FUNGSI MEDULU DALAM KEHIDUPAN SOSIAL ETNIS TOLAKI DI SULAWESI TENGGARA

Oleh: Anwar Hafid (Dosen FKIP dan PPS Universitas Haluoleo Kendari)

Judul : FUNGSI MEDULU DALAM KEHIDUPAN SOSIAL ETNIS TOLAKI DI SULAWESI TENGGARA

Setiap individu yang hidup dalam suatu masyarakat dapat memanggil seseorang sebagai kerabatnya berdasarkan ikatan atau hubungan genealogis. Sementara keanggotaan suatu kerabat makin lama makin besar sehingga ada kecenderungan hubungan genealogisdiantara mereka tidak selalu identik dengan saling kenal mengenal anggota kerabat teratas, sehingga secara vertical hanya mampu mengenal maksimal sampai tiga generasi ke atas atau ke bawah.

Prinsip pengelompokkan mempunyai fungsi menentukan keanggotaan dalam kelompok-kelopmpok kekerabatan. Menurut Koentjaraningrat (1992: 135) paling sedikit ada empat macam prinsip keturunan, yaitu:

(1) prinsip patrilineal atau patrilineal descent, yang menghitung hubungan kekerabatannya melalui laki-laki saja,

(2) prinsip matrilineal atau matrilineal descent, yang menghitung hubungan kekerabatan melalui wanita saja, dan karena itu mengakibatkan bahwa bagi tiap individudalam masyarakat semua kerabat ibunya jatuh ke dalam kekerabatannya,

(3) prinsip bilineal atau bilineal descent, yang menghitungkan hubungan kekerabatan melalui pria saja untuk sejumlah hak dan kewajiban tertentu, atau sebaliknya,

(4) prinsip bilateral atau bilateral descent, yang menghitungkan hubungan kekerabatan melalui pria maupun wanita.

Berdasarkan prinsip pengelompokan yang telah dikemukakan di atas, prinsip keturunan Etnis Tolaki mengenal prinsip bilateral yakni menghitung hubungan kekerabatan melalui garis pria maupun wanita. Sistem kekerabtan Etnis Tolaki mengakui, kedudukan kerabat baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu adalah sama.

Dalam keluarga, seorang ayah atau suami berkedudukan sebagai kepala keluarga, hal itu memungkinkan karena pengaruh agama, bahwa suami adalah imam di dalam keluarganya.

Prinsip kekerabatan bilateral atau parental sebenarnya tidak mempunyai suatu akibat yang selektif, karena setiap orang atau individu adalah kaum kerabatnya baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

Walaupun pada Etnis Tolaki sistem kekerabatan yang berlakuadalah bilateral, tatapi dalam kehidupan sehari-hari cenderung patrilineal, terutama hal-hal yang berkaitan dengan adat perkawinan, adat upacara kematian, pendidikan,pembagian harta warisan, dan penyelesaian pertengkaran keluarga, yang banyak berperan adalah kerabat dari garis ayah.

Meskipun dalam beberapa kasus ditentukan kerabat dari garis keturunan itu, terutama yang memiliki status sosial ekonomi lebih baik atau secara khusus diminta oleh keluarga untuk membantu.

BACA JUGA :   Lampiran Miras Dicabut, Peredaran Miras Surut?

Tingkah laku seseorang pada Etnis Tolaki menjadi tanggung jawab kerabatnya. Oleh karena itu, baik buruknya seseorang akan berpengaruh terhadap kerabat, khususnya menyangkut kerabat dari ayah.

Oleh karena itu kewajiban kerabat terhadap individu sangat besar seperti dalam pelaksanaan pendidikan lanjut anggota kerabat. Pendidikan pada Etnis Tolaki merupakan hal penting dalam kehidupan baik bagi individu maupun kerabat.

Masyarakat majemuk seperti Indonesia dan Kendari pada khususnya, sangat penting dipromosikan terus-menerus karena kehidupan harmoni antara keluarga, tetangga dan lingkungan, apalagi antara satu suku, tidak konstan, tetapi selalu berubah-bah tak obahnya siang dan malam.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah membuat media seperti yang dilakukan oleh Etnis Tolaki yang disebut Medulu.  Media seperti ini penting dalam mencipatakan kehidupan harmonis intenal dan antar suku di Kendari.  Pembahasan seperti ini diperlukan karena dalam beberapa tahun terakhir ini, sangat sering terjadi keributan yang bernuansa SARA (Suku, Agama dan Antar Ras) di Kendari.

Kenyataannya suku-suku yang ada di Sulawesi Tenggara memiliki konsep untuk hidup bersama dalam suasana yang rukun dan damai. Suku Tolaki misalnya mempunyai konsep untuk hidup bersama seperti “Medulu.”   Konsep ini dipercayai oleh orang-Etnis Tolaki sebagai konsep untuk hidup bersama dengan siapapun.

Dengan konsep “medulu,” maka Etnis Tolaki bisa hidup bersama dengan suku lain, dalam suasana damai, harmonis dan bersatu (http://musniumar.wordpress.com/ 2011/09/19/musni-umar-phd-living-harmony-di-indonesia-dan-kendari/)..

Berkaitan dengan tanggung jawab kerabat, maka pada masyarakan Tolaki dikenal tiga istilah yaitu  medulu yang berarti berkumpul, bersatu, dan mesangginaa yang berarti makan bersama dalam satu piring, sedang istilah yang paling umum berlaku adalahmerapu yang berarti merumpun.

Dalam kaitannya dengan masalah kehidupan sosial (perkawinan, kematian, masalah pendidikan, bencana/kesulitan ekonomi lainnya), kerabat “patrilineal” mempunyai tanggung jawab terhadap perolehan masalah yang dihadapi olehanggota kerabatnya. Kebersamaan dalam situasi susah dan senang merupakan tuntutan bagi Etnis Tolaki, sehingga segala upaya kerabat dicurahkan agar anggota kerabatnya mampu menyelesaikan masalahnya atau “ tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi”.

Menyadari pentingnya kebersamaan dalam menyelesaikan masalah, maka kerabat “patrilineal” mempunyai kewajiban membantu individu yang membutuhkan.

Masalah kehidupan yang kompleks setiap keluarga memiliki peluang yang sama untuk menghadapinya, terutama menyangkut biaya merupakan kewajiban kerabat “patrilineal”, yang tercakup dalam pranata medulu. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada Etnis Tolaki tampak adanya suatu sikap atau rasa saling tolong-menolong, gotong royong dan bantu membantu yang besar.

BACA JUGA :   Jalur Sutra dan Obsesi Cina

Istilah gotong royong dan tolong-menolong yang saling bantu-membantu pada Etnis Tolaki merupakan suatu cara dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang sifatnya kekeluargaan.

Pada Etnis Tolaki ditanamkan sifat ingin membalas kebaikan kerabat dengan cara membantu anggota kerabat lainnya. Pranata medulumendorong seseorang untuk membalas kebaikan orang lain, dan kalau mungkin dalam jumlah yang lebih besar (Suhardin, 2007: 24).

Seperti telah disebut di atas bahwa tolong menolong, gotong royong dan bantu membantu dalam kehidupan Etnis Tolaki, yang menyangkut kegiatan di dalam kehidupan sosial yang disebut medulu. Medulu adalah suatu kebersamaan yang bersifat kekeluargaan, juga yang dilaksanakan dalam berbagai bidang kegiatan, seperti: pertanian yaitu mengolah sawah, berladang, dan membangun rumah adalah kegiatan gotong-royong yang disebutmetealo-alo (saling memberi bantuan), samaturu (ikut serta), dan mepokoaso (menjadi satu).

Menurut Tarimana (1989: 80) medulu pada Etnis Tolaki adalah suatu kebersamaan yang bersifat kekeluargaan, berkaitan dengan tolong-menolong, gotong royong dan bantu-membantu antar sesama keluarga terutama dalam hal pendidikan dan perkawinan.

Meduluberfungsi untuk mempersatukan dan menghimpun kerabat “dekat” yang sedarah dan berasal dari satu moyang dalam artian medulu mbenao (satu dalam perasaan), medulumbonaa (satu dalam pendapat), dan medulu mboehe (satu dalam kehendak).

Selanjutnya dikatakan bahwa istilah medulu identik dengan gotong-royong dalam bahasa Jawa yang berarti mengerjakan sesuatu pekerjaan secara bersama-sama, yang hasilnya dinikmati bersama pula. Dalam pelaksanaannya, istilah-istilah tersebut di atas mencakup semua aspek kehidupan sosial Etnis Tolaki.

Namun istilah-istilah sepertimetealo-alo, samaturu, dan mepokoaso digunakan dalam hal mengerjakan pekerjaan seperti mengolah sawah, berladang, dan membangun rumah, kecuali medulu adalahdilakukan dalam rangkaian kegiatan perkawinan, kematian, kecelakaan/bencana,persiapan ibadah haji, dan pendidikan yang sampai saat ini semakin berkembang.

Dalam situasi hubungan sosial yang cenderung melonggar, maka keberadaan medulu pada Etnis Tolaki perlu dikaji lebih mendalam karena akan sangat bermanfaat bagi kehidupan dan pembangunan masyarakat pada umumnya.

  1. Fungsi Medulu dalam Kehidupan Sosial
  2. Perkawinan

Dalam bidang adat perkawinan bagi etnis Tolaki, khususnya kaum laki-laki baik tidak mampu maupun mampu secara ekonomi, diwajibkan melaksanakan medulu sebagai suatu rangkaian adat yang harus dilalui, dengan dua cara:

  1. Keluarga yang dituakan mengundang anggota keluarga untuk mengadakan pertemuan membicarakan kemungkinan memberika bantuan materi berupa uang dan atau bentuk lain Dalam musyawarah yang dilaksanakan di rumah keluarga yang membutuhkan bantuan atau di rumah kerabat atau di rumah keluarga yang dituakan/ditokohkan. Permusyawaratan keluarga dilakukan dalam dua bentuk: (1) permusyawaratan dalam lingkungan keluarga dekat, seperti saudara umunya mereka mengemukakan jumlah kemampuan yang akan disumbangkan dalam bentuk materi dan sesuai keikhlasan kepada yang tidak punya, (2) Permusyawaratan di luar sudara tidak ditentukan besarnya jumlah yang akan disumbangkan, melainkan kesiapan untuk memberikan bantuan
  2. Keluarga yang merasa memiliki kemampuan, secara spontan menyampaikan kesiapannya untuk memberikan bantuan dengan jumlah tertentu.
BACA JUGA :   Belajar Dari Islam Penanganan Bencana

Pengumpulan sumbangan dilakukan baik melalui musyawarah lanjutan maupun disampaikan secara sendiri-sendiri dan atau dikumpulakn oleh seseorang dengan mendatangi keluarga yang telah menyampaikan kesiapannya untuk membantu.

Dalam kasus tidak normal sebagaimana etnis lainnya mengenal dua jenis perkawinan, yaitu: (1) perkawinan normal melalui pelamaran, dan (2) kawin lari. Khusus kasus kawin lari, budaya medulu merupakan solusi yang banyak dimanfaatkan, karena biasanya laki-laki tidak memiliki kesiapan yang mantap untuk melangsungkan pernikahan. Pelaksanaan proses kawin lari ini memiliki cukup banyak rangkaian karena harus melalui adat tambahan yang dikenal Peahala (denda). Pembayaran denda dalam bantuk uang dan barang dengan ukuran tertentu sesuai jenisnya, seperti:

1)   Sarung enam belas lembar untuk pembayaran pengganti perawatan pada waktu kecil/bayi

2)   Kain kaci satu pis untuk pembayaran penggnati kain kapan

3)   Kerbau satu ekor untuk pembayaran pengganti leher karena tidak jadi disembelih (kiniku sara)

4)   Kalung emas (eno sara) satu buah

5)   Gong adat (tawa-tawa sara) satu buah

Kemudian dilengkapi seperangkat adat persediaan (sara peana), yaitu:

1)   Loyang/baskom (boku mbebahua)

2)   Gayung/timba (sudusudu)

3)   Sarung panjang (tematema)

4)   Lampu dan sendok (hulo dan siku-siku hulo)

Pembayaran dapat dilaksanakan secara tunai dengan tenggang waktu antara musyawaran dengan penyerahan bantuan biasanya maksimal 2 minggu.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co