Gaji Honor, Bikin Horor

Ketgam : Kasmirawanti, S.s

OPINI : Belum lama ini para guru honor dari berbagai daerah berkumpul di depan istana merdeka kepresidenan pada selasa (30/10/2018) lalu, bahkan tuntutan mereka berlanjut hingga esoknya karena tidak bertemu dengan presiden. Mereka rela menginap beralaskan tanah, beratapkan langit di depan istana merdeka demi berharap bahwa tuntutan mereka disambut oleh presiden. Namun alih-alih bertemu, presiden malah tidak muncul setelah ada beberapa yang pingsan karena kelelahan menanti perubahan nasib mereka.

Tuntutan utama mereka mengenai hak-hak mereka sebagai honor K2 menjadi pegawai negeri sipil, selain itu mereka juga menuntut agar UU ASN direvisi. Tuntutan berlangsung cukup alot, mereka mendesak bertemu dengan presiden, Joko Widodo untuk menyampaikan aspirasi mereka yang selama ini diabaikan. Bagaimana tidak, pengabdian, tenaga dan segala upaya telah mereka kucurkan, namun tak sebanding dengan gaji mereka yang masih terlalu kecil bahkan tidak memenuhi standar UMR gaji pegawai nasional.

Namun, tuntutan para honorer yang tak ditanggapi oleh presiden, dibantah oleh Moeldoko sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP).  Moeldoko mengatakan skema untuk persoalan tersebut sudah ada. “Sebenarnya bukan nggak mau nerima, sama-sama padat (kegiatan) semua kemarin,” kata Moeldoko saat ditemui di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat. www.detik.com, (2/11/2018)

Tidak hanya tuntutan mengenai gaji yang ‘horor’ namun tutntutan lain yang diajukan para honorer termasuk ajuan agar UU ASN direvisi. Demo honorer tidak hanya terjadi di jakarta tapi juga terjadi di beberapa kota seperti di Yogyakarta, dan tuntutan mereka sama dengan guru honorer yang lainnya di daerah lainnya. Seperti demo yang terjadi di kantor DPRD jalan Malioboro, aksi yang dilakukan ratusan guru honorer ini dilatarbelakangi terbitnya Permenpan RB No 36 tahun 2018.

Permenpan tersebut salah satunya mengatur batasan usia maksimal agar bisa diangkat menjadi ASN atau PNS.  “Kami ingin tenaga honorer ini bisa diangkat menjadi ASN lewat revisi UU ASN. Tentunya itu sebagai celah dan payung hukum untuk penyelesaian guru honorer K-2,” kata Ketua Forum Honorer K-2 Korwil DIY, Eka Mujiyanta, di DPRD DIY, Kamis (4/10/2018).

Menurut Eka Mujiyanta bahwa  banyak guru honorer yang usianya sudah lebih dari 35 tahun. Artinya keberadaan para guru honorer ini tidak terkomodir, sehingga mereka tidak bisa mencalonkan diri menjadi ASN atau PNS.
“Makanya kami minta kepada dewan dan kepada Pemda DIY untuk membuatkan surat dukungan supaya penerimaan CPNS lewat jalur umum ini ditunda dan harus segera direvisi UU ASN ini”. www.detik.com , 4/10/2018

BACA JUGA :   Tawaran Menyakitkan Ala Kapitalisme

Sungguh miris, di tengah kondisi kualitas pendidikan Indonesia yang semakin semrawut dan generasi milenial yang kehilangan arah semakin menjadi pelengkap atas kelemahan yang dialami dunia pendidikan hari ini.

Tunjangan murah, dedikasi yang besar jelas membuat para guru honorer meradang. Betapa tidak waktu mengajar merekapun hampir sama dengan pegawai negeri sipil namun gaji mereka bikin horor. Ada yang di gaji 300-500 ribu/bulan. Kualitas pendidikan pun seolah menjadi target kejaran agar para guru memenuhi kewajiban tersebut.

Maka patutlah jika dengan tunjangan yang kecil serta pengabdian yang besar mendorong mereka agar tunjangan mereka bertambah untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Apalagi di era kapitalis saat ini tuntutan hidup menuntut orang berpacu dengan waktu mengais rezeki. Apalagi guru honorer, terkadang mereka rela mengajar di sekolah yang tenaga pengajarnya sudah banyak atau sekolah masih dalam jangkauan daerah yang tidak terisolir. Asalkan mereka bisa mengajar dan berharap ada perubahan atas nasib mereka.

Pendidikan adalah kebutuhan asasi setiap manusia. Namun, jika para pendidik vakum karena hak-hak mereka terabaikan, maka dipastikan bahwa fungsi pengajaran dan mendidik tidak akan berjalan efektif. Alhasil suatu waktu pendidikan akan kosong dari tenaga pendidik yang ikhlas dalam mendidik.

Ironi dunia pendidikan kapitalis

Dunia pendidikan seolah tak pernah ada habisnya diperbincangkan. Mengingat ini adalah kebutuhan vital bagi seluruh warga negara indonesia. Sistem pendidikan menentukan hasil didikan, kualitas pengajar, input maupun output yang dihasilkannya. Kebutuhan sekolah atas kehadiran para guru menjadi masalah tersendiri di tengah dunia pendidikan.

Hal ini disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya banyaknya sekolah yang berdiri dengan visi dan misi mencerdaskan anak bangsa. Tidak hanya dari sisi intelektual, namun juga perbaikan akhlak dan moral. Namun tidak hanya berhenti sampe disitu, gaji guru honorer menjadi polemik baru yang menjadi momok di dunia pendidikan saat ini.

BACA JUGA :   Titiek Soeharto : Hasrat Masyarakat untuk Perubahan Tidak Bisa Dibendung

Belum lagi berbicara mengenai hasil didikan, hasil didikan ditentukan oleh kualitas pendidik serta sistem pendidikan mumpuni yang berorientasi pada pembentukan karakter keribadian islam. Kualitas anak didik dalam pengajaran dan pendidikannya pun tak sepenuhnya berada dipundak pendidik ataupun guru. Maka dari itu pemerintah harus melihat bahwa persoalan ini adalah hal yang sangat penting dalam kemajuan bangsa. Sebab majunya sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Yaitu generasi penerus bangsa.

Namun jika berkaca dengan sistem pendidikan kapitalis hari ini. Semua berorientasi pada materi dan angka-angka semata. Sehingga korelasi serta hubungan mata rantai antara guru, anak didik serta mekanisme sistem pendidikan harus saling terkait satu sama lain. Selebihnya diatur dengan baik dengan regulasi yang adil dari pemerintah, salah satunya memenuhi hak-hak pendidik yaitu upah atau guru yang sesuai dengan kerja dan kualitasnya. Meniadakan jurang status pengajaran antara pns atau honorer.

Sebab adanya waktu berjangka yang diberikan kepada honorer hingga sampe pada pengakuan menjadi pegawai negeri sipil adalah sesuatu yang tidak adil dalam kerangka pendidikan yang diharapkan dan tentunya akan berimplikasi pada terabainya hak anak didik mendapatkan pengajaran dan pendidikan. Maka dari itu ini adalah upaya preventif untuk mencegah terjadinya gaps atau jurang yang semakin melebar terkait masalah upah para guru ini.

Berkaca pada pendidikan islam

Pendidikan dalam islam adalah hal yang sangat diperhatikan. Sebab ilmu adalah perisai bagi seorang mukmin menjadi orang beraqwa dan ditinggikan derajatnya oleh Allah swt. Maka dari itu peran dan fungsi guru dalam islam begitu sangat diperhatikan dan pengabdiannya dalam mengajarkan ilmu dan menelorkan karya diapresiasi.

Misalnya setelah terjadinya peran badar, disebutkan ada beberapa tawanan dari kaum Quraisy yang dimintai oleh Rasulullah saw mengajarkan ilmu membaca, menulis dan lain-lain, kepada kaum muslimin sebagai tebusan atas kebebasannya. Islam sangat memuliakan orang-orang teguh dalam menuntut ilmu serta mengajarkannya, sebab hal demikian menjadi amal jariyah dan posisi yang tinggi baginya.

BACA JUGA :   Iklan Humas : Pengumuman Berkas Calon TKL PT OSS 9 Divisi

Sebagaimana Allah swt berfirman dalam Alqur’an:

Artinya: ”Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah lebih mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Islam memiliki mekanisme baku dalam hal penghargaan kepada para guru. Sebab peran fungsi guru adalah posisi mulia yang secara tidak langsung akan mengangkat derajat anak didiknya dari yang tidak tahu menjadi tahu. Begitulah islam, pilar-pilar aqidah adalah pondasi utama agar tujuan pendidikan itu tercapai. Lihatlah bagaimana sistem pendidikan dalam peradaban dan kegemilangan islam, fungsi dan karya guru sangat dihargai oleh penguasa kala itu.

Sebutlah di masa Dinasti Abbasiyah oleh kepemimpinan Harun Ar rasyid , sang pemimpin memerintahkan untuk membangun pusat pendidikan ilmu yang dikenal baitul hikmah, sehingga para pendatang dari arab dan non arab yang akan belajar ilmu di Baghdad bisa lebih leluasa belajar.

Dikalangan pelajar dan guru disiapkan bagi mereka tempat penginapan gratis, biaya belajar selama belajar dan pusat belajar difokuskan di perpustakaan, dan di masjid-masjid sehingga tempat belajar sangat kondusif dan nyaman karena berdekatan dengan tempat ibadah.

Kemudian beliau memerintahkan pula agar semua ilmu dan tsaqofah maupun sains yang telah ditulis para ilmuwan dalam buku-bukunya agar diterjemahkan ke seluruh bahasa di dunia. Memuliakan guru dan ulama, melibatkan orang tua dalam pendidikan serta mengutamakan ta’dib (metode mendidik) dalam pendidikan. Kemudian apresiasi gemilang yang di persembahkan kepada para guru adalah karya buku ilmuwan yang dihasilkan di apresiasi dengan menimbang berat buku yang di tulisnya dengan nilai seberat emas.

Begitulah islam mencontohkan bahwa ilmu dan sistem pendidikan serta peran guru/pengajar adalah hal yang tak terpisahkan dalam memajukan kecerdasan anak didik. Tidak hanya sukses di dunia tapi juga di akhirat. Begitupula bagi para guru terapresiasi dengan tugas diberikan dengan gaji yang memuaskan serta menjadi amal jariyah baginya.Wallahu ‘alam bis shawwab. (**)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co