,

Gaji Guru Hanya 300 ribu?

Oleh: Susiyanti, S.E

(Pemerhati Ekonomi)

Sejatinya guru adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang tak ternilai harganya, namun kini bernasib naas dan tidak ada harganya, bayangkan saja mereka hanya dibayar Rp, 300.000.dalam sebulan.

Hal ini diperkuat dengan ungkapan anggota Komisi V DPRD Nusa Tenggara Timur Jimmy Sianto di Kupang “Honor yang diterima guru honorer di Nusa Tenggara Timur (NTT) boleh dibilang sangat tidak layak. Bagaimana tidak, hasil keringat mereka hanya dihargai antara Rp 300.000 – Rp 500.000/bulan atau masih di bawah upah minimum provinsi (UMP) Nusa Tenggara Timur sebesar Rp 1.660.000/bulan” (Indonesiasatu.co, 27/ 09/ 2018).

Inilah yang membuat orang nomor 1 di indonesia kaget akibat minimnya pendapatan guru honorer. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo bahwa ia kaget dan sempat tak percaya seorang guru swasta yang tergabung dalam Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) mendapat gaji sekitar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per bulan. Jokowi mendapat informasi gaji tersebut dari pengurus PGSI yang hadir dalam Silaturahmi PGSI di Istana Negara. (CNN Indonesia, 11/ 01/ 2019).

Lantas bisakah mereka bertahan hidup di era zaman now saat ini, dimana biaya ekonomi terus merangka naik tanpa adanya penurunan yang terjadi dengan gaji yang minim dan harga yang terus melonjak naik hingga hampir mencekik leher.

Khayalan Semu

Hal ini cukup memprihatikan dan menyayat hati namun walaupun demikian ini kenyataan yang harus diterima para guru honorer, namun hal ini sangat jauh berbeda dengan keadaan  para perusak generasi bangsa. Dia adalah public figure seperti artis, penyanyi, boyband, girlband, dan masih banyak lagi, mereka inilah yang merusak generasi bangsa dan menjajah pemikirannya.

Melalui ide yang mereka bawa melalui tv atau film atau lagu mereka ubah gaya hidup para remaja dengan ke glamour-an, popularitas, dan kemewahan yang hanya dengan kedipan mata. Hingga akhirnya tujuan hidupnya  hanya pada materi saja dan tidak hanya itu  mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua sekalipun terlibat yang namanya pergaulan bebas dan tanpa aturan suka-suka mereka.

BACA JUGA :   Korupsi Kian Melenggang, Aturan Tumpul Menyengsarakan

Mereka tukar lantunan ayat suci Alquran dengan musik yang membuat sahwat bergejolak. Tidak hanya itu mereka jadikan idolah mereka sebagai suriteladan mereka dalam kehidupan. Semangat menuntut ilmu sudah tidak ada lagi dengan gemerlapnya dunia.

Begitu banyak masalah yang mereka perbuat, justru mendapat apresiasi yang menjanjikan dari semua kalangan. Mereka bebas melancong sana-sini, hidup bergelimangan dengan harta, dan tentu saja upah yang mereka dapatkan sungguh luar biasa besarnya. Dalam sekali manggung, Ayu Ting Ting bisa mendapat 100 hingga 300 juta. (Tribun Pekan Baru. com, 18/11/2018).

Bukan suatu hal yang baru lagi, bahkan sudah menjadi  rahasia umum jika kita ingin bertahan hidup di jaman now saat ini, dimana kebutuhan ekonomi yang kian hari kian mencekik leher, tentu bukanlah perkara yang mudah seperti membalikan telapak tangan. Lantas bagaimana kondisi guru-guru kita yang telah mengapdi selama bertahun-tahun tanpa pamrih? Tentu saja para guru mengalami cobaan  hidup yang sangat berat ditengah sulitnya mengais rezeki di zaman now saat ini.

Tidak hanya itu,  dengan gaji setiap bulan hanya Rp 300.000 lalu pengajaran terbaik seperti apa yang bisa dipersembahkan? Padahal di waktu yang sama para guru juga dituntut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ditengah desakan ekonomi yang kian hari kian menjulang tinggi.

Akhirnya para guru pun sibuk hanya mengejar materi semata tidak mempedulikan lagi tanggung jawabnya dalam mengajar. Para guru sering meninggalkan kelas tanpa alasan, membebani murid dengan berjuta tugas tanpa penjelasan, dan terkadang menjadikan murid sebagai pelampiasan atas tekanan yang dirasakan disebabkan honor yang diberikan sangat minim sehingga para guru honorer harus mencari pekerjaan tambahan agar bisa memenuhi kebutuhan ekonomi yang kian hari kian meningkat.

Mengurai Kisruh

Yang menjadi masalah sebenarnya karena kita masih berputar pada lingkaran setan dari sistem  di negeri ini yang tak lain dan tak bukan adalah masih diterapkannya sistem kapitalisme sekulerisme. Dimana sistem kapitalisme ini  telah menghasilkan pendidikan di negeri ini masuk ke dalam jurang ke hancuran. Sistem kapitalisme tegak atas tiga pilar, yaitu Sekulerisme, asas manfaat, dan kebebasan secara mutlak. Yang mencetak para guru dan muridnya semakin jauh dari akidah Islam.

BACA JUGA :   Aroma Liberalisme di Balik Kontroversi Pembiasaan Hijab pada Anak

Ketika kita masih tetap bertahan dalam sistem kapitalisme ini hanya akan membuat para guru semakin merana, menderita dan terhina. Dimana sejatinya guru adalah tulang punggung pendidikan nasional yang akan menentukan nasib bangsa ini ke depan, tapi apa yang terjadi malah sistem ini  mennghasilkan guru-guru yang hanya berorientasi pada materi dan keuntungan semata tanpa menanamkan kewajiban untuk mendidik muridnya hingga betul-betul paham bukan hanya sekedar masuk telinga kanan keluar telinga kiri dan menjadi generasi yang terbaik yang bisa diandalkan kedepannya.

Kita telah menyaksikan kegelapan dan kesempitan hidup yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme. Inilah saatnya kita mencampakkan sistem kapitalisme dan menggantinya dengan sistem lain yaitu sistem islam.

Solusi Islam

Dalam sistem  Islam, aqidah Islam merupakan pondasi utama yang harus ada dalam kurikulum pendidikan.  Seluruh aspek yang berkaitan dengan pendidikan diatur berdasarkan aqidah Islam, tetapi bukan berarti setiap ilmu pengetahuan harus bersumber dari aqidah Islam. Walaupum demikian, pengetahuan itu tidak  harus menyimpan  dari aqidah Islam yang boleh untuk diambil.

Sebagaimana yang dicontohkan  pada sistem islam yaitu pada masa khalifah Umar bin Khathtbah, ada tiga orang guru di Madinah mengajar anak-anak, beliau memberikan upah sebesar lima belas dinar (kurang lebih 63.75 gram emas) setiap bulan. Maka jika disejajarkan dengan nilai tukar rupiah saat ini terhadap emas 1 gram emas setara dengan Rp 663.000 x 66.75 gram = Rp. 44. 225. 250 setiap bulan yang diterima guru pada masa khalifah umar bin khatab.

Di masa khalifah Harun al-Rasyid, para penuntut ilmu diberi dorongan dengan memberikan hadiah sebesar 1000 dinar yaitu setara dengan 1 dinar 4,25 gram jadi kalau 1000 dinar (4,25 gram x 1000= 4.250 gram. jika dirupiakan maka 4.250 gram x Rp. 663.000= Rp 281. 775.000) bagi yang tekun mengumandangkan adzan, 1000 dinar bagi penghafal Alquran serta bagi yang meriwayatkan hadits-hadits dan sebesar 1000 dinar untuk yang mendalami ilmu Syariat Islam.

BACA JUGA :   3 Sudut Seksi Bercinta di Dapur

Tidak hanya itu, bahkan dimasa para khalifah dan kaum muslimin berlomba-lomba mendirikan sekolah-sekolah, perguruan tinggi Islam yang dilengkapi dengan segala macam fasilitas. Seperti pada masa khalifah Al-Muntashir mendirikan Madrasah al-mustansiriah sebagai satu-satunya sekolah Islam yang terbesar di masa itu di kota Baghdad, di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas x Rp. 663. 000= Rp. 2. 817. 750).  Di samping itu setiap hari kehidupan mereka dijamin. Makanannya berupa roti dan daging tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Selain dari segi kelengkapan sarana dan media pendidikan. Media massa pun diatur sedemikian rupa sehingga mampu menjadi sarana pendukung kemajuan pendidikan. Seperti surat kabar, televisi, radio, buku-buku bacaan semuanya diatur. Negara benar-benar tegas melarang gambar-gambar cabul, film-film porno, begitu juga dengan drama-drama yang mengandung unsur-unsur pelecehan terhadap nilai-nilai Islam semuanya harus dimusnahkan.

Dari pemaparan di atas jelaslah bahwa yang dapat menyelesaikan masalah honere para guru cuman sistem islam bukan sistem yang lain. Untuk mewujudkan sistem itu maka banyak hal yang mesti kita lakulan dan banyak hal yang kita harus benahi dari sistem pendidikan kita sekarang. Maka untuk itu cara terbaik adalah Kembali pada pendidikan Islam yaitu dengan jalan diterapkanya kembali sistem islam, dimulai dari kurikulum pendidikan, program pendidikan dan metode pendidikannya.

Selain itu, tanggung jawab pendidikan seharusnya mulai diambil oleh pemerintah secara utuh karena jika pendidikan ini diserahkan kepada pemilik modal, tidak mungkin tidak akan mengeruk keuntungan. Sedangkan agar terciptanya generasi yang berkepribadian, mampu bersaing harus ada campur tangan dari pendidikan itu sendiri tanpa adanya campur tangan orang lain khusus orang tua. Wallau a’llam bisshowab.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co