nasai dan al-Baghawi).

BACA JUGA :   Tingkatkan PAD, Dinkes Koltim Rencana Bentuk UPT Farmasi dan Laboratorium

Pada Rayah dan Liwa’ Rasulullah saw. tertulis kalimat tauhid Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh, sebagaimana hadis penuturuan Ibnu Abbas ra.:

Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan Liwa’ beliau berwarna putih; tertulis di situ lâ ilâha illa AlLâh Muhammad RasûlulLâh (HR Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlâq an-Nabiy saw).

Menurut K.H. Shiddiq Al-Jawi, bahwa bendera Rasulullah SAW baik al-Liwa‘ (bendera putih) maupun ar-Rayah (bendera hitam) bukanlah sembarang bendera yang berhenti sebagai simbol. Keduanya mengekspresikan makna-makna mendalam yang lahir dari ajaran Islam. Di antara makna-makna di balik bendera Rasulullah SAW antara lain:

Pertama, sebagai lambang ‘Aqidah Islam. Pada al-Liwa‘dan ar-Rayah tertulis kalimat syahadat: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran; kalimat yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Dalam hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Thabrani dari Buraidah ra. diterangkan,“Rayah Nabi SAW berwarna hitam dan Liwa‘-nya berwarna putih.”

Maka dari itu, sebagai simbol syahadat, bendera tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah SAW kelak pada Hari Kiamat. Bendera ini disebut oleh Beliau sebagai Liwa‘ al-Hamdi (Bendera Pujian kepada Allah). Beliau bersabda, “Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan aku tidak sombong. Di tanganku ada Liwa‘ al-Hamdi dan aku tidak sombong.” (HR at-Tirmidzi).

Kedua, sebagai pemersatu umat Islam. Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keanekaragaman bahasa, warna kulit, kebangsaan ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam.

Ketiga, sebagai simbol kepemimpinan. Faktanya, al-Liwa‘ dan ar-Rayah itu selalu dibawa oleh komandan perang pada zaman Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Misalnya pada saat Perang Khaibar, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh aku akan memberikan ar-Rayah ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan kepada dirinya.”

BACA JUGA :  

Umar bin al-Khaththab berkata, “Tidaklah aku menyukai kepemimpinan kecuali hari itu.” (HR Muslim).

Keempat, sebagai pembangkit keberanian dan pengorbanan dalam perang. Makna ini khususnya akan dirasakan dalam jiwa pasukan dalam kondisi perang. Pasalnya, dalam perang, pasukan akan terbangkitkan keberaniannya dan pengorbanannya selama mereka melihat benderanya masih berkibar-kibar.

Pasukan akan berusaha mati-matian agar bendera tetap berkibar dan menjaga jangan sampai bendera itu jatuh ke tanah sebagai simbol kekalahan (Abdul Hayyi al-Kattani, ibid., I/267).

Bendera sebagai pembangkit semangat dan keberanian itu tampak jelas dalam Perang Mu’tah. Saat itu komandan perang yang memegang bendera berusaha untuk tetap memegang dan mengibarkan bendera walaupun nyawa taruhannya. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa yang memegang ar-Rayahdalam Perang Mu’tah awalnya adalah Zaid bin Haritsah, tetapi ia kemudian gugur. Ar-Rayah lalu dipegang oleh Ja’far, tetapi ia pun gugur. Ar-Rayah lalu berpindah tangan dan dipegang oleh Abdullah bin Rawwahah, tetapi ia akhirnya gugur juga di jalan Allah SWT (HR al-Bukhari, Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, IV/281).

Kelima, sebagai sarana untuk menggentarkan musuh dalam perang. Bagi diri sendiri bendera berfungsi untuk membangkitkan semangat dan keberanian. Sebaliknya, bagi musuh bendera itu menjadi sarana untuk memasukkan rasa gentar dan putus asa kepada mereka. Imam Ibnu Khaldun dalam kaitan ini menyatakan, “Banyaknya bendera-bendera itu, dengan berbagai warna dan ukurannya, maksudnya satu, yaitu untuk menggentarkan musuh…” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, II/805-806).

Semenjak Khilafah di Turki runtuh tahun 1924, negeri-negeri Islam terpecah-belah atas dasar konsep nation-state (negara-bangsa) mengikuti gaya hidup Barat. Implikasinya, masing-masing negara-bangsa mempunyai bendera nasional dengan berbagai macam corak dan warna. Ketika itulah al-Liwa‘ dan ar-Rayah seakan-akan tenggelam dan menjadi sesuatu yang asing di tengah masyarakat muslim.

BACA JUGA :   Korea Selatan Kerjasama Agro Industri Pertanian Di Sultra

Hal ini menimbulkan pandangan curiga terhadap bendera Islam yang bertuliskan Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Bendera yang dicontohkan sendiri oleh Rasulullah SAW ini pun kemudian sering dicap atau dihubungkan dengan terorisme atau radikalisme.

Akhirnya, kita sebagai umat muslim seharusnya sadar dan kembali mengkaji ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW termasuk dalam persoalan bendera Islam ini, agar kita tidak mudah diadu domba dan difitnah, karena akan besar pertanggung jawabannya dihadapan Allah SWT.

Maka jika ingin menyebut diri sebagai umat terbaik, kembalilah kepada Allah dengan ketaatan sempurna, yang menjalankan aturan-Nya untuk menangani masalah perorangan hingga kenegaraan. Itulah muslim terbaik.

Itulah yang akan membuat umat ini kembali menjadi umat terbaik. Umat yang bersatu di bawah satu kalimat tauhid, Laa ilaaha Illallah, Muhammad Rasulullah. Umat Islam juga seharusnya menjunjung tinggi dan menghormati Liwa’ dan Rayah Rasul saw itu serta berjuang bersama untuk mengembalikan kemulian dan makna keduanya sebagai panji tauhid, identias Islam dan kaum Muslim sekaligus pemersatu mereka.

Maka wajar ketika umat Islam yang merasa tersakiti ketika ada bendera bertuliskan Laa Ilaha Illallah dianggap ‘dilecehkan’. Karena itu, bertaubatlah wahai para para pembakar bendera tauhid! Wallahu a’lam.(**)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co