Hilangnya Fungsi Ayah Sebagai Imam

HamsinaHalisiAlfatih
HamsinaHalisiAlfatih

Oleh: HamsinaHalisi Alfatih


 

Kasus pemerkosaan yang dialami oleh remaja saat ini kian hari menambah duka pilu terhadap nasib anak bangsa. Tiap tahunnya kasus pelecehan maupun pemerkosaan tak kunjung memberi zona nyaman bagi kehidupan remaja. Bahkan, kasus-kasus yang tak berperikemanusiaan ini tak hanya dilakukan oleh orang lain tetapi pula dilakukan oleh orang-orang terdekat yaitu keluarga.

Baru-baru ini jagat maya kembali dihebohkan dengan kasus pemerkosaan yang di lakukan oleh seorang ayah terhadap anak kandungnya. Dilansir dari Detiknew.com (09/08/20) Polisi menangkap AP (49), seorang ayah yang tega memperkosa putri kandungnya, di Siak, Riau. Menurut keterangan korban, sang pelaku memerkosa ketika sang istri bekerja. Tersangka melakukan perkosaan sebanyak tiga kali.

Pejabat Sementara Subbag Humas Polres Siak, Bripka Dedek Prayoga pada Minggu (9/8/2020) mengatakan “Kasus perkosaan yang dialami korban saat masih duduk di SMP pada usia 13 tahun, kejadiannya 7 tahun yang lalu. Korban mengaku sebanyak tiga kali dipaksa meladeni nafsu bapak kandungnya.” Atas tindakan bejat tersebut pelaku dijerat dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

 

Kasus serupa pun di alami oleh seorang remaja di Bali. Seorang ayah di Tabanan, Bali, MSP (36) tega memperkosa anak sulungnya berinisial JM (15). Ironisnya, aksi tersebut dilakukan selama delapan tahun mulai 2012 hingga 2020. (Kompas.com,01/08/20)

Rasa nyaman yang seharusnya didapatkan oleh seorang anak dari ayahnya nampaknya saat ini telah meredup. Sosok yang dianggap sebagai pelindung kini justru hadir sebagai ‘monster’ menakutkan serta ancaman bagi sang anak. Diluar rumah kadang kita berfikir orang lain juga merupakan sumber dari subjek yang kapan saja mampu mengancam remaja saat ini. Tetapi, justru hal tersebut pun hadir dilingkungan keluarga sendiri.

BACA JUGA :   Pemda Koltim Target Adipura 2019

Kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh orang terdekat korban, menurut psikolog Universitas Indonesia, Tika Bisono, adalah penyimpangan sosial yang bisa jadi disebabkan oleh depresi yang kemudian menyebabkan rusaknya pola pikir pelaku. (Tempo.co,20/02/13)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co