Cinta Nabi : Wajib Taat Syariat, Tanpa Nanti, Tanpa Tapi!

Ketgam : Mariana, S.Sos
Ketgam : Mariana, S.Sos

Oleh : Mariana, S.Sos ( Guru SMPS Antam Pomalaa- Kolaka )



Dilansir oleh TRIBUNNEWS.COM, 28 Oktober 2020, Hikmah dan Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Jatuh pada Kamis, 29 Oktober 2020.

 

Makna dari cinta Nabi bukan hanya sebatas mengenang warisan atau peranan Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya, tapi sudah menjadi kewajiban bagi kaum muslim untuk melanjutkan perjuangan Rasulullah dalam menjaga Islam.

 

Tentu saja menjaga ajaran Islam harus dengan menerapkannya dalam kehidupan masyarakat dan negara, bukan ritual yang bersifat rutinitas tahunan yang dijalankan dalam lingkup individual semata, tapi lebih dari itu ketika seseorang merasa cinta sama Nabi maka sudah sepatutnya memperjuangkan penerapan syariat Islam secara Kaffah dalam Institusi kenegaraan bukan malah menentang syariat Nabi atau bahkan menghinanya.

 

Cinta Nabi bukanlah seremoni tahunan yang setelahnya dilupakan, karena jika demikian maka cinta itu hanyalah cinta semu atau palsu, wujud dari cinta hakiki pada Nabi adalah dengan mengikuti risalah yang dibawa yakni Alquran dan Sunnah

 

Perwujudannya bukan hanya mengikat dan dijalankan secara personal oleh Individu atau komunitas, tapi harus menjadi pemikiran, perasaan dan aturan yang diterapkan negara dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Maka esensi dari Cinta Nabi adalah penerapan Islam secara totalitas dalam bentuk undang-undang, sehingga terinternalisasi dalam diri pemeluknya dan juga menjadi dakwah bagi pemeluk agama lain. Maka itu penting menjadikan Islam terwujud dalam bentuk peraturan kenegaraan yang mengikat warga negaranya.

 

BACA JUGA :   Friksi POP, Antara Prioritas Anggaran atau Intervensi Korporasi ?

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co