, ,

Demokrasi, Ilusi Tak Berujung Solusi

Oleh: Ayu Oktaviani Krusia

(Aktivis BMI Kolaka)

OPINI : Jakarta (ANTARA News) – Ulama Lebanon Syeikh Zubair Utsman AL Ju’aid mengajak umat Islam di Indonesia tidak tergoda dengan sistem pemerintahan kekhalifahan karena di masa kini model pemerintahan itu justru bisa menyebabkan ketidakstabilan.

“Jangan terpecah, terkecoh dan terpengaruh dengan rayuan untuk mendirikan negara khilafah atau bentuk negara selain saat ini,” kata Syeikh Zubair dalam kesempatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu.

Ketua Organisasi Jamiat Al Amal Al Islamy Lebanon itu mengatakan Indonesia dengan sistem demokrasi saat ini sudah baik dalam mengakomodir nilai-nilai ke Islaman.

Zubair memuji sistem demokrasi di Indonesia yang bisa bersanding dengan Islam secara selaras.

Islam yang dipraktekkan di Indonesia, kata dia, merupakan contoh baik yang sejalan dengan demokrasi. Indonesia juga merupakan negara yang aman sehingga tidak ada kepentingan mendesak sistem kekhalifahan didirikan di Indonesia.

Lebih dari itu, menurut dia, sistem demokrasi di Indonesia sudah menerapkan syariah yang baik. “Saat ini, kita berada di negara yang aman dan nyaman, berdemokrasi dalam bingkai yang sah. Kita berada di negara bersyariat tapi dalam bingkai demokrasi. Inilah gambaran pemerintahan Islam,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Zubair mengingatkan umat Islam untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan di manapun berada. “Untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan,” katanya.

Demokrasi, Bahaya Nyata!

Demokrasi adalah sebuah sistem yang sangat-sangat berbeda dari segi aspek manapun tidak ada kecocokan di kedua sistem tersebut.

Dilihat dari sejarah lahirnya demokrasi, demokrasi lahir sebagai solusi dari dominasi gereja yang otoriter dan absolute sepanjang Abad Pertengahan ( Abad V-XV M). Di satu titik ekstrem, dominasi gereja dan raja Eropa menghendaki tunduknya seluruh urusan kehidupan (politik, ekonomi, sains, seni) pada dogma gereja. Di titik ekstrim lainnya, dominasi gereja ini ditentang oleh para filosof dan pemikir yang m enolak secara mutlak peran agama Katolik dalam kehidupan.

BACA JUGA :   Sistem Demokrasi Sekuler Lahirkan Rezim Anti Kritik

Sepanjang Abad Pertengahan, raja yang mengatasnamakan wakil Tuhan di Bumi secara semena-mena memaksa kehendaknya, serta menghukum siapa saja yang menentangnya. Pada masa itu siapa pun yang menentang dogma gereja, termasuk ilmu pengetahuan, harus diberengus. Para pemikir dan ilmuwan diburu, dipenjara, disiksa, bahkan dihukum mati. Bahkan raja dan gereja membuat alat-alat penyiksaan mengerikan untuk menghukum orang-orang yang menetang mereka.

Terjadinya peristiwa Reformasi Gereja dan Renaissance, menjadi titik tolak untuk meruntuhkan dominan otoriter gereja tersebut. Akhirnya pasca Revolusi Perancis tahun 1789, terwujudlah jalan tengah dari dua titik ekstrem tadi, yang terumuskan dalam sekularisme, yakni paham pemisahan agama dan kehidupan. Agama tidak diingkari secara total, tetapi masih diakui walaupun terbatas, yakni hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dalam urusan ibadah ritual semata.

Maka bagi sekularisme, agama adalah sumber persoalan. Agama harus dipisahkan dari kehidupan. Agama harus dipisahkan dari negara. Agama juga harus dipisahkan dari pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Politik, ekonomi, pendidikan harus steril dari campur tangan agama. Kalau ada satu tempat di mana agama boleh bersemayam tanpa diusik-usik, maka tempat itu adalah peribadatan individu. Apa pun alasannya, agama harus dipisahkan dari kehidupan, atau bencana kesewenang-wenang agama akan kembali terulang.

Setelah agama berhasil dicegah untuk mengatur kehidupan, pertanyaannya lalu dengan aturan apa kehidupan akan berjalan? Karena bagaimana pun manusia tetap membutuhkan aturan, jika  bukan dengan atuaran agama, lalu dengan aturan apa? Jawabannya adalah dengan aturan yang dibuat oleh manusia. Dari sinilah peran demokrasi mulai tampak.

Demokrasi menyakini manusia sebagai pembuat hukum, bukan Tuhan. Kalau pun hukum Tuhan akan diberlakukan, tetap harus sepersetujuan manusia. Tanpa sepersetujuan manusia yang diwakili oleh mayoritas anggota parlemen, maka hukum apa pun-termasuk hukum Allah SWT – tidak layak diterapkan. Sampai hari ini, sistem demokrasi seperti inilah yang berlaku di hampir setiap negara di dunia, termasuk negeri-negeri Islam.

BACA JUGA :   KPUD Konawe Buka Pendaftaran Relawan Demokrasi, Ini Kuota yang Dibutuhkan

Sebenarnya hanya dengan melihat sejarah lahirnya demokrasi, kita sudah punya alasan kuat untuk membuangnya. Karena kalau kita masih menerima demokrasi, itu sama saja kita menganggap sejarah berdarah Abad Pertengahan adalah sejarah umat Islam juga. Sehingga sejarah kelam tersebut harus disembuhkan dengan sekularisme dan demokrasi.

Padahal umat Islam memiliki sejarah berbeda yang bersih dan cemerlang. Tidak ada alasan sama sekali untuk mengadopsi demokrasi. Jika umat Islam masih bersikeras menerima demokrasi, itu sama saja dengan umat Islam bersikeras diterapi untuk sakit yang tidak mereka derita.

Bagaimana Islam ?

Islam adalah agama yan diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya sendiri, dan manusia dengan sesamanya. Hubungan manusia dengan Allah di antaranya meliputi akidah dan hukum-hukum ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri meliputi hukum-hukum pakaian, makanan, minuman dan ahlak.

Hubungan manusia dengan sesamanya meliputi hukum-hukum muamalah seperti sistem ekonomi, sistem politik, sistem pendidikan, sistem peradilan, sistem pergaulan. Inilah gambar Islam yang kaffah. Dan peradaban Islam tegak di atas pilar ini.

Jadi demokrasi dan Islam kaffah itu tidak pernah sejalan karena di lihat dari sejarah demokrasi dan aturan-aturannya itu sendiri jauh berbeda dengan Islam secara kaffah.

Namun sekularisme telah melucuti pilar muamalah (politik), akibatnya hanya menyisakan Islam sebatas ibadah ritual dan akhlak semata. Untuk bisa mengembalikan Islam kaffah, maka Islam harus kembali difahami dan diamalkan tidak sebatas ibadah-akhlak, tapi juga politik, ekonomi, pendidikan, militer dan hukum-hukum muamalah lainnya. Di samping itu kita harus memahami dengan asas, standard dan perinsip apa peradaban Islam dibangun.

Peradaban sekuler dibangun dari asas, standar dan sumber tertentu, demikian pula peradaban Islam dibangun dari asas, standar dan sumber tertentu. Jika peradaban sekuler asasnya adalah pemisaham agama dengan negara, peradaban Islam adalah penyatuan agama dengan seluruh aspek kehidupan termasuk negara.

BACA JUGA :   Seorang Relawan Demokrasi KPU Konawe Berafiliasi dengan Caleg

Jika peradaban sekuler standarnya adalah manfaat dan mudharat, peradaban Islam standarnya adalah halal dan haram. Jika peradaban sekuler sumbernya adalah kehendak mayoritas manusia, peradaban Islam sumbernya adalah wahyu Allah SWT. Wallahu a’lam bi ash a-shawab.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co