Di Koltim ada Reward Bagi Kepala Sekolah Yang Sukses Vaksinasi Siswa

KOLTIM – Pemerintah daerah Kolaka Timur bersama TNI-Polri gelar sosialisasi vaksinasi pada anak usia 6-11 tahun di aula pemda, jumat 21/01/2022, para kepala sekolah se-Koltim hadir di kegiatan tersebut.

Pj Bupati Koltim Sulwan Aboenawas menyampaikan, vaksinasi anak usia 6-11 tahun, merupakan kebijakan pemerintah pusat yang pelaksanaanya di lakukan di setiap daerah kabupaten/kota. Koltim sendiri, untuk mempercepat vaksinasi anak, di lakukan kegiatan sosialisasi yang di hadiri para kepala sekolah.

Tujuan sosialisasi ini, untuk menyamakan persepsi dalam menyukseskan vaksinasi anak ini, selain itu guna memberikan edukasi langsung kepada kepala sekolah jika dalam pelaksanaan vaksinasi ada hal-hal di luar ekspektasi terjadi di lapangan.

“Jika ada siswa atau orang tua siswa yang menolak di vaksinasi, maka peran kepala sekolah inilah yang akan memberikan edukasi kepada mereka, itulah pentingnya sosialisasi vaksinasi anak ini, sebab saat ini banyak beredar berita hoax terkait vaksinasi anak ini,” kata Sulwan Aboenawas.

Sebagai penyemangat dalam mensukseskan vaksinasi anak pada usia 6-11 tahun, sambung Sulwan, Pemerintah daerah Koltim akan memberikan reward langsung kepada kepala sekolah yang berhasil melakukan vaksinasi 100% tercepat ke anak didiknya.

“Sekolah yang berhasil melakukan vaksinasi 100 persen akan di berikan reward langsung dari pemerintah daerah Koltim,” janji Sulwan Aboenawas.

Di tempat yang sama,Muhammad Juniardi Madjid Kepala Dinas pendidikan, kebudayaan dan Olahraga Koltim, juga menyampaikan hal senada. Kata Didi sapaan akrab nya, juga menyiapkan reward kepada kepala sekolah yang dapat melakukan vaksinasi pada anak usia 6-11 tahun di sekolah.

” Diluar dari Bupati, kami (Dikmodora) juga menyiapkan reward kepada kepala sekolah yang sukses melaksanakan vaksinasi 100% di sekolahnya,” terang Adik Alm. Samsul Bahri Madjid ini.

Ia juga mengingatkan kepada kepala sekolah, sesuai prosedur vaksinasi, sebelum di vaksin, di lakukan terlebih dulu screening, untuk mendeteksi apakah ada penyakit bawaan atau tidak, jika terdapat penolakan tanpa alasan oleh anak atau orang tua saat hendak di vaksinasi, maka yang pertama di lakukan dengan pendekatan secara persuasif.

“Pertama secara persuasif, kita berikan edukasi kepada orang tua tentang dampak positif nya vaksinasi ini untuk terhindar dari corona, kalau misalnya ada orang tuanya yang kurang merespon, maka mereka (anak didik) dilarang dulu masuk sekolah, walau tidak ada gejala, dari pada nanti ada korban lebih banyak gara-gara satu orang tidak di vaksin lebih baiknya kita hentikan dulu dan terus lakukan pendekatan ke orang tuanya,” terang Muhammad Juniardi Madjid.


 

error: Hak Cipta dalam Undang-undang