,

Islam Merajut Ukhwah Dalam Khilafah

Penulis : Lia Amalia

(Anggota Smart With Islam Kolaka)

 

Hidayatullah.com Adil Abduqadir, seorang etnis Uighur yang tinggal di pengasingan, meninggalkan rumahnya di Prefektur Hotan (di China, Hetian), di Daerah Otonomi Xinjiang Uighur (XUAR), ke Turki bersama istrinya pada Maret tahun lalu untuk menghindari aborsi paksa karena dia hamil dengan anak kelima mereka, yang melanggar “kebijakan keluarga berencana” di negara itu.

Sebulan kemudian, pihak berwenang di Xuar mulai memenjarakan dan menahan Muslim Uighur yang dituduh menyembunyikan “keagamaan yang kuat” dan “secara politis tidak benar” dalam “kamp pendidikan ulang” di seluruh wilayah, di mana anggota kelompok etnis telah lama mengeluhkan diskriminasi tanpa henti, penindasan agama, dan penindasan budaya di bawah kekuasaan China.

Ketika Abduqadir mengetahui kebijakan baru di Xuar, dia memilih untuk tidak pulang ke rumah, di mana dia dan istrinya kemungkinan akan menghadapi penganiayaan dan penangkapan.

Muslim Uigur adalah adalah etnis minoritas di China,yang menjadi sorotan  dunia pasalnya pemerintah China di kabarkan menahan 1 juta lebih suku tersebut di kamp penahanan,mereka di paksa belajar bahasa  mandarin,memaksa muslim untuk memakan babi dan meminum alkohol dan diarahkan untuk mengecam bahkan  meninggalkan keyakinan mereka dan menyanyikan lagu-lagu partai komunis.

Tak hanya itu umat Islam dipaksa menyerahkan barang-barang yang bernuansa agama seperti,sajadah, mushaf dan simbol-simbol agama lainnya. Anak-anak muslim di larang terlibat dalam kegiatan keagamaan,melarang memberi nama bayi dengan nama-nama Islami dengan mengancam tidak akan mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan.

Wanita-wanita di tiap harinya disiksa,dipukuli bahkan diperkosa, dan ketika mereka melakukan perlawanan dan tidak menuruti perintah maka mereka diancam untuk di bunuh.

Bukan hanya kali ini kita mendengar berita pembantaian terhadap  umat Islam, sebagaimana pembantaian yang dialami umat Islam di seluruh dunia seperti Gaza, Muslim Rohingya,Yaman, Suriah dan masih banyak lagi dan penguasa-penguasa  muslim saat ini hanya diam membisu, padahal harusnya negeri-negeri kaum muslim bersatu, bersifat keras dan tegas  terhadap negera yang menindas umat Islam.

BACA JUGA :   Cara Islam Mengatasi Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

 

Nasionalisme melemahkan umat Islam

Diamnya negeri-negeri muslim hari ini di karenakan ikatan nasionalisme yang diemban oleh kaum muslim, yang menghilangkan kepedulian umat sehingga muslim menjadi lemah. Negeri-negeri islam menjadi santapan empuk bangsa-bangsa imperialis, mereka mengahadapi masalah hanya dengan sendiri-sendiri. Kesadaran bahwa umat Islam adalah satu tubuh pun telah luntur, padahal jika di lihat jumlah umat Islam yang paling banyak di dunia.

Ikatan nasionalisme yang telah menyebabkan berbagai kezdaliman di dunia, Palestina yang terus dinistakan oleh zionis Israel, kelaparan di Yaman, pembantaian muslim Rohingya dan baru-baru ini penindasan terhadap muslim Uyghur di China. Di sisi lain, sebagian besar umat Islam pun bahkan tidak peduli lagi karena menganggap urusan dalam negeri lebih penting ketimbang mengurusi negara lain. Nasionalisme jelas-jelas telah gagal  menciptakan pola hubungan yang manusiawi, memecah belah umat manusia, bahkan menutup tren dunia global yang  saling menopang  dan mendukung.

Barat menyadari betul selama umat Islam bersatu dengan ikatan akidah Islam  dan tersemai dalam institusi pemersatu umat, yakni Khilafah Islamiyah maka kaum Muslim tetap kuat, mereka tahu jika Islam bersatu maka Islam tak bisa dikalahkan. Karena itu mereka begitu massif  menyebarkan pemikiran-pemikiran berbisa salah satunya ikatan nasionalisme.

Nasionalisme adalah racun yang akan membawa umat Islam pada jurang perpecahan yang dalam. Islam telah menentang  dan mengharamkan ide nasionalisme  tersebut, bukan hanya karena fakta nasionalisme yang merusak tapi secara dalil, nasionalisme  haram karena bertentangan dengan prinsip persatuan umat yang diwajibkan dalam Islam. Persatuan umat adalah wajib sedangkan perpecahan adalah haram.

Persaudaraan dalam Islam

Allah SWT berfirman: “sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara”.(Al Hujurat : 13).

BACA JUGA :   Islam Menjaga Kemuliaan Wanita

Ayat ini menjelaskan bahwa yang beriman dan orang lain seakidah dengannya adalah saudara. Rasulullah  memberi motivasi akan pentingnya menjaga keutuhan umat dengan menjaga persaudaraan di antara mereka, “sesungguhnya kedudukan seorang mukmin dikalangan orang-orang beriman adalah seperti kepala dari tubuhnya. Ia akan merasa sakit jika badannya sakit”.

Di era Khilafah Abbasiyah ada wanita yang di ganggu oleh tentara Romawi,setelah wanita itu melapor kepada Khalifah, dengan segera khalifah Mu’tasim Billah langsung mengirim  tentara untuk mengepung Romawi yang panjang barisannya dari Romawi sampai ke Baghdad. Di zaman sekarang muslim di lecehkan,disiksa dan dibunuh, dunia hanya diam, bahkan negeri-negeri kaum muslim pun tidak berbuat apa-apa. Inilah bukti bahwa Islam sangat membutuhkan Khilafah.

Secara obyektif dan faktual, umat manusia sangat membutuhkan hadirnya  kembali Khilafah Islamiyah sebagai jawaban atas kehancuran dunia akibat dari ikatan nasionalisme yang masih menjadi anak kandung dari sistem kapitalis-sekuler, yang telah mensekat-sekat negeri-negeri kaum muslim sehingga tak bisa bersatu,yang mangakibatkan umat Islam dijajah, diperlakukan tidak adil, dan di tindas. Dunia kini membutuhkan sebuah sistem global yang mampu menciptakan kesejahteraan, keadilan, dan persaudaraan global.

Oleh karena itu satu-satunya solusi untuk mengatasi semua kezdaliman terhadap umat Islam hari ini adalah dengan menerapkan Islam sebagai aturan kehidupan  yaitu sistem Khilafah Islamiyah yang dapat menyatukan seluruh umat Islam  di bawah satu kekuatan politik dan komando. Wallahu a’lam.(***)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co