Islam Akhiri Benang Kusut Kebohongan

DetikNews, Jakarta – Ratna Sarumpaet akhirnya mengaku berbohong soal penganiayaan yang dialaminya. Saat berbicara, Ratna tidak sanggup menahan tangis. Ratna mengatakan dia ke dokter bedah plastik pada 21 September 2018 untuk menjalani sedot lemak. Namun, saat ditanya oleh anaknya, dia mengaku dianiaya. Pada akhirnya, cerita itu bergulir hingga ke publik dan ke capres Prabowo Subianto yang membelanya.

“Saya tidak sanggup melihat Pak Prabowo membela saya dalam jumpa pers. Saya salat malam tadi, berulang kali dan tadi pagi saya mengatakan pada diri saya, ‘stop’,” kata Ratna dalam jumpa pers di Jl. Kampung Melayu Kecil V/24, Bukit Duri, Jakarta Selatan, Rabu (3/10/2018).

Ratna lalu meminta maaf kepada anaknya, juga ke Prabowo dan Amien Rais. Seperti diketahui, kemarin Prabowo sempat melakukan jumpa pers soal Ratna Sarumpaet.

“Saya dengan sangat memohon maaf kepada Pak Prabowo yang kemarin dengan tulus membela saya, membela kebohongan yang saya buat,” ucapnya.

Ratna tidak kuasa menahan tangis. Sambil menangis, dia minta maaf kepada semua pihak.

“Saya meminta maaf kepada semua pihak yang selama ini mungkin dengan suara keras saya kritik dan berbalik ke saya. Kali ini saya pencipta hoax,” ujar Ratna.

Kapitalisme Akar Masalahnya

Berbagai upaya telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun perseorangan masyarakat. Pemerintah  telah membentuk Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) yang bertugas melindungi kegiatan siber secara nasional.

Pemerintah juga menerbitkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang mengatur soal penyebaran informasi dan pemberian sanksi pidana penjara enam tahun dan denda Rp.1 miliar kepada siapa saja yang menyebarkan berita hoax walaupun hanya sekedar menyebarkan (forward). Perseorangan masyarakat juga berupaya membentuk komunitas anti hoax yang telah meluncurkan aplikasi turn back hoax.

BACA JUGA :   Utang, Solusi Andalan Rezim Kapitalis?

Namun upaya ini belum membuahkan hasil maksimal, mengingat begitu banyaknya pengguna medsos dibandingkan jumlah SDM dan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengawasi pengguna sosmed yang jumlahnya mencapai 132 juta pada tahun 2016 (kompas.com).

Kalau kita mau merenung dan jujur mengakui,  akar permasalahannya adalah sistem demokrasi-kapitalisme yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat kita. Sistem ini begitu menjunjung tinggi kebebasan, termasuk kebebasan berpendapat.

Dengan dibukanya kran kebebasan berpendapat dalam sistem demokrasi, orang bebas menyebarkan informasi apa saja. Dengan ditinggalkannya konsep halal dan haram, orang akan melakukan apa pun untuk bisa meraih keuntungan sebesar mungkin dengan modal sekecil-kecilnya, termasuk dengan menyebarkan berita hoax.

Bahaya Berbohong Dalam Islam

Berdusta atau berbohong salah satu sifat yang sangat buruk dan dicela dalam pandangan syariat, akal dan fitrah yang lurus. Allah telah mengharamkannya dalam semua risalah samawiyah. Allah juga mencela perbuatan dusta dan para pelakunya dalam banyak ayat. Mereka diancam dengan siksa yang sangat berat. Allah SWT berfirman, Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. Al-A’raf: 33)

Dusta juga menjadi tabiat yang melekat pada diri orang-orang munafik dan menjadi salah satu ciri mereka yang paling menonjol. Ini sesuai dengan firman Allah, “Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1)

Rasulullah Saw menjelaskan bahwa berlaku jujur adalah jalan menuju surga, sebaliknya berdusta merupakan  jalan yang menghantarkan kepada neraka. Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada perbuatan baik, dan perbuatan baik menunjukkan kepada surga, dan sesungguhnya seseorang yang membiasakan jujur ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang yang biasa berdusta ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Muttafaq ‘Alaih)

BACA JUGA :   ROUTA MASIH TERISOLIR, APA TANGGAPAN DEWAN?

Oleh karenanya, wajar  sekali jika perbuatan dusta diancam dengan siksa yang sangat mengerikan. Maka benar sabda Nabi Saw,  bahwa yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka adalah hasil kerja lisannya. (HR. al-Tirmidzi)

Dalam ajaran islam, seorang muslim diperintahkan untuk tabayyun atau meneliti kebenaran sebuah berita sebelum mempercayai apalagi menyebarkannya, yang bisa menjerumuskannya dalam fitnah. Sehingga dibutuhkan ketaqwaan tinggi bagi tiap – tiap individu di negeri ini untuk bisa melawan hoax. Karena individu yang bertaqwa, dia akan terus berusaha mengamalkan apa yang diperintahkan Allah SWT.

Namun ketaqwaan individu saja tidaklah cukup membendung arus berita hoax, kontrol masyarakat juga diperlukan sebagai upaya amar ma’ruf nahi mungkar. Demikian pula negara, harus mengganti sistem kapitalis sekuler, yang kita yakini menjadi awal bebasnya manusia melakukan banyak hal tanpa peduli halal dan haramnya. Maka, saatnya kita mengakhiri benang kusut kebohongan ini dengan kembali pada penerapan Islam secara menyeluruh. Wallahu A’lam. (***)

Oleh : Risnawati, STP

(Penulis Buku Jurus Jitu Marketing Dakwah)

 

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co