, , ,

Hukum Seputar Kosmetik Berbahaya

Oleh: Dewi Tisnawati, S. Sos.  I

(Pemerhati Sosial)

 

Kosmetik berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti “berhias”. Kosmetik merupakan alat yang tidak dapat dipisahkan dari seorang wanita. Wanita secara fitrahnya dipandang menarik hati manusia yang melihatnya terlebih jika wanita itu menggunakan kosmetik yang membuat mereka tampil cantik dan indah dipandang mata.

Bahan yang dipakai dalam usaha untuk mempercantik diri ini dahulu diramu dari bahan-bahan alami yang ada di sekitarnya, namun sekarang kosmetik dibuat tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan buatan. Tidak jarang bahan buatan yang digunakan ternyata mengandung zat yang berbahaya sehingga ini patut menjadi perhatian bagi siapapun, terkhusus  seorang wanita.

Peredaran kosmetik berbahaya kini sudah masuk di wilayah Konawe, sebagaimana yang dilansir Kendaripos.co.id bahwa Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Sultra yang melakukan inspeksi di Pasar Modern di Kelurahan Wawotobi, berhasil mengamankan 32 jenis kosmetik berbahaya.

Kepala Seksi Penindakan BPOM Provinsi Sultra, Wahyudin Muis, membenarkan, pihaknya melakukan inspeksi mendadak (Sidak) dan berhasil mengamankan sejumlah kosmetik ilegal dan mengandung bahan berbahaya yang dijual bebas di Pasar Modern Wawotobi.

Petugas BPOM telah memberikan tindakan terhadap penjual kosmetik berbahaya tersebut, berupa surat pernyataan untuk tidak menjual produk serupa. “Ada 8 penjual kosmetik yang kami datangi di Pasar Wawotobi, 3 diantaranya menjual kosmetik berbahaya. Untuk penjualnya kita buatkan berita acara pengamanan produk sementara waktu,” ungkapnya.

Kosmetik berbahaya tersebut diantaranya adalah tritinion hydroguime 60 Ml, RDL hydroluinone, MBL 3 maxi white exfoliant 60 Ml, diamond white, natural GG, herbal pore, Sj day v right cream, Bl cream, temulawak cream, diamond berbie, natural gg king, diamond super cream, special sp, original gg cream, la billo light cream, super dr gold, natural 99, garnier skin natural dan Sp aa spesial.

BACA JUGA :   MASYARAKAT KONAWE DIRESAHKAN ISU BANJIR BANDAN

Menggunakan kosmetik pada dasarnya dibolehkan dalam Islam karena merupakan bagian dari berhias. Islam memperkenankan kepada setiap muslim dan muslimah untuk berpenampilan selalu baik, elok dipandang, anggun, berwibawa, dan hidupnya teratur dengan menikmati perhiasan dan pakaian yang telah diturunkan oleh Allah.

Termasuk dalam menggunakan kosmetik yang tidak berlebih-lebihan adalah dibolehkan. Sebagaiman firman Allah Swt yang artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-A’raf:31).

Adapun hukum menggunakan kosmetik yang berbahaya adalah haram, karena prinsipnya Islam mengharuskan manusia menjaga diri dari kehancuran atau kebinasaan. Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dalam Majmu’ Fatawa dikatakan:

Pada asalnya, minyak wangi yang ada di tengah masyarakat itu halal, kecuali yang diketahui mengandung unsur yang terlarang untuk dipakai, karena bisa memabukkan atau mengandung najis, atau sebab lainnya. Jika tidak diketahui, maka tetap berada pada hukum asalnya, bahwa minyak wangi yang ada hukumnya halal”.

Hukum asal benda yang berbahaya adalah haram. Prinsip ini berbunyi : Al-Ashlu fi al-madhaar at-tahrim (hukum asal benda yang berbahaya [mudharat] adalah haram) (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, III/451).

Prinsip ini berarti bahwa segala sesuatu materi (benda) termasuk kosmetik yang berbahaya, sementara tidak terdapat nash syar’i tertentu yang melarang, memerintah, atau membolehkan, maka hukumnya haram. Sebab, syariat telah mengharamkan terjadinya bahaya.

Dasar dari kaidah tersebut adalah hadits Nabi SAW, di antaranya sabda Nabi SAW yang artinya: “Tidak boleh menimpakan bahaya bagi diri sendiri dan bahaya bagi orang lain”. (HR Ibnu Majah, Ad-Daruquthni, dan lain-lain) (An-Nawawi, 2001:214).

BACA JUGA :   Unicorn, Untung Bagi Korporat Buntung Bagi Rakyat

Jadi,  jika masyarakat mengetahui bahwa ada kosmetik yang mengandung unsur yang tidak boleh dipakai karena bisa memabukkan atau najis atau berbahaya bagi kesehatan maka itu harus ditinggalkan. Misalnya merkuri atau air raksa termasuk logam berat berbahaya yang dalam konsentrasi kecil pun bersifat racun.

Penggunaan merkuri dalam krim pemutih dapat menimbulkan berbagai hal, mulai dari perubahan warna kulit yang akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, iritasi kulit, hingga alergi.

“Pemakaian dalam dosis tinggi bisa menyebabkan kerusakan permanen otak, ginjal, dan gangguan perkembangan janin,” kata Husniah menambahkan. Bahkan, paparan dalam jangka pendek dalam kadar tinggi bisa menimbulkan muntah-muntah, diare, kerusakan paru-paru, dan merupakan zat karsinogenik yang menyebabkan kanker.

Sementara itu, hidroquinon termasuk obat keras yang hanya dapat dipakai berdasarkan resep dokter. Pemakaian obat keras tanpa resep dokter ini dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit jadi merah dan rasa terbakar, serta dapat menyebabkan kelainan pada ginjal (nephropathy), kanker darah, dan kanker sel hati.

Perlu diketahui juga bahwa menjualbelikan benda haram hukumnya adalah haram. Prinsip tersebut dirumuskan dalam kaidah fiqih ”Kullu maa hurrima ‘ala al-ibaad fabay’uhu haram.” (Segala sesuatu yang diharamkan Allah atas hamba-Nya, maka memperjualbelikannya adalah haram juga) (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, II/248).

Dasar dari kaidah/prinsip itu adalah hadits-hadits. Di antaranya sabda Nabi SAW, ”Dan sesungguhnya Allah, apabila mengharamkan suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka haram pula bagi mereka harga hasil penjualannya.” (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Imam Asy-Syaukani menjelaskan hadits di atas dengan mengatakan, “Sesungguhnya setiap yang diharamkan Allah kepada hamba, maka menjuabelikannya pun haram, disebabkan karena haramnya hasil penjualannya. Tidak keluar dari (kaidah) kuliyyah/menyeluruh tersebut, kecuali yang telah dikhususkan oleh dalil.”  (Asy-Syaukani, Nailul Authar, V/221)

BACA JUGA :   Pengemudi Kelelahan, Mobil Pick Up Masuk Selokan

Sebagai kesimpulan bahwa kosmetik berbahaya itu diharamkan untuk menggunakannya begitu pun dengan memperjualbelikannya diharamkan. Persoalan ini terjadi disebabkan oleh penerapan sistem sekuler yang tidak memperdulikan halal dan haram, karena berdiri di atas asas manfaat (pragmatisme/utilitarianisme).

Padahal dalam negara Islam melindungi kaum muslimin dari berbagai jenis pelanggaran terhadap syara’at Islam. Termasuk menjaga kaum muslimin dari berbagai produksi kosmetik yang haram. Karena itu, persoalan ini akan tuntas secara total apabila Negara Islam berdiri. Semoga Allah SWT memberikan pertolongan kepada kaum muslimin di seluruh dunia. Wallahu a’lam bishshawab. (***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co