Dolar Naik, Rupiah Panik

OPINI : Liputan6.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) sudah intervensi di pasar surat berharga negara (SBN) dengan melakukan pembelian kembali mencapai Rp 11,9 triliun. Hal itu disampaikan Bank Indonesia saat rapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Komisi XI DPR RI memanggil jajaran Bank Indonesia (BI) perihal kondisi rupiah saat ini. Mata uang Garuda tersebut nilainya terus merosot terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo membeberkan kondisi nilai tukar rupiah terkini. Perry menjelaskan, rupiah terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat disebabkan oleh faktor eksternal.

Faktor yang dimaksud adalah kondisi ekonomi global yang tengah bergejolak. Ekonomi AS menguat dan terus menaikkan suku bunga acuannya sementara negara lain melemah. Selain itu, perang dagang yang terjadi antara AS dan China juga telah memicu pelemahan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Pola ekonomi dunia memang didasarkan kuatnya ekonomi AS, sementara negara-negara lain mengalami perlambatan, ini kenapa dolar AS kuat dan yang lain lemah,” kata Perry di ruang rapat Komisi XI DPR RI, Jakarta, Rabu (5/9/2018).

Modus Penjajahan Melalui Dollar

Faktor utama yang mendorong nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dikatakan tetap dari eksternal, yaitu dalam konteks normalisasi kebijakan di Amerika Serikat dengan kebijakan moneter luar negeri Amerika Serikat yang ingin menaikkan suku bunga acuan yang berdampak secara global.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak bagi pelaku industri di tanah air. Sebab, komponen seperti bahan baku yang diimpor dari luar negeri menggunakan mata uang dolar AS.

Dalam catatan Bloomberg, secara year to date, pelemahan rupiah sudah menyentuh level 2,59 persen. Pagi ini rupiah melemah ke level Rp 13.908 per dolar AS dari posisi di akhir pekan sebelumnua Rp 13.893 per dolar AS. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Ali Subroto mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah berdampak naiknya ongkos impor komponen.

BACA JUGA :   Pelecehan Seksual Meningkat Drastis, Bagaimana Islam Menuntaskannya?

Selain itu, kata dia dengan naiknya komponen elektronik, otomatis harga jual produk elektronik pun akan ikut naik. Dia mengungkapkan, kelesuan industri elektronik, sudah terasa di kuartal I 2018, sebab pertumbuhan industri elektronik di kuartal I 2018 masih tercatat turun. (http://www.tribunnews.com/bisnis/2018/04/23/pelaku-industri-keluhkan-pelemahan-rupiah)

Efek dari kondisi ini, daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor, menjadi melemah. Lantaran, beberapa sektor industri bergantung oleh impor bahan baku dan barang modal. Kalau dolarnya mahal, biaya produksi pasti naik ujungnya harga barang jadi lebih mahal.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co