,

Friksi POP, Antara Prioritas Anggaran atau Intervensi Korporasi ?

#Mariana, S.Sos ,
#Mariana, S.Sos ,

Oleh : Mariana, S.Sos (Guru SMPS Antam Pomalaa – Kolaka)


Dunia pendidikan kembali di hebohkan dengan mundurnya PGRI, NU dan Muhammadiyah dari Program Organisasi Penggerek (POP) oleh Kemendikbud. Sebagaimana diketahui skema POP merupakan episode keempat dari terobosan kebijakan Program merdeka Belajar yang digagas oleh Nadiem pasca ditunjuk sebagai menteri.

POP merupakan program pemberdayaan masyarakat secara masif melalui dukungan
pemerintah untuk peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah berdasarkan model-model
pelatihan yang sudah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan
hasil belajar siswa.

Program ini tampak bagus sebab bertujuan untuk peningkatan kualitas guru dan kepala
sekolah yang tentunya berefek pada kualitas dari hasil belajar siswa, mengingat Indonesia
memiliki rating yang rendah terkait mutu pendidikan apabila diukur dari PISA. Berdasarkan
hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018, dalam kategori
kemampuan membaca, sains, dan matematika, skor Indonesia tergolong rendah karena berada
di urutan ke-74 dari 79 negara.

Perlu diketahui, PISA merupakan program tiga tahun sekali yang digagas oleh OECD
(Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk mengukur kompetensi
belajar peserta didik global. Untuk nilai kompetensi membaca, Indonesia berada dalam
peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara.
Sedangkan Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara.

Pelaksanaan POP dilakukan secara terbuka dengan melibatkan sejumlah organisasi
kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan, terutama organisasi yang memiliki
rekam jejak yang baik dalam implementasi program pelatihan guru dan kepala sekolah.
Dalam pelaksanaannya, ormas pendidikan dapat membentuk sebuah konsorsium dengan
ormas lain. meskipun POP ditujukan bagi ormas pendidikan yang telah berpengalaman,
namun dengan adanya konsorsium tersebut, ormas non pengalaman dapat bergabung sebagai
anggota.

BACA JUGA :   Medsos Biang Kerok Perceraian

Ormas penggerek yang terpilih akan melaksanakan program di daerah dengan dukungan
kemendikbud berupa bantuan dana, pemantauan dan evaluasi dampak, serta integrasi
program yang terbukti baik ke dalam program Kemendikbud. Adapun bantuan yang diterima
setiap organisasi berbeda tergantung pada hasil evaluasi dan dibagi berdasarkan kategori.
Hanya saja, selain murni Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terdapat skema
pembiayaan mandiri dan dana pendamping (matching fund). Sejumlah organisasi penggerek
akan menggunakan pembiayaan mandiri dan matching fund.

Tonoto Foundation merupakan salah satu organisasi penggerek yang menggunakan
pembiayaan mandiri yang akan bekerjasama dengan pemerintah melalui POP untuk
mendorong percepatan peringkat global pendidikan Indonesia. Begitupun dengan Yayasan

Putera Sampoerna menjelaskan mereka bersama-sama dengan mitra dalam dan luar negeri
mendukung program POP (di luar APBN) menggunakan skema matching fund.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co