,

Hipokrisi Politik Praktis, Mendulang Suara Pragmatis

Oleh : Mariana, S.Sos (Guru SMPS Antam Pomalaa-Kolaka)
Oleh : Mariana, S.Sos (Guru SMPS Antam Pomalaa-Kolaka)

Oleh : Mariana, S.Sos
(Guru SMPS Antam Pomalaa- Kolaka)

Calon Presiden (Capres) Joko Widodo (Jokowi) resmi memilih Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin menjadi Calon Wakil Presiden (Cawapres) Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. Ditetapkannya Ma’ruf Amin sebagai sebagai Cawapres di luar ekspektasi masyarakat selama ini.

Pasalnya Jokowi sebelum ini dikait-kaitkan dengan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK),Mahfud MD. Pengamat Politik Akhmad Muftizar Zawawi menilai, Ma’ruf menjadi Cawapres Jokowi merupakan pilihan yang tepat. Pasalnya Ma’ruf memiliki rekam jejak yang inklusif sebagai Ketua MUI.

“Ma’ruf bisa dongkrak elektabilitas Jokowi, karena beliau punya rekam jejak yang inklusif sebagai Ketua MUI yang membawahi ulama-ulama lintas aliran,”. Selain itu,kata Mufti, Amin juga merupakan tokoh Nahdatul ulama (NU) yang struktural dan disegani oleh pengurus NU Lainnya di Indonesia. (RMOL Sumsel, jum’at, 10 agustus 2018). Ma’ruf Amin sendiri menyampaikan bahwa Presiden Joko Widodo atau Jokowi sosok yang menghargai ulama.

“Saya menganggap ini mungkin penghargaan kepada ulama,karena saya dianggap merepresentasikan ulama,”tutur Ma’ruf Amin di lokasi, kamis (9/8/2018).

Jika sandiwara politik yang ingin dipentaskan dalam meraup dukungan suara umat islam, maka sesungguhnya itu adalah sebuah kekeliruan sebab umat islam saat ini sudah banyak yang paham orientasi berfikir penguasa, mereka tidak akan memilih pemimpin yang menurut mereka anti terhadap islam dalam segala kebijakan-kebijakannya, apalagi selama lima tahun telah menampakkan wajah aslinya dengan menggesek dan menggeser umat islam.

Luka dan trauma tidak akan mungkin di sembukahkan secara instan, meskipun segala tindakan dipoles sedemikian rupa, tetap saja topeng kejahatan tidak akan dapat disembunyikan dalam rekam jejak yang selama ini telah tertoreh.

Hipokrisi Politik Praktis

Mamanfaatkan ulama untuk meraih suara rakyat khususnya umat Islam mayoritas negeri ini dalam politik praktis demokrasi adalah upaya untuk merendahkan jabatan ulama sebagai pewaris para Nabi dan payung bagi umat.

BACA JUGA :   Pengangkatan Yusmin Jadi Kabid Minerba ESDM Sultra Mendapat Sorotan Keras LKB HMI

Maka sudah seharusnya ulama memahami bahwa selama ini dalam politik praktis ala demokrasi mereka hanya dijadikan umpan untuk meraih suara rakyat,yang pada akhirnya ulama harus kehilangan jati diri dan kehormatannya sebagai ulama, Mereka dipaksa untuk “sujud” mematuhi titah-titah demokrasi dalam regulasi yang telah di tetapkan.

Yang paling penting umat islam harus bersatu, apa yang kalian suarakan itulah yang akan terjadi, apa yang kalian putuskan maka itulah yang akan terlaksana, karenanya jangan hanya melihat figur manusia tapi bagaimana sang pemimpin mampu mengatasi persoalan Negara. Ulama sekalipun tidak akan mampu membuat regulasi sepihak dan mempengaruhi jalannya sistem, sedang orang-orang di sekelilingnya hampir semuanya silau dengan kekuasaan, jabatan dan materi.

Bagaimana mungkin, Ulama mampu membuat aturan yang nilainya untuk ketaatan pada Pencipta, sedang para ulamanya sendiri di ikat oleh sistem yang tidak memungkinkan mereka lepas dari tali jeratannya.

Meski terlihat jenius dalam pemilihannya Karena memilih ulama dalam situasi politik memanas dimana terjadi gesekan yang sangat dalam antara rezim dan umat islam, tetapi ini sangat menunjukkan bahwa rezim dan partai sangat takut kehilangan suara umat islam meskipun selama ini berkoar-koar tidak butuh suara umat islam, toh pada akhirnya apa yang terlihat pada masa akhir jabatan, ternyata menunjukkan ambisius untuk mempertahankan jabatan

tetap ada dan itu membutuhkan suara umat islam, maka di jadikanlah ulama sebagai stempel untuk mendampingi penguasa menuju periode berikutnya, meski harus membuat sakit hati seorang Profesor yang telah mempersiapkan diri dan digadang-gadang bakal jadi calon pendampinya ternyata menjadi korban PHP.

Hipokrisi politik demokrasi telah menjadikan kepentingan diatas segala-galanya, hari ini bisa jadi lawan besok jadi kawan, hari ini koar-koar mendukung besok menjadi lawan, hari ini tidak butuh, besoknya merangkul, ya itulah demokrasi yang namanya lawan maupun kawan tak ada yang konsisten, semuanya berpijak pada kepentingan.

BACA JUGA :   Gagal Tangani Pademi, Bisakah Otokrasi Menggantikan Demokrasi ?

Wajah ganda demokrasi telah melahirkan politik pragmatis yang berujung pada kepentingan kekuasaan dan uang, jika sudah tak penting lagi dan tak dapat menghasilkan kekuasaan dan uang maka sirnalah koalisi dan pertemanan. Jadi wajarlah kalau bangunan yang didirikan akan mudah rapuh walau sedikit di sentuh angin.

Karenanya,menggantungkan harapan pada bangunan yang rapuh adalah kekeliruan yang berakibat pada kekecewaan, frustasi dan kesedihan secara terus menerus. Persoalannya bukan pada siapa yang memimpin tapi bagaimana caranya memimpin dan aturan apa yang digunakan dalam melaksanakan kepemimpinan, meski itu mengatasnamakan Ulama. Sebab itu,menyandingkan ulama dengan monster dalam istana iblis untuk meraih kebaikan umat, adalah sesuatu yang mustahi terjadi.

Olehnya itu, mari pahami politik yang ada, sadari bahwa suara yang akan kita berikan benar-benar dalam rangka ketaatan pada Allah dan kebaikan bagi umat, jangan sampai apa yang telah kita berikan justru menjadi penyesalan di dunia maupun diakhirat.

Konsisten Dalam Politik

Kisah Rasulullah saw seharusnya jadi pelajaran, ketika dakwahnya telah mencapai puncak kejayaan maka penguasa Quraisy mulai menampakkan kebenciannya, penguasa Quraisy sangat paham bahwa ketika islam yang di suarakan oleh Rasulullah Muhammad mendapat tempat di hati rakyat dan rakyat menyadari kerusakan pemimpin dan sistem yang diterapkan oleh suku Quraisy Mekkah maka mereka dengan sendirinya akan mengubah sistem yang ada dengan sistem islam dan tentu itu akan menggoyahkan singgasana penguasa-penguasa Quraisy,apalagi pada saat itu banyak rakyat mekkah yang secara terangan-terangan dan diam-diam mengakui kebenaran islam yag diserukan Rasulullah Muhammad. Maka ancaman pun datang pada Rasulullah, dari penguasa-penguasa Quraisy bahkan hingga ancaman pembunuhan agar Rasul menghentikan dakwahnya. Menanggapi demikian Rasulullah tidak gentar bahkan ia mengatakan

BACA JUGA :   Kekerasan Seksual Jadi Polemik, Butuh Solusi Sistemik

“Demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, sungguh tidak akan aku lakukan. Biarlah nanti, Allah yang akan membuktikan kemenanganku atau aku binasa karenanya”. Bahkan saking gigihnya Rasulullah mempertahankan misi dakwahnya dalam menyuarakan kebenaran, penguasa dan pengusaha Quraisy bekerjasama menawarkan kepada Rasulullah untuk masuk dalam sistem pemerintahan dengan menawarkan harta, jabatan dan wanita, tapi semua itu Rasul tolak dengan tegas dan menyeru mereka untuk tobat sebelum azab Allah datang pada mereka.

Sesungguhnya konsisten dalam politik itu mungkin sangat berat sebab disitu ada ujian perjuangan,begitupun fokus pada tujuan politik juga berat apalagi ketika sudah ada iming-iming harta dan jabatan yang disodorkan oleh penguasa dan pengusaha, tentu bagi pejuang yang hanya cinta pada dunia,menjadi peluang baginya dan tergiur dengan adanya imbalan seperti itu meskipun harus meninggalkan tujuan politiknya.

Tapi bagi mereka yang memang benar-benar konsisten arah politiknya maka imbalan apapun tidak akan menggoyahkan prinsip mereka meski harus bergesekan dengan status quo yang telah di bangun oleh sistem.

Orang yang paham dengan perjuangan pasti tahu, yang namanya risiko pasti selalu ada baik itu berupa ancaman, kekerasan fisik, fitnah, bahkan kematian, maka jangan putus asa dengan beratnya tantangan yang ada tapi jadikan tantangan itu sebagai peluang untuk meraih tujuan, bukannya terjebak dengan melakukan toleransi berdasarkan asas manfaat kepentingan dan menyalahi tujuan politik yang seharusnya, karena hal itu justru akan membelokkan perjuangan dan pada akhirnya akan tergerus dan terjerumus. Maka konsisten dengan tujuan politik, jauh lebih baik daripada terjebak dalam hipokrisi politik praktis demokrasi. Wallahu a’lam. (***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co