Guru Honorer K2 Mogok Mengajar: Bagaimana Nasib Para Siswa?

Oleh : Rosmiati,S.Si

OPINI : Kira-kira inilah muara akhir yang harus dipikirkan, jika guru honorer yang beberapa waktu lalu mengadakan demo didepan istana negara melakukan mogok mengajar. Sementara tidak sedikit lembaga pendidikan baik jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas yang tenaga pengajarnya masih berstatus Honorer. Bahkan presiden mengakui bahwa ada 735.825 guru hononer yang bekerja di sekolah negeri dan belum ada kepastian statusnya (Liputan 6.com 02/11/18).

Jumlah yang besar itu apabila serentak melakukan aksi mogok mengajar tentu akan merugikan siswa. Dimana siswa akan ketinggalan materi dan semangat siswa untuk datang ke sekolah pun akan menurun, sebab dalih tak ada guru akan dijadikan alasan.

Sementara itu, akhir dari semester berjalan tinggal beberapa minggu lagi bahkan Ujian Nasional pun juga tinggal beberapa bulan. Maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi apabila tenaga pengajar yang ratusan ribu itu tidak menunaikan tugasnya?

Persoalan bangsa ini memang bukan hanya pada satu aspek saja. Melainkan hampir diseluruh lini kehidupan disana mengalami masalah dan gangguan. Namun, masalah tenaga pengajar harusnya tidak tertinggal lama untuk dibahas dan dicarikan solusi.

Sebab roda pemerintahan yang kini berjalan sesungguhnya sedang menuju arah akhirnya mereka yang  berkuasa. Regenerasi itu penting, dan tempat untuk mendapatkan bibit unggul sebagai penerus roda pemerintahan ini ada pada lembaga pendidikan. Disanalah cikal bakal pembentukannya.

Dalam prosesnya mereka tak sendiri. Tidak serta merta generasi yang unggul itu tiba-tiba ada. Melainkan melalui proses penempaan dan pembinaan yang intensif selama bertahun-tahun. Hadirnya sosok yang menjadi inspirasi  untuk membimbing dan mengarahkan itu menjadi hal penting.

Sebab belajar itu harus ada yang mengajarkan. Maka posisi Guru amatlah penting keberadaannya ditengah-tengah siswa bahkan ia sebagai orangtua kedua bagi peserta didik. Akibat Posisi penting dan strategis ini nasib guru harus diperhitungkan oleh negara.

BACA JUGA :   Pemanggilan Rapid Tes dan Tes Lapangan Crew Umum Tahap 5

Kondisi pelajar hari ini yang kian rusak jika ditambah lagi fenomena guru mogok mengajar maka akan semakin memperparah suasana. Setidaknya dengan keberadaan sosok guru di sekolah sedikit banyak akan ikut berepran dalam mengatasi krisis mental dikalangan pelajar hari ini, mekipun diakui memang itu tidak efektif.

Namun akan semakin parah jika tidak sama sekali. Disisi lain kondisi orangtua yang juga kurang memperhatikan pendidikan dan pola kembang anak akan menambah kegalaun pelajar yang telah kesepian dibangku pendidikan, hingga tak ada lagi yang mengontrol. Alhasil pelajar akan semakin melaju pada jalan yang keliru.

Sudirman Said melalu media detiknews (04/11/108) mengatkan bahwa pemerintah harusnya memperhatikan nasib guru honorer. Karena, guru merupakan jembatan bagi generasi yang akan datang agar bisa menjadi bangsa yang cerdas. Selain itu beliau pula menuturkan bahwa “Jika saya disuruh memilih pada kondisi keterbatasan anggaran maka saya lebih mengurusi guru, bukan infrastruktur”.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co