Indonesia Terjajah Dolar, Rupiah Terkapar

Oleh: Wulan Amalia Putri, SST (Staf Dinas Sosial Kab.Kolaka)
Oleh: Wulan Amalia Putri, SST (Staf Dinas Sosial Kab.Kolaka)

Oleh: Wulan Amalia Putri, SST

(Staf Dinas Sosial Kab.Kolaka)

Gegap gempita ASEAN GAMES telah menutupi kisruhnya ekonomi Indonesia. Bloomberg melaporkan bahwa nilai tukar rupiah masih berada di level Rp. 14.900 per 1 dolar AS. Kemudian di pagi hari per tanggal 5 September 2018  pukul 09. 15, rupiah di pasar merosot turun ke harga Rp. 14.962 per 1 Dollar AS.

Menghadapi situasi ini, Presiden Jokowidodo mengungkapkan bahwa pemerintah akan terus melakukan koordinasi fiskal dan moneter untuk menstabilkan nilai rupiah terhadap dolar. Stabilisasi tersebut akan dilakukan dengan dua cara yakni meningkatkan investasi dan kuantitas ekspor. Langkah rincinya berupa penerapan B-20 yang dapat mengurangi impor minyak dan dapat menghemat US$ 5 – 6 miliardan penguatan muatan lokal (TKDN) di proyek-proyek pemerintah yang juga bisa menghemat sebesar  US$ 2-3 miliar.

Kapitalisme Akar Rupiah Melemah

Menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar bukan suatu hal yang baru terjadi. Namun, rendahnya nilai rupiah di tahun 2018 ini telah menyentuh titik kritis bahkan titik paling rendah.Bima Yudhistira, ekonom Institut for Development of Economis and Finance (Indef), menilai bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar ini sudah di luar fundamental rupiah. Sejumlah pihak bahkan menilai bahwa penurunan ini merupakan posisi terendah rupiah terhadap dolar sejak Juli 1998, pasca krisis moneter.

Turunnya nilai rupiah terhadap dolar akan beresiko bagi para pengusaha dan terutama pemerintah, terutama dalam rasio pembayaran utang yang telah jatuh Tempo. Menurut kajian ekonom, jika melihat pada jadwal jatuh Tempo utang, maka di 2018 pemerintah harus membayar utang jatuh Tempo senilai USD 9,1 miliar yang dibagi dalam USD 5,2 miliar pokok dan USD 3,8 miliar bunga. Dengan menggunakan kurs 13.400 seperti yang tertuang dalam APBN, pemerintah memiliki kewajiban pembayaran sebesar Rp. 121, 9 Triliun. Namun dengan kurs 14.700 maka beban pembayarannya menjadi Rp. 133,7 Triliun.  kalau tidak dikendalikan (rupiah) selisih pembengkakan akibat selisih kurs sebesar Rp 11,8 triliun. Uang Rp 11,8 triliun setara 20 persen dari alokasi dana desa. Seharusnya bisa dibuat belanja produktif tapi malah habis untuk bayar selisih kurs. Itu kerugian bagi APBN,” tegas Bima. (Liputan6.com, 01/09/18)

BACA JUGA :   Freeport Tak Terkendali, Negara Butuh Nyali

Dengan kerugian APBN tersebut tentu saja akan berdampak bagi masyarakat dalam bentuk semakin mahalnya harga komoditas bahan pokok dan semakin tingginya beban pajak. Dengan adanya situasi seperti ini, sangat tampak bahwa Indonesia semakin Terjajah terhadap dolar. Sebab kenyataannya, dolar-lah yang mengatur kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk segala perhitungan sumber daya alam Indonesia yang saat ini banyak dikuasai asing. Kita tentu tidak lupa bahwa dalam Sistem kapitalisme sekular dimana uang (harga) adalah satu-satunya unsur yang mengendalikan terdistribusinya harta pada individu masyarakat. Artinya, uanglah yang menjadi standardisasi seseorang bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papannya atau tidak.

Setidaknya terdapat 3 (tiga) dampak praktis dari terkaparnya rupiah menurut ekonom Indef, Bima Yudhistira, yakni semakin tingginya aliran modal asing, melemahnya daya saing produk ekspor Indonesia dan penyesuaian harga BBM karena sensitifnya harga minyak terhadap dolar. Dengan demikian telah nyata bahwa dolar sangat berpengaruh bagi harga-harga komoditas dalam negeri, sebab naiknya dolar akan mempengaruhi naiknya harga barang.

Saling mendominasi antara mata uang sudah menjadi bentuk penjajahan gaya baru. Terdapat istilah “dollar trap” atau jebakan dolar yang bisa mengindikasikan penjajahan non fisik terhadap negara melalui mata uang. Diketahui bersama bahwa sistem ekonomi nasional mengandalkan mata uang asing sebagai alat tukar. Dan mata uang asing yang dianggap paling kuat di dunia adalah mata uang Amerika Serikat, yaitu Dolar. Bahkan cadangan devisa sebuah negara diukur nilai dengan dolar, demikian pula standar kemiskinan, rasio cadangan energi, laju ekspor impor, dan juga utang negara. Hal ini menjadikan rupiah tak berdaya atas keperkasaan dolar. Karena itu, ketahanan sebuah negara pun akan terancam jika dolar menguasai ekonomi negara tersebut, termasuk Indonesia.

BACA JUGA :   BPJS Naik Lagi, Bukti Pemerintah Ingkar Janji

Mata UangAnti Krisis

Saat rupiah Terkapar terhadap dolar, umat Islam lupa betapa perkasanya mata uang yang Islam miliki, yakni Dinar (Emas) dan Dirham (Perak). Tidak seperti uang kertas dengan kelemahan fundamentalnya,  Dinar dan dirham memiliki berbagai keunggulan yang dapat menciptakan iklim ekonomi yang stabil.

Keunggulan Dinar dan dirham dibandingkan uang kertas (fiat money) dapat dilihat dari beberapa hal. Pertama, inflasi ditekan ke level rendah dan terkendali. Pencetakan ataupun penambahan Dinar dan dirham didasarkan pada sedikit banyaknya cadangan emas dan perak negara. Sehingga pasokan uang suatu negara tidak dapat dipasok sesuka hati. Akibatnya, suplay uang di pasaran akan terkendali dan hal ini menekan kemungkinan terjadinya inflasi. Sebagaimana yang telah dikaji oleh Jastram (1980), seorang profesor dari University of california. Jastram mengungkapkan bahwa laju inflasi pada standar emas ( gold standar) paling rendah dari seluruh rezim moneter yang ada, termasuk pada rezim mata uang kertas (fiat money). Terbukti dari tahun 1560 – 1914, index harga (price index) tetap konstan, tidak mengalami inflasi dan deflasi. Demikian pula AS di kurun waktu1930 yang sama dengan tingkat harga di tahun 1800’an.Kedua, nilai tukar mata uang antar negara relatif stabil. Hal ini disebabkan karena uang distandarkan pada emas yang nilainya sama di semua negara. Dengan demikian, emas dan perak tidak dapat dijarah oleh negara lain. Emas dan perak suatu negara akan tetap ada di negara tersebut dan terpelihara. Sehingga penjajahan suatu negara oleh negara lain karena motif kekayaan emas dan perak tidak terjadi. Ketiga, emas dan dirham adalah mata uang yang mandiri. Nilai emas dan perak tidak dapat didevaluasi oleh peraturan atau keputusan politis lainnya. Sebab, emas memiliki standar nilai yang universal. Keberadaannya pun langka (scare) dan terbatas (limited) sehingga penggunaannya pun akan sangat hati-hati. Keempat, dinar dan dirham memiliki nilai instrinsik (bahan baku) yang sama dengan nilai ekstrinsik (harga) emasnya. Sehingga, meskipun emas telah dilebur menjadi model apapun, nilainya akan tetap tinggi.

BACA JUGA :   Syariah Islam Memuliakan Wanita

Islam dengan kesempurnaanya telah menggunakan mata uang Dinar dan dirham dalam sistem ekonominya. Cukup beralasan sebab dalam Islam posisi Dinar dan dirham sangatlah mulia. Pertama, Islam melarang penimbunan harta. Dan melalui Al Qur’an Q.S at Taubah: 34, Allah melarang penimbunan harta untuk emas dan perak. Kedua, hukum Islam berkaitan dengan Emas dan perak. Misalnya dalam kasus diyat,  pencurian dan zakat. Rasul saw. bersabda, “Di dalam (pembunuhan) jiwa itu terdapat diyat berupa 100 unta dan terhadap pemilik emas (ada kewajiban) sebanyak 1.000 dinar.” (HR an-Nasa’i dan Amru bin Hazam). Dan beliau juga bersabda, “Tangan itu wajib dipotong, (jika mencuri) 1/4 dinar atau lebih.” (HR al-Bukhari, dari Aisyah ra.). Kemudian Allah juga menetapkan nishab zakat berdasarkan Dinar dan dirham yakni 20 Dinar atau 20 mitsqal  untuk Zakat emas.

Keempat, Rasulullah telah menetapkan emas dan.perak sebagai mata uang dan pertukaran mata uang (money changer). Nabi saw. bersabda, “Emas dengan mata uang (bisa terjadi) riba, kecuali secara tunai.” (HR al-Bukhari).

Sejumlah alasan di atas menjadi alasan yang sangat kuat bagi masyarakat dan pemerintah untuk mengembalikan kehormatan Dinar dan dirham mata uang dunia, mata uang universal. Demikianlah Islam dengan segala sistemnya mampu membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik, sejahtera, mandiri dan tak Terjajah. Karena itu, kita semua membutuhkan Islam sebagai pengatur hidup kita. Saatnya mengembalikan Islam dalam seluruh sendi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Wallahu a’lam Bishawwab (***).

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co