Covid-19 Meningkat, Rakyat Kritis, Negara  Ikut Sakit


Oleh: Hamsina Halisi Alfatih


Ruang isolasi untuk pasien positif virus Corona (Covid-19) di RSUD Kota Kendari sudah melebihi kapasitas alias full seiring peningkatan signifikan kasus positif di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara itu. (Cnnindonesia.com,10/08/20)

Demikian disampaikan oleh Direktur RSUD Kota Kendari Sukirman pada Senin (10/8) dirinya mengatakan, batas maksimal ruang isolasi Covid di Kota Kendari hanya 75 pasien. Namun, karena terjadi penambahan kasus beberapa hari ini, maka banyak pasien yang dialihkan untuk dirawat di RSU Bahteramas Kendari.

Peningkatan kasus virus Corona seiring dengan kurang tanggapnya negara dalam menangani permasalahan tersebut semakin menegaskan bahwa pemerintah tidak serta merta peduli terhadap kesehatan masyarakat. Hal ini terlihat pada fakta lapangan dimana peningkatan pasien akibat virus Corona salah satunya dikota Kendari, Sulawesi Tenggara  yang mengalami peningkatan secara signifikan.

Angka konfirmasi positif virus Corona atau Covid-19 di Indonesia terus mengalami lonjakan dari hari ke hari. Dari data per Sabtu, 18 Juli 2020, angka konfirmasi positif Corona sudah menembus 84.882 kasus. Jika merujuk worldometers, angka konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia sudah melampaui China, negara yang pertama kali menjadi pusat wabah virus Corona. Diketahui, angka positif Covid-19 di China saat ini hanya 83.644. (Okezone.com,19/07/20)

Menurut Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani saat dihubungi Okezone pada Minggu (19/7/2020) mengatakan ada sejumlah faktor yang menjadikan angka kasus konfirmasi positif di Indonesia terus melonjak berdasarkan hasil analisisnya. Pertama, karena masifnya pelacakan (tracing) serta pengujian (testing).

Disisi lain, ada pula faktor yang menyebabkan angka kasus positif Covid-19 melonjak yakni, karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan. Padahal, kasus Corona di Indonesia belum sama sekali mengalami penurunan. Hal ini terlihat saat pemerintah mulai berlakukan kebijakan New Normal. Sehingga masyarakat pun mengabaikan adanya protokol kesehatan untuk menggunakan masker dan berjaga jarak.

Padahal, hal penting yang harus dilakukan pemerintah adalah dengan fokus menurunkan kasus penyebaran virus Corona yang saat ini semakin memperburuk perekonomian. Bukan justru mengeluarkan kebijakan baru yang berdampak pada meningkatnya penyebaran virus Corona.

Dari sini kita bisa menilai bahwa tidak adanya keseriusan pemerintah dalam memberikan perlindungan kesehatan terhadap masyarakat. Kenyataannya, pemerintah hanya memfokuskan pada perbaikan ekonomi namun abai terhadap kesehatan rakyat. Padahal, jika saja pemerintah fokus dalam penanganan covid-19 dengan melakukan lockdown/penguncian wilayah secara permanen maka hal ini akan meminimalisir bahkan mengentikan penularan wabah virus Corona.

Kebijakan lockdown seperti ini pernah dicontohkan pada masa Rasulullah SAW ketika menghadapi wabah kusta dan diare. Dengan kebijakan ini rakyat dilarang untuk keluar masuk wilayah yang terkena wabah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ، وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا، فِرَارًا مِنْهُ

Artinya: “Jika kalian mendengar tentang thoún di suatu tempat maka janganlah mendatanginya, dan jika mewabah di suatu tempat sementara kalian berada di situ maka janganlah keluar karena lari dari thoún tersebut.” (HR Bukhari).

Oleh karena itu sekiranya pemerintah tidak gegabah dalam mengeluarkan kebijakan yang pada nantinya akan mengorbankan rakyat seperti saat ini. Maka, sudah seharusnya pula pemerintah untuk segera mengambil tindakan seperti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sebab, Islam sangat memperhatikan terkait jaminan kesehatan rakyat.

Maka, dibutuhkannya peran seorang pemimpin dalam mengurus terkait kebutuhan rakyatnya termaksud masalah kesehatan. Rasulullah SAW bersabda:

«الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

Pemimpin adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR Al-Bukhari).

Tugas seorang pemimpin disini adalah menjamin kesehatan rakyat dengan memenuhi kebutuhan rakyat seperti menyediakan layanan dan fasilitas kesehatan  serta dokter ahli kesehatan secara cuma-cuma. Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa serombongan orang dari Kabilah ‘Urainah masuk Islam. Mereka lalu jatuh sakit di Madinah. Rasulullah saw. selaku kepala negara kemudian meminta mereka untuk tinggal di penggembalaan unta zakat yang dikelola Baitul Mal di dekat Quba’. Mereka diperbolehkan minum air susunya secara gratis sampai sembuh (HR al-Bukhari dan Muslim).

Inilah jaminan kesehatan yang diberikan dalam Islam yang semestinya bisa diterapkan oleh pemerintah ketika kondisi wabah tengah melanda negeri ini. Yang pastinya hal ini akan dapat terwujud ketika negara benar-benar menerapkan syari’at Islam secara menyeluruh baik dari sisi ekonominya, politiknya, kesehatannya dan lainnya seperti yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW dan Khulafaur Rosyidin serta generasi setelahnya.

Wallahu A’lam Bishshowab

Editor : Rj | Publizher : Iksan

error: Hak Cipta dalam Undang-undang