Ilusi kesejahteraan Dalam Sistem Kapitalisme


Oleh: Hamsina Halisi Alfatih


Kemiskinan bukanlah hal tabu yang kini tengah melanda tak hanya di Indonesia tetapi di berbagai negara lainnya. Kemiskinan bagai cambuk betapa gagalnya sebuah negara dalam menjamin kehidupan rakyatnya.

Di Sulawesi Tenggara sendiri terpampang jelas nasib masyarakat yang kurang mampu dalam mengais rezeki dengan memulung bahkan harus mengemis dipinggir jalan. Dalam sebuah artikel dikabarkan melalui Telisik.id, (09/08/20) seorang ibu bernama Mira(38) bersama dengan ke empat orang anaknya hampir setiap harinya memulung hanya untuk bertahan hidup dengan mengais sampah.

Bahkan ada pula kehidupan seorang kakek dan nenek terpaksa harus mengikat tali diperut hanya untuk menahan rasa lapar. (Demokrasi.co.id,2/04/19)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan di Indonesia per Maret 2020 mengalami kenaikan menjadi 26,42 juta orang. Dengan posisi ini, persentase penduduk miskin per Maret 2020 juga ikut naik menjadi 9,78 persen. (Tirto.id,15/07/20)

Terkhusus Sulawesi Tenggara, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat sebanyak 11,24 persen masyarakat Sultra atau 302.580 jiwa masih hidup dalam kategori miskin per Maret 2019.(Zonasultra.com,16/07/19)

Potret kemiskinan di Indonesia memang di nilai tidak selaras dengan melimpah ruahnya sumber kekayaan alam di negeri ini. Pada faktanya hal tersebut justru dinikmati oleh individu-individu atau kelompok swasta/korporat. Padahal jika diukur dari melimpahnya SDA di negeri ini justru mampu memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyat. Pada kenyataannya, kesejahteraan itu hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki kuasa dan modal. Sementara rakyat kecil harus menikmati kesengsaraan dari kebijakan pemerintah yang lebih pro kepada pihak korporasi.

Pada dasarnya sistem ekonomi kapitalisme itu mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Tapi lagi dan lagi sistem cacat ini tidak mampu memberantas kemiskinan. Mengapa demikian? Sebab sistem ekonomi kapitalisme liberal hanya menitikberatkan pada hak para pemilik modal guna mengembangkan usahanya. Hal tersebut berarti siapa pun yang memiliki modal maka pemilik modal tersebut memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan usahanya, dan tak bisa dipungkiri adanya peran pemerintah yang memudahkan hal tersebut.

Selain itu sistem ekonomi liberal memberikan aspek kebebasan kepada para pelaksananya guna menjalankan kegiatan usaha yang diinginkan serta menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Maka dari sini kita bisa menilai bahwa sistem ekonomi liberal hanya mengutamakan kepentingan pihak korporasi serta tidak adanya jaminan kesejahteraan bagi masyarakat bawah. Sehingga pada akhirnya, masyarakat miskinlah menjadi korban dan terpinggirkan akibat kepentingan para pemodal.

Dalam konteks global, di semua negara yang menganut kapitalisme-liberalisme-sekularisme telah tercipta kemiskinan dan kesenjangan sosial. Hari ini ada 61 orang terkaya telah menguasai 82 persen kekayaan dunia. Di sisi lain sebanyak 3.5 miliar orang miskin di dunia hanya memiliki aset kurang dari US$ 10 ribu. Karena itu mustahil kemiskinan bisa dientaskan bila dunia, termasuk negeri ini, masih menerapkan sistem yang rusak ini. Bahkan Oxfam International yang meriset data ini menyebut fenomena ini sebagai “gejala sistem ekonomi yang gagal!” (Tirto.id, 22/01/2018).

Lantas bagaimana cara Islam mengentaskan masalah kemiskinan demi terwujudnya kesejahteraan umat. Dalam perspektif Islam kesejahteraan umat merupakan hal urgen yang harus diutamakan dan dipenuhi. Islam bukan hanya sekedar agama spiritual semata, tetapi Islam merupakan sebuah ideologi yang mampu memberikan solusi atas segala permasalahan umat termaksud mengentaskan kemiskinan agar terciptanya masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

Dalam mengentaskan kemiskinan Islam memilik solusi yang tak akan kita dapati dalam sistem kapitalisme liberal diantaranya:

Pertama: Secara individual, Allah SWT memerintahkan setiap Muslim yang mampu untuk bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 233). Rasulullah saw. juga bersabda:

طَلَبُ الْحَلالِ فَرِيضَةٌ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ

Mencari rezeki yang halal adalah salah satu kewajiban di antara kewajiban yang lain (HR ath-Thabarani).

Kedua: Secara jama’i (kolektif) Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk saling memperhatikan saudaranya yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan. Rasulullah saw. bersabda:

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَ جَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ

Tidaklah beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).

Rasulullah saw. juga bersabda:

أَيُّمَا أَهْلِ عَرْصَةٍ ظَلَّ فِيهِمُ امْرُؤٌ جَائِعٌ، فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُمْ ذِمَّةُ اللَّهِ

“Penduduk negeri mana saja yang di tengah-tengah mereka ada seseorang yang kelaparan (yang mereka biarkan) maka jaminan (perlindungan) Allah terlepas dari diri mereka”.(HR Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah).

Ketiga: Allah SWT memerintahkan penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah saw. bersabda:

فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus”. (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz membuat kebijakan pemberian insentif untuk membiayai pernikahan para pemuda yang kekurangan uang. Tak kalah mencengangkan pada masa Kekhalifahan Abbasiyah dibangun rumah sakit-rumah sakit lengkap dan canggih pada masanya yang melayani rakyat dengan cuma-cuma. Ini hanyalah sekelumit peran yang dimainkan penguasa sesuai dengan tuntunan syariah Islam untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya.

Melihat banyaknya penderitaan yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme liberal maka sudah seyogianya kita mencampakkan sistem rusak tersebut yang terbukti tidak membawa keberkahan. Terbukti hanya Islamlah yang mampu membawa keberkahan serta kesejahteraan dengan penerapan syari’at nya. Allah SWT berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Artinya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta.

Wallahu A’lam Bishshowab

Editor : Rj | Publizher : Iksan

error: Hak Cipta dalam Undang-undang