Habis Kiki Challenge, Muncul Momo Challenge

Oleh : Mariana, S.Sos (Guru SMPS Antam Pomalaa-Kolaka)
Oleh : Mariana, S.Sos (Guru SMPS Antam Pomalaa-Kolaka)

OPINI, – Setelah tarian Keke Challenge viral mendunia, kini giliran Momo Challenge yang menghantui dunia digital WhatsApp. Sebagiamana keke challenge yang banyak menuai kontroversi karena bahaya yang ditimbulkan, momo challenge pun mendapat perhatian dari masyarakat karena efeknya dapat mengancam keselamatan jiwa anak.

Dilaporkan Heavy, seorang remaja 12 tahun asal Escobar, Buenos Aires, Argentina tewas bunuh diri setelah mengikuti tantangan Momo Challenge.

Bocah itu dikabarkan mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di atas pohon yang berada di halaman belakang rumah. Pihak berwenang menyebutkan bahwa sebelum meninggal, remaja nahas itu merekam seluruh percakapan teleponnya dengan seorang remaja berusia 18 tahun yang diduga berkaitan dengan tantangan ini.

Pihak kepolisisan juga menduga bahwa remaja bersangkutan bermaksud mengunggah video bunuh dirinya ke media sosial sebagai bagian dari permainan Momo Challenge (CNN Indonesia, Selasa, 07/08/2018 ).

Apa itu Momo Challenge?

Momo Challenge adalah tantangan yang mengajak peserta untuk mengikuti sebuah permainan. Tantangan ini dimulai ketika peserta menghubungi kontak Momo di platform WhatsApp.

Setelah terhubung, Momo bakal meminta peserta tantangan untuk melakukan tindakan yang justru menyakiti diri sendiri atau orang terdekat, bahkan tantangan ini bisa menjurus pada seruan untuk bunuh diri.

Unit Investigasi Kajahatan Komputer meksiko menyebutkan bahwa penyebaran permainan ini berawal dari facebook, di mana sejumlah anggotanya berkomunikasi dengan orang tak dikenal via whatsApp.

Peserta Momo Challenge melaporkan bahwa dalam tantangan itu, Momo bakal mengirimkan gambar dengan beberapa arahan berbau kekerasan. Jika peserta tantangan tak mengikuti perintah permainan itu, mereka bakal mendapat ancaman yang menakutkan.

The Sun menuliskan bahwa Momo berasal dari nama akun media sosial yang ada di whatsApp, Facebook, dan YouTube. Sosoknya digambarkan sebagai patung wanita burung dengan wajah menyeramkan, mata terbelalak seperti monster, senyuman garing  dan rambut kusut yang panjang serta dibiarkan terurai.

Menurut beberapa sumber  Avatar momo merupakan karya seniman jepang Midori Hayasi tapi ada sumber lain yang menyebut bahwa avatar momo  adalah buatan Link Factory, sebuah perusahaan efek khusus di jepang, namun demikan keduanya tidak berkaitan dengan kasus Momo Challenge, hanya gambar karyanya yang dimanfaatkan oleh orang yang tak bertanggungjawab. Selain membahayakn keselamatan jiwa, Momo Challenge juga mengancam bocornya data diri pengguna.

Mengutip Unilad, Unit Investigasi Kejahatan Komputer Meksiko mencatat bahwa pelaku bisa memanfaatkan informasi ini untuk pemerasan, jadi Momo Challenge adalah tantangan yang berisiko mulai dari pencurian data pribadi, depresi atau gangguan mental, aksi bunuh diri,tindak kekerasan yang mungkin dilakukan pemain, pelecehan dan pemerasan.

Rodrigo Nejm dari NGO Safenet  kepada BBC News Portugal, Menyebut bahwa agak sulit untuk melacak Momo di WhatsApp, pasalnya nomor itu terkoneksi dengan tiga nomor telpon dari Jepang, Kolumbia, dan Meksiko.

Peradaban Liberal, Perusak Generasi

Liberaslisme asal katanya liber yang berarti bebas. Pengertian liberalisme adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa kebebasan dan persamaan hak merupakan nilai politik yang harus di junjung tinggi.

Liberalisme di latarbelakangi oleh John Locke, yang menyatakan bahwa liberalisme adalah hak asasi manusia mencakup hak hidup, kemerdekaan, dan hak milik ( Life, Liberty, and Property ) termasuk di dalamnya hak politik.

Inti dari liberalisme adalah bahwa setiap orang di lahirkan bebas ( liberty) dan hanya ia yang berhak menentukan jalan hidupnya tanpa campur tangan atau dipengaruhi orang lain bahkan Negara sekalipun wajib menjamin kebebasan individu. di dalam sistem pergaulan nilai-nilai ini akhirnya menyamar menjadi budaya individualisme serta hedonisme.

Paham liberal dengan ide kebebasannya telah melegalkan manusia untuk membuat tantangan-tantangan berbahaya yang merusak moral dan keselamatan diri dan itu di lakukan atas dasar kesenangan demi meraih keuntungan sesaat.

Anehnya, permainan-permainan berupa tantangan yang tak masuk akal justru banyak di kagumi oleh manusia khususnya generasi milenia abad ini, padahal  resiko dan bahayanya telah tampak nyata. Tren kebebasan telah memunculkan banyaknya permainan-permainan yang merusak sendi-sendi kehidupan manusia mulai dari hubungan sosial yang terabaikan, depresi, kehilangan pola berfikir yang sehat, ketakutan dan rasa cemas yang berlebihan, hingga rasa putus asa yang mencekam yang berefek menarik diri dari dunia manusia dan masuk dalam dunia digital yang tanpa batas.

Walhasil, Ide kebebasan telah menjadi predator, dan tumbal terbanyak adalah generasi muda yang memiliki potensi mudah terpengaruh dengan permainan-permainan yang menantang tapi, ternyata merusak sehingga mereka telah terjauhkan dari generasi visioner, produktif, kreatif dan karekter ilmuan yang memiliki keimanan yang kuat.

Sayangnya, Negara sebagai pengatur juga harus tunduk dibawah kendali kebebasan dan hak asasi manusia, sebab Negara menjamin kebebasan individu mengatur hidupnya, semua kontrol anak adalah kewajiban orang tua, padahal peranan Negara dalam menjaga akal rakyatnya adalah sebuah kewajiban yang seharusnya tidak terabaikan, sulitnya mengatasi kejahatan yang terus berulang pada dunia digital adalah jawaban betapa pengaturan itu masih sulit untuk menyeret pelaku kejahatan agar diberi hukuman yang pantas, terlebih ketika kejahatan itu di lakukan secara lintas batas.

Begitupun, kontrol yang semestinya diberikan oleh masyarakat juga terbaikan, kecendrungan individulisme dan egoisme telah menjebak masyarakat untuk memikirkan diri sendiri tanpa peduli dengan kondisi yang ada di sekelilingnya. Inilah sebuah kesalahan yang telah di bangun dalam ranah sistemik yang memiliki pagar liberalisme, pilar sekularisme dan pondasi yang kuat bernama kapitalisme.

Butuh Peranan Negara

Dalam Islam, media massa memiliki fungsi strategis bagi Negara dan kepentingan dakwah islam. Di dalam negeri, media massa berfungsi untuk membangun masyarakat islam yang kokoh, sedangkan di luar negeri berfungsi untuk menyebarkan islam. Rakyat sebagai individu berhak menyampaikan sesuatu kepada publik melalui media yang ada.

Hak itu diakui syariah berdasarkan dalil-dalil yang mewajibkan atau mensunnahkan menyampaikan sesuatu secara terbuka dan terang-terangan. Namun hak itu diatur dengan sejumlah kewajiban dan syarat tertentu.

Khalifah sebagai kepala Negara dengan bantuan departemen penerangan akan mengatur dan mengawasi media sesuai perundangan yang ditetapkan. Jika hak itu disalahgunakan  untuk menyebarkan ide batil dan pemikiran-pemikiran yang merusak, maka yang bertanggung jawab terhadap seluruh isi media adalah pemimpin redaksi dan wartawan atau pembuat/penulis, namun tak berarti medianya otomatis dibekukan atau dihentikan.

Sebab, media hanya dapat dihentikan dalam satu keadaan, yaitu jika pemilik media bukan lagi warga negara khilafah. Pihak yang berhak memberi peringatan, membekukan,atau menghentikan operasional suatu media pun bukanlah pihak penguasa, melainkan peradilan saja.

Sedangkan tindak pidana yang dilakukan oleh atau melalui media massa juga mendapatkan sanksi tegas dari Negara. Semua tindak pidana media massa ini masuk kategori ta’zir  yang kadar dan hukumannya ditentukan khalifah, mulai dari penjara enam bulan, satu tahun,

dua tahun, dan lain-lain tergantung jenis dan kadar tindak pidana yang dilakukan. contoh tindak pidananya adalah melakukan provokasi, penghinaan, memfitnah, menyebarkan konten negatif misal gambar porno, menyebarkan berita hoax dan termasuk permainan-permainan yang dapat membahayakan jiwa atau ajakan bunuh diri.

Dengan demikian media massa dalam islam akan menjadi alat konstruktif untuk memelihara identitas keislaman masyarakat dan melindungi rakyat dari pemikiran-pemikiran yang merusak, tanpa melarang unsur hiburan yang sehat dan syar’i.

Pengaturan sesungguhnya sangat diperlukan agar tidak terjadi kebebasan yang kebablasan yang berujung pada malapetaka peradapan manusia. Karena itu untuk menyelamatkan generasi dari rusaknya peradapan kapitalis liberalis,maka  dibutuhkan pengaturan yang komperehensif dari segala sisi termasuk media, dan itu hanya dapat dilakukan dengan pengaturan yang bersumber dari Rabb alam semesta yakni Allah SWT. Wallahu a’lam.(***)

Oleh : Mariana, S.Sos

(Guru SMPS Antam Pomalaa-Kolaka)

error: Hak Cipta dalam Undang-undang