,

Indonesia Rawan Bencana dan Potret Mitigasi Bencana

Hasriati,S.Pi

Penulis : Hasriati, S.Pi (Statistisi BPS Kabupaten Konawe)


Duka menyelimuti negeri seakan tiada henti.  Pandemi Covid19, belum saja memperlihatkan kasus positif yang melandai. Tragedi jatuhnya  Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu telah menelan korban sebanyak  62 jiwa.  Indonesia pun dihadapkan pada empat bencana besar yang merenggut banyak nyawa manusia.  Bencana tersebut berupa banjir, tanah longsor, gempa dan letusan gunung berapi.  Sudahkah Indonesia meminimal risiko yang dapat ditimbulkan oleh bencana tersebut?

Beberapa wilayah yang diterjang oleh banjir dan tanah longsor, seperti Jawa Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara.  Longsor menyebabkan pemukiman rumah warga tertimbun tanah dan masih menyisakan trauma.  Di Sumedang, longsor setidaknya menewaskan 36 jiwa dan puluhan orang mengalami luka-luka dan ribuan orang mengungsi.  Sementara banjir terparah di Kalimantan Selatan.  Terdapat 10 kabupaten berdampak banjir.  Tercatat sebanyak 27.111 rumah terendam banjir dan 112.709 warga yang mengungsi. Selain itu, terdapat korban meninggal dunia, sebanyak 5 orang di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Selain Bencana Banjir, gempa mengguncang sekitar  Sulawesi Barat, hingga akhir bulan januari masih terus berulang dengan kekuatan lebih kecil.  Gempa yang berkekuatan magnitudo 6,2 pada Jumat (15/01/2020), menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, telah mengakibatkan 56 orang meninggal dunia dan beberapa infrastruktur rusak.  Selain korban jiwa, sedikitnya 1.108 orang luka berat dan ringan.  Diperkirakan ada sekitar 15.000 warga mengungsi ke beberapa kawasan pegunungan di Mamuju. Di wilayah ini pula pernah terjadi gempa yang mengakibatkan tsunami  setinggi 4 meter pada tahun 1969.  Dengan kekuatan yang lebih tinggi yaitu magnitudo 6,9 (Kompas.com, 17 Januari, 2021).

Bencana alam lainnya yang turut mengguncang Indonesia, meletusnya Gunung Semeru, Gunung Sinabung di Sumatera Utara dan Gunung Merapi di Yogyakarta.  Gunung Semeru mengeluarkan awan panas dengan jarak 4,5 km.  Meskipun belum ada keterangan korban jiwa, namun BNPB mengingatkan masyarakat yang bermukim di sekitar Desa Sumber Mujur dan Desa Curah Koboan agar waspasda dalam menghadapi potensi bencana yang ditimbulkan.  Salah satunyanya akan memicu terjadinya banjir lahar dingin.

BACA JUGA :   Hut Ke-39, Satpam Siap Membantu Ciptakan Lingkungan Kondusif

Indonesia Rawan Bencana

Indonesia memang dikenal sebagai negara yang tingkat kerawanan bencananya cukup tinggi. Bahkan Indonesia  dideklarasikan oleh Word Bank sebagai salah satu dari 35 negara di dunia dengan tingkat ancaman bencana tertinggi.   Sepanjang 2020, BNPB mencatat 2.823 kejadian bencana alam terjadi, 401 jiwa meninggal dan hilang, sementara 6,2 juta warga mengungsi dan terdampak bencana alam(CNN Indonesia, 15/12/2020). Menteri Keuangan Sri Muliani  menyebut, kerugian negara akibat bencana alam rata-rata Rp. 22 triliun per tahun, belum termasuk kerugian jiwa tak terhingga nilainya.

Penyebab tingginya kejadian bencana di Indonesia adalah letak geografis.  Posisi Indonesia dikepung oleh tiga lempeng tektonik dunia, yaitu lempeng Indo-Australian, Eurasia dan lempeng Pasifik. Sebagai contoh, bencana tsunami di Aceh tahun 2004 terjadi akibat pergeseran lempeng Eurasia dan Indo-Australian. Tsunami di Aceh juga memporak-porandakan sejumlah wilayah di Asia Tenggara.  Indonesia juga berada pada Pasific Ring Of Fire (cincin api Fasifik), yaitu jalur rangkaian gunung api paling aktif di dunia yang membentang sepanjang lempeng pasifik.  Konsekuensinya,  Indonesia wilayah rawan terhadap ancaman bencana gempa bumi, gelombang tsunami dan  gerakan tanah.

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co