Bungkam Suara Intelektual, Demokrasi Harakiri

Irayanti S.AB
Irayanti S.AB

Oleh : Irayanti S.AB (Relawan Media)


Mahasiswa sebagai intelektual muda dan berfungsi sebagai agent of change turun ke jalan.Jalanan menjadi saksi bisu para intelektual menyampaikan aspirasi.Gelombang demonstrasi membahana di ibukota Jakarta. Aksi serupa juga terjadi di beberapa daerah. Hal ini sebagai respon penolakanatas pengesahan UU Ciptaker yang diketok palu tengah malam oleh ‘wakil rakyat’yakni DPR.

 

Para rezim mencuci tangan dan menjaga jarak dari rakyat. Demokrasi dengan slogan kedaulatan berada di tangan rakyat, semakin nyata hanya slogan tipuan. Demokrasi perlahan harakiri (bahasa jepang artinya bunuh diri)

 

Rezim Arogan, Mahasiswa Geram

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan surat edaran DitjenPendidikanTinggi(Dikti)KemendikbudNomor1035/E/KM/2020 yang menghimbau kepada mahasiswa agar tidak melakukan demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja.

 

Hal tersebut dinilai telah membungkam aspirasi mahasiswa.Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim menyatakan adanya surat edaran semakin mengkonfirmasi bahwa kampus sudah tidak merdeka lagi(Padangkita.com,12/10/2020).

 

Maka ini sangat kontradiktif dengan jargonkampus Merdeka yang diiklankan oleh rezim.Seolah kampus merdeka hanya berorientasi menghasilkanrobotkapitalis.Rezim berdalih untuk mencegah kluster baru korona jika ada demo. Sayangnya mereka tidak sadar diri bahwa pemicu awalnya karena tingkahmereka sendiri.Pengesahan UU Ciptaker yang belum final serta diabaikannya aspirasi para intelektualyang membuat mahasiswa semakin geram dengan rezim.

 

Inilah Akar Masalahnya

BACA JUGA :   Menyoroti Tren Hijrah Para Selebriti

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co