Hadapi New Normal di Sekolah, Sudah Siapkah?

Siti Rokaya
Siti Rokaya

Oleh: Siti Rokaya

( Relawan Media dan Opini)


Adaptasi aturan berkaitan dengan penerapan New Normal Life (kenormalan baru) terus dilakukan. Dalam bidang pendidikan, adaptasi net normal juga sedang dirancang. Dilansir  dalam zonasultra.com (28/6/2020),  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kolaka membuat beberapa skenario menghadapi adaptasi kenormalan baru di sekolah. Apalagi, tahun ajaran baru akan dimulai pada 13 Juli 2020 mendatang.

Dalam penjelasannya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kolaka Sal Amansyahsangat berhati-hati dalam memutuskan modalitas belajar tatap muka di sekolah. Beliau khawatir dibuka kelas tatap muka di sekolah justru menimbulkan klaster baru penularan Covid-19.

Namun setelah melakukan pengkajian pada segala aspek, Dikbud Kolaka memutuskan memilih model pembelajaran offline(luar jaringan) sebagai metode belajar mengajar guru dan siswa dalam pembelajaran. Untuk mendukung keputusan ini, Dikbud Kolaka telah membentuk gugus tugas khusus yang akan mengurusi dan mempersiapkan pengembangan.

Gugus tugas juga akan mengidentifikasi materi yang tepat untuk dijadikan pedoman bagi guru dan siswa dalam menjalani aktivitas keilmuan di sekolah. Tim gugus tugas juga tengah mengembangkan materi pembelajaran sebelum akhir Juni 2020. Tidak hanya itu,  pihak Dikbud Kolaka juga mengupayakan adanya video yang menjadi modalitas pembelajaran yang bisa digunaka selama masa adaptasi belajar ini.

Sekolah di Masa Pandemi, Penuh Tantangan

Hingga saat ini, kurva kasus positif Covid-19 belumenujukkan penurunan. Tentu saja, hal ini cukup mengkhawatirkan. Karena itu, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tentang New Normal di tengah pandemi wabah Covid 19 ini mendapat banyak komentar. Ada yang mendukung, ada pula yang menyangsikan.

 Memang, kebijakan New Normal Life diikuti dengan sejumlah himbauan dari pemerintah mengenai standar protokol kesehatan. Namun, itu semua tidak menjamin masyarakat tidak terkena virus Covid 19 ini. Terutama di dunia pendidikan, dimana sekolah-sekolah mulai di buka dan proses belajar mengajar kembali diaktifkan.

Penularan Covid-19 yang begitu cepat membuka kemungkinan penularan virus corona pada anak-anak. Di Perancis contohnya,  70  siswa dinyatakan positif Covid 19.(kompas.com,56/2020) Padahal, protokol kesehatan sudah dijalankan.

Di Inggris, 7 karyawan sekolah dikonfirmasi positif Covid 19 pasca pembukaan sekolah 1 Juni 2020. Akibatnya, Juru Bicara Dewan Kota Derby mengatakan sekolah akan kembali ditutup selama satu minggu dan dibuka lagi pada Senin 8 Juni 2020. (pikiran.rakyat.com, 2/6/2020) Sebagai langkah antisipatif, Inggris juga melakukan studi Covid di Inggris.

Kebijakan untuk membuka sekolah saat ini menuai tantangan. Pasalnya, kekhawatiran akan cepatnya penularan covid masih membayangi masyarakat, baik orang tua maupun siswa. Memang, cukup sulit untuk membuktikan bahwa anak merupakan klaster yang dapat menularkan virus dengan cepat. Namun, langkah antisipatif tetap harus dilakukan.

Masih terus bertambahnya kasus covid juga menjadi pertimbangan masyarakat. Juru Bicara Pemerintah urusan Corona, Achmad Yurianto kembali memperbaharui data perkembangan covid di Indonesia. Hingga 2 Juli 2020, terdapat 1.624 kasus baru Covid-19. Sehingga saat ini jumlah kasus covid berjumlah 59.394 kasus, terhitung sejak kasus pertama diumumkan oleh Preside pada Maret 2020. “Kami mendapatkan kasus konfirmasi positif sebanyak 1.624 orang, sehingga total kasus positif sebanyak 59.394 orang,” ujar Achmad Yurianto. (koma.com,2/7/2020)

Pertambahan ini tentu menjadi “warning” bagi segala pihak untuk lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas ataupun mengambil kebijakan. Sebab, secara umum kasus covid terus menunjukkan perkembangan, belum menunjukkan curva penurunan. Masih dalam kanal media yang sama, pada periode 1-2 Juli terdapat 53 pasien Covid-19.

Dengan penambahan jumlah pasien yang meninggal, total jumlah pasien meninggal hingga saat ini adalah 2.987 orang. Yang cukup menenangkan adalah jumlah pasien yang dinyatakan sembuh, yakni 26.667 orang. Pasien ini sudah dianggap sembuh dan tidak terinfeksi lagi oleh virus Corona.

Harapannya, kebijakan new normal ini akan diiringi dengan penurunan jumlah pasien positif covid dan semakin banyaknya orang yang sembuh. Sehingga orang tua bisa melepas anaknya ke sekolah dengan perasaan tenang. Demikian pula anak, bisa bersekolah dengan rasa aman.

Islam Memberi Solusi

Dalam mengatasi wabah, Islam tak luput memberi teladan dalam mengambil langkah penyelesaian. Rasulullah saw bersabda: “Jika kamu mendengar wabah disuatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya, tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada maka jangan tinggalkan tempat itu. (HR. Bukhari)

Dari hadist tersebut maka kaum muslimin wajib mentaati, begitupun pemimpin yang mempunyai peran cukup besar dalam hal ini. Sebab ini adalah tanggung jawabnya dalam mengurus dan melindungi rakyatnya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : “Imam adalah raa’in (pengurus rakyat) dan bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya. (HR al-Bukhari)

Islam memandang masalah kesehatan, sejajar dengan masalah pangan. Dengan demikian, perhatian penuh juga diarahkan pada hal ini. Untuk membuka kembali sekolah di masa pandemi masih ada, diperlukan kebijakan yang strategis.

Pertama, kebijakan  bersifat edukasi preventif dan promotif. Islam adalah agama pencegahan.Artinya, Islam mendahulukan tindakan untuk menjauhkan diri dari keburukan. Kebijakan yang diambil ini berkaitan dengan perilaku keseharian masyarakat yang senantiasa diarahkan untuk menjaga kesehatan. Antara lain dengan tidak memakan makanan yang haram dan tidak sehat. Hal ini juga disampaikan kepada anak-anak dan orang tua.

Mengenai pencegahan tersebut, dalam hal makanan pun Islam mengatur tentang hal ini. Islam menuntun manusia untuk hanya mengkonsumsi makanan yang halal. “Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian” (TQS. An-Nahl [16]: 114).

Anjuran untuk senantiasa pak masker, handsanitizer dan gerakan untuk selalu mencuci tangan selalu dipromosikan serta dikuatkan. Begitu pula masyarakat harus dinformasukan mengenai sebab penularan wabah yang bisa terjadi dimana saja. Ditambah lagi, edukasi tentang cara penularan virus dan etika ketika sedang sakit perlu terus disosialisasikan.

Kedua, ketersediaan Sarana dan Prasarana Kesehatan. Ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai sangat penting di situasi saat ini. Jika sekolah tatap muka jadi dilaksanakan, maka penyediaan APD yang nyaman bagi anak juga perlu untuk disiapkan. Sehingga, masker ataupun penutup wajah yang cocok bagi anak dapat disiapkan.

Seperti saat ini, empat Kementrian telah membuat persyaratan untuk memasuki masa pembukaan sekolah.Empat menteri tersebut adalah Mendikbud, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Dalam kesepatakan ini, terdapat rincian persiapan yang dilakukan. Persiapan tersebut terdiri dari, ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan seperti toilet bersih, sarana cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau cairan pembersih tangan (handsanitizer), dan disinfektan.

Selanjutnya, dipertimbangkan pula kemampuan mengakses fasilitas kesehatan layanan kesehatan (puskesmas, klinik, rumah sakit, dan lainnya) serta kesiapan menerapkan area wajib masker kain atau masker tembus pandang bagi yang memiliki peserta disabilitas rungu. Kepemilikan thermogun(pengukur suhu tubuh tembak) juga harus diketahui. Jadi semua sarana dan prasarana harus dilengkapi. Jangan sampai, sekolah tetap dibuka namun persiapan untuk mengantisipasi penularan virus corona belum dilakukan dengan maksimal.

Ketiga, kebijakan terpadu yang sistemik. Kebijakan penanganan pandemi tidak bisa hanya dilakukan sebagian-sebagian. Namun, harus melibatkan seluruh elemen masyarakat. Sebab, menghadapi new normal tidak hanya oleh satu atau dua orang saja, tetapi banyak orang.

Karena itu, pertimbangan ekonomi untung rugi tidak boleh menjadi alasan utama dalam kembalinya kehidupan baru di masa corona, termasuk pembukaan sekolah dengan tatap muka. Hendaknya, semua kebijakan bersandar pada kesadaran bahwa nyawa manusia lebih penting dari segalanya. Wallahua’lamBishawwab.


error: Hak Cipta dalam Undang-undang