Sengkarutnya Negara, Tersebab Sistem Demokrasi

Penulis : Drg Endartini Kusumastuti (Pemerhati Sosial Masyarakat Kota Kendari)
Penulis : Drg Endartini Kusumastuti (Pemerhati Sosial Masyarakat Kota Kendari)

 


Dua pekan berturut-turut dua menteri jadi tersangka korupsi. Kabar terbaru, Menteri Sosial (Mensos), Juliari P Batubara, ditetapkan sebagai tersangka penerima suap oleh KPK pada Minggu (6/12/2020). Namanya terseret dalam kasus dugaan suap pengadaan bantuan sosial (bansos) penanganan Covid-19 di Kementerian Sosial (Kemensos).

Baru-baru ini, Transparency International merilis hasil survei The Global Corruption Barometer (GCB) Asia. Adapun dari sisi ranking [peringkat], Indonesia ada di peringkat 3 sebagai negara terkorup di Asia. Menurut Jerry Massie, seorang peneliti pada Political and Public Policy dalam artikelnya berani memprediksi, Indonesia bisa berada di peringkat 1 di Asia pada 2021 atau 2022 jika negara tetap tidak mau turun tangan. (Rmol.id, 30/11)

 

Beginilah fakta demokrasi yang menjadi sarang tikus berdasi, harusnya membuat kita merasa muak dan meninggalkan sistem ini. Nyatanya, demokrasi terus saja dipakai. Bahkan dijadikan sebagai tolok ukur kesetiaan seseorang pada negara. Anti demokrasi diartikan sebagai tidak setia pada negara. Lebih parahnya, para pembela demokrasi akan beralasan bahwa demokrasi di Indonesia masih dalam tahap belajar, belum pintar. Wajar jika ada kekurangan dalam pelaksanaannya. Transparency International misalnya, dalam laporan tahun 2019 menyatakan, luasnya korupsi berkaitan dengan pengembangan demokrasi.

BACA JUGA :   Pilkada Kala Pandemi, Bukti Nyata Buruknya Demokrasi

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co