Islam: Pemutus Tali Rantai Kekerasan Anak dan Perempuan

Ketgam : gawat-kekerasan-terhadap-perempuan
Ketgam : gawat-kekerasan-terhadap-perempuan

Oleh : Rosmiati, S.Si

OPINI : Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dinilai tinggi di kawasan Sulawesi Tenggara khususnya di daerah Konawe. Hal ini mengundang kepedulian dan perhatian pemerintah setempat agar kasus ini dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan.

Sebab hakikatnya keluarga menjadi tempat yang mampu memberi rasa aman bagi setiap penghuninya. Disanalah tempat berpulang dan bernaung dari lelahnya aktivitas dunia. Dan dari sana pula pilar-pilar negera terbentuk

Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) diharapkan mampu menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui kegiatan sosialisasi-sosialisasi yang dilakukan dengan program unggulannya yang dikenal dengan istilah Three End.

Kesejateraan perempuan dan anak menjadi fokus utama program ini. Program unggulan 3ENDS berisi pesan untuk mengakhiri kekerasan pada perempuan dan anak, menghentikan perdagangan manusia serta mengakhiri kesenjangan ekonomi antara perempuan dan laki-laki.

Maka hal inilah juga yang dilakukan pemerintah konawe untuk mengurangi tingginya angka kasus kekerasan dalam rumah tangga. Melalui program Puspa diharapkan kasus-kasus semacam ini menurun.

Kepala Dinas pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Sulawesi Tenggara, Irianto dalam sambutannya yang berhasil diliput oleh media sultrakini.com (6/10/18) bahwa ada banyak kasus kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak, misalnya kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, penculikan, pornografi dan masih banyak lagi.

Kasus kejahatan pada perempuan dan anak di Konawe jangan dipandang sebelah mata sebab di tahun 2017 konawe memecahkan rekor sebagai daerah dengan angka kekerasan tertinggi untuk wilayah Sultra.

Islam memandang fenomena kasus kekerasaan terhadap anak dan perempuan sesungguhnya sebuah permasalahan yang penyelesainnya butuh tiga komponen besar yang harus saling berkaitan dan berhubungan didalamnya.

Dimana diantara ketiganya tidak dapat diputuskan atau hanya aktif pada satu aspek saja. Peran keluarga, masyarakat dan negara dibutuhkan untuk saling bersinergi, jika masalah ini ingin teratasi.

BACA JUGA :   Berkas Tiga Terduga Koruptor P21

Tak akan ada asap kalau tak ada api. Peribahasa itulah yang harus dipakai dalam penyelesain masalah ini. Sebagaimana kasus yang terjadi di Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan bahwa faktor ekonomi menjadi penyebab mencuatnya konflik ini di keluarga. Faktor ekonomi pun terbawa sebagai dasar awal munculnya permasalahan ini.

Kucing tidak akan meraung dan anarkis dengan berbagai perabotan rumah, kalau dia sedang tidak lapar. Begitu pula manusia ia akan adem ayem kalau kebutuhan hidupnya baik sandang, pangan dan papan terpenuhi. Sungguh begitu laur biasanya kinerja  dan reaksi dari perut yang tak terisi. Membunuh pun ia lakukan demi sesuap nasi.

Gambaran betapa kerasnya hidup dalam sistem kapitalis yang hanya mengedepankan materi dan tolak ukur keberhasilannya berpihak kepada mereka yang memiliki tingkatan ekonomi kelas atas (pemilik modal). Alhasil masyarakat kecil dibawahnya yang nyata-nyata hidup dalam kerterbatasan harus rela menanggung derita.

Maka pemerintah selaku pengatur roda kehidupan bangsa harus mampu menciptakan kesejateraan ini. Melalui penyediaan lapangan kerja dan perbaikan ekonomi. Pemerintah harus berhenti  menetapkan kebijakan-kebijakan yang mendzolimi rakyat. Menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat pribumi serta memberikan upah yang sesuai.

Sebab permasalahan ekonomi akan memberangus apa yang ada disekitarnya termaksud keluarga juga akan menjadi korban.  Hancurnya keluarga juga akan berdampak terhadap kelangusngan hidup bangsa. Karena keluarga menjadi tempat awal bersemainya generasi-generasi penerus roda kehidupan sebuah negara.

Peran masyarakat pun diperlukan dalam hal ini.  faktor penyebab terjadinya kasus kekerasaan terhadap anak salah satu diantaranya karena terknologi. Penggunaan alat teknologi sebagai penyebab maraknya kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak.

Mudahnya untuk mengakses gambar-gambar tak senonoh bahkan video untuk mempraktekannya membuat mulus jalan kehancuran sang anak. Masyarakat sebagai kontrol sosial anak ketika berada diluar rumah.

BACA JUGA :   1,7 Milyar Untuk Pembangunan Lanjutan Masjid Jabal Nur Tirawuta

Bisa saja sang anak telah dididik sebaik mungkin dalam kehidupan keluarga namun tidak menutup kemungkinan ketika sang anak berada diluar rumah dengan kondisi lingkungan yang tidak bersahabat dapat menyeret anak masuk dalam jurang kehancuran.

Maka masyarakat harus mampu mengingatkan dan menciptakan lingkungan yang sebaik mungkin tidak malah menodainya dengan tindakan-tindakan yang bertentangan nilai-nilai agama.

Sayangnya, kehidupan masyarakat  hari ini lebih pada ke-individualisme-an membuat generasi kita kian rusak. “Itu kan suka-suka dia, bukan juga bagian dari keluargaku”. Prinsip inilah yang kemudian ramai ditabani masyarakat dalam menyikapi atau bahkan melihat kelakuan remaja yang jelas bertentangan.

Kondisi masyarakat yang demikian dapat melumpuhkan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh keluarga. Keluarga yang didalamnya terdapat ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya pun harus satu suara dalam hal mendidik anak. Kedua orangtua pun harus paham akan tanggung jawabnya sebagai suami dan isteri.

Suami berposisi sebagai qowwan (pemimpin) dan juga pelindung bagi wanita harus paham bahwa sedikit pun ia tidak boleh menyentuhkan kulitnya di badan sang isteri jika bukan untuk bermakusd mendidiknya. Suami harus paham bahwa menyakitinya adalah dosa besar yang kelak akan ia pertanggung jawabkan.

Isteri pun harus paham dan berbesar hati menerima berapa pun pemberian sang suami. Tidak menggerutu dan berkecil hati jika diberikan rezeki yang kurang. Sebab tidak menutup kemungkinan salah satu penyebab munculnya kasus pemukulan terhadap isteri (perempuan) dikarenakan sang isteri enggan bersyukur bahkan masih saja menuntut lebih. Padahal diluar sana sang suami telah berusaha sekuat tenaga demi untuk mendapatkan rupiah.

Seluruh anggota keluarga pun harus dibekali dengan segudang pemahaman bahwa keluarga sebagai lembaga terdamai dan aman dalam kehidupan. Maka bagaimana pun kondisi dan keadaannya tidak boleh didalamnya diwarnai dengan cekcok tiada akhir. “Rumahku adalah Syurgaku”, itu yang harus diwujudkan dimana ketentraman menyelimuti seluruh anggota didalamnya. Bahkan Islam memuliakan rumah sebagai tempat beristirahat, melepas penat dari kesibukan.

BACA JUGA :   Komodo Diusik Tuai Polemik, Butuh Solusi Sistemik

Rumah sebagai benteng untuk menjaga keluarga dari fitnah duniawi baik batin maupun zahir serta menjadi tempat untuk mensyukuri semua nikmat-nikmat Allah. Namun, ini tidak akan bisa tercapai apabila kehidupan keluarga dibayang-bayangi oleh konflik berkepanjangan akibat masalah ekonomi. Dan lemahnya pemahaman agama.

Oleh karena itu, sosialisasi-sosialisasi dalam forum Puspa saja tidak cukup untuk memberantas kasus ini.  Fenomena kekerasan perempuan dan anak  ini akan selesai apabila ketiga komponen tadi saling terikat dan bersinergi dalam kehidupan. Utamanya negara, ia harus hadir untuk memberikan pemahaman pendidikan yang baik bagi setiap warganya bahwa kekerasan merupakan tindakan yang zalim.

Terlebih lagi jika dilakukan oleh seorang suami kepada isterinya. Selain itu, harus ada sanksi yang tegas serta mampu membuat efek jerah bagi masyarakat. Agar kasus ini tidak terulang lagi. Pemerintah pun harus membuka lapangan kerja agar isu ekonomi tidak lagi muncul sebagai alasan massifnya kasus penganiayaan dalam kehidupan keluarga serta menutup semua ruang yang dianggap berpotensi terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Konten-konten media pun harus diberangus jika dianggap berpotensi. Sayangnya, kinerja demikian ini sangat sulit ditemukan dan diterapkan dalam kondisi zaman yang kapitalis seperti saat ini. Sebab kehancuran berbagai pilar kehidupan menjadi harapannya. Maka penting bagi kita untuk kembali berpikir secara jernih, masih kah kita mempertahankan kondisi ini?.

Wallahu’alam

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
PT Kalosara Media Sultra | Penerbit www.kalosaranews.com merupakan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Tenggara (Sultra) serta tergabung dalam jaringan Siberindo.co