Indonesia dan Revolusi Mental : Refleksi Pemikiran 1945-2017

Ditulis oleh :  Muhammad Reza Setiawan

  • Mahasiswa Semester Akhir Jurusan Kehutanan (S1) UHO dan
  • Aktifis Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kendari
  • Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan UHO 2015
  • Mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Kehutanan (PC.) Sylva Indonesia UHO 2014


Sejak Indonesia merdeka tahun 1945, Ir. Soekarno dan Moh.Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pertama. Kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terlepas dari tangan dingin keduanya, bagaimana tidak wilayah Indonesia yang dikenal dengan sebutan nusantara dari sabang hingga Merauke, dari pulau Miangas hingga pulau Rote meliputi gugusan pulau-pulau kecil dan besar semisal pulau Jawa, Sumatera, Papua-Maluku, Kalimantan, dan Sulawesi yang dihuni oleh masyarakat dengan beranekaragam agama/etnik/budaya mampu dipersatukan dalam tali persaudaraan dibungkus dengan semangat kebangsaan melawan penjajahan kolonial Belanda (1602-1945) dan penjajahan Jepang (1942-1945) kala itu.

Selain itu salah satu karya fenomenal dan tiada tara yang sampai hari tidak ada samanya dibelahan dunia manapun yakni Pancasila yang saat ini menjadi Ideologi bangsa Indonesia.

Pasca kemerdekaan, Bung Karno julukan Ir.Soekarno secara utuh sadar dan paham betul bahwa Indonesia sesungguhnya belum sepenuhnya merdeka dari penjajahan dan perjuangan kemerdekaan masih sangat jauh dari kata berhasil.

Penjajahan yang lahir dari dalam diri bangsa itu sendiri, penjajahan yang terjadi sebagai akibat dari warisan kolonialisme yang menjajah ratusan tahun lamanya sehingga berdampak lahirnya mentalitas terjajah.

Kehilangan rasa kepercayaan diri, mental rendah hati, mentalitas pecundang sehingga memunculkan program nation and character building atau yang kita kenal dengan konsep revolusi mental.

Konseptualitas revolusi mental yang dicetuskan Bung Karno saat itu menjadi sebuah bukti bahwa kemerdekaan yang sekarang menginjak 71 tahun barulah sebatas pintu gerbang kemerdekaan.

BACA JUGA :   Mirisnya Hasil Tes CAT CPNS Konawe

Revolusi belum selesai dan akan terus berjalan seperti kata Bung Karno. Bung Karno menjelaskan lebih mendalam dalam pidatonya di peringatan kemerdekaan 17 agustus 1956 bahwa ada tiga fase revolusi bangsa kita saat ini, dua fase telah kita lalui secara berhasil dan satu fase lagi mengahadang sebagai tantangan.

Bangsa Indonesia telah melewati fase physical revolution (1945-1949) dan fase survival (1950-1955). Kemudian ia menandaskan bahwa sekarang kita berada pada taraf investment, yaitu taraf menanamkan modal-modal dalam arti yang seluas-luasnya : investment of human skill, material investment, dan mental investment (Yudi Latif, 2014).

Revolusi mental yang digaungkan pemerintahan Presiden Jokowi Widodo bersama Wakil Presiden Yusuf Kalla yang termuat dalam Visi Misi dan Program aksi yang saat itu pula manjadi kandidat pilpres tahun 2014 dan membawa keduanya menjabat terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-7.

Seiring hal tersebut juga revolusi mental menjadi gerakan nasional. Revolusi mental ala Jokowi bukanlah hal baru lagi, hal senada telah pernah digaungkan oleh Bung Karno di pertengahan tahun 1950-an tepatnya tahun 1957.

Menurut Yudi Latif (2014) bahwa inti revolusi mental adalah perubahan mendasar dalam struktur mental manusia Indonesia melalui proses nation dan character building.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co