Gerakan Wakaf Digagas,  Kapitalisme Temui Jalan Buntu?

Ummu Zhafran
Ummu Zhafran

Oleh: Ummu Zhafran (Pegiat Literasi Islam)


Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman (Koesplus)

Ada yang ingat penggalan lirik lagu di atas?  Tepat, syair yang dinyanyikan Koes Ploes bersaudara dulu.  Isinya bagai mencerminkan kondisi negeri bergelar zamrud khatulistiwa ini.  Tapi sayang, kini tidak lagi.  Sekarang tanah surga itu sedang dilanda resesi hingga mengguncang sendi-sendi ekonominya.  Pandemi pun dituding jadi kambing hitam, meski realitasnya benih krisis sudah nyata jauh sebelum Covid19 naik pentas.

Data membuktikan hingga akhir Oktober 2020, total utang negara sudah menyentuh angka Rp5.877 triliun atau 37,8 persen dari PDB.  Andai bukan dimulai sebelum pandemi, mungkinkah angkanya langsung sebesar itu?  Mustahil.

Demikian pula dengan defisit APBN 2020 ditetapkan sebesar 6,34% terhadap Pendapatan Domestik Bruto. Sedang realisasi 2019 yang notabene pra-pandemi sudah menyentuh angka 2,2%.

Tak heran bila krisis berkepanjangan datang menerpa.  Namun bila dicermati dari kacamata kapitalisme, ini sungguh wajar adanya.  Lihat di Amerika, negara pengusung kapitalisme-demokrasi bahkan krisis ekonomi melanda secara berkala. Sebabnya simpel, bangunan peradaban kapitalisme tegak di atas fondasi yang rapuh.  Ekonomi non-real serta prinsip ribawi jelas berisiko mendorong kondisi ekonomi seakan dipenuhi gelembung-gelembung sabun.  Terlihat besar, terbang mengangkasa namun rawan lenyap dihempas angin.

BACA JUGA :   Menjadikan GenRe,  Generasi Dambaan Kota Kendari

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co