Buton Buka Keran untuk Investor, Peluang Lapangan Kerja Atau Lapangan Penjajahan?

Oleh : Nisa Revolter


Indonesia, negeri gemah ripah loh jinawi. Negeri yang tidak pernah habis-habis kekayaannya. Baik di dalam perut ataupun di permukaan bumi. Baik yang nampak maupun tidak. Kekayaan alam berlimpah, tumpah ruah di bumi pertiwi. Sayangnya, kekayaan berlimpah ini belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh penduduk setempat. Akibatnya, menjadi sasaran empuk lagi bagi pihak asing.

 

Khususnya Sulawesi Tenggara, setelah setahun lalu membuka peluang sebesar-besarnya untuk menerima TKA di Kabupaten Konawe sebab tambang swasta yang telah diberi konsesi oleh pemerintah. Kini, melirik Kabupaten Buton, khususnya pertambangan mangan dan nikel yang sangat potensial di sana. Investor China pun tertarik untuk mengembangkan pabrik baterai litium. Konsep yang digagas bernama Buton Industrial Park (BIP) sebagai pusat pertambangan kota daur ulang baterai. Lokasinya tepat di Kecamatan Kapontori (telisik.id, 24/12/2020).

 

Ketertarikan investor tersebut disambut hangat oleh Bupati Buton, La Bakri M.Si. Bahkan ia akan membantu dalam penyiapan segala hal termasuk komunikasi dengan pihak perusahaan nikel untuk bahan baku dan smelter nikel. Harapannya, dengan adanya pabrik baterai nanti mampu menyerap tenaga kerja yang banyak sehingga angka pengangguran berkurang.

 

Rencananya tim dan investor akan berkunjung langsung ke Buton awal tahun 2021 sekitar bulan Maret untuk melihat secara langsung kesiapan kawasan industri di Buton (butonoke.com, 24/12/2020).

 

Indonesia membuka peluang besar bagi investor, apakah itu dari China atau bukan, asalkan memenuhi kriteria yakni devisa untuk negara dan mampu menyerap tenaga kerja. Itu yang disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia (cnbcindonesia.com, 17/12/2019).

 

Apalagi dengan melihat etos kerja WNA China jauh berbeda dengan Indonesia. Bertambah keyakinan Indonesia untuk mau menerima China sebagai investor. Menurut Bahlil, China membangun smelter di Sulawesi tepatnya di Morowali, hanya membutuhkan waktu 18 bulan, sedang Freeport di Gresik butuh waktu 2 tahun untuk hasil 20%. Ini membuktikan produktivitas China bisa diperhitungkan.

BACA JUGA :   Seleksi Tilawatil Qur'an dan Hadis Tingkat Konawe Dimulai

 

Peneliti Migrasi Tenaga kerja Internasional P2SDR-LIPI (Pusat Penelitian Sumber Daya Regional – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Rudolf Yuniarto, menyatakan kebijakan investasi China juga diiringi pengiriman tenaga kerja. Atas dasar efisiensi tentu investasi China lebih menarik perhatian (merdeka.com, 8/5/2018).

 

Buton terkenal dengan aspal, potensi kelautan dan perikanan, juga kaya akan kandungan mangan dan nikelnya. Akankah kolaborasi Pemkab Buton dan investor akan membawa kemaslahatan dan kesejahteraan bagi masyarakat?

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co